Kata-kata Mutiara
Sebutir padi saat disemai menjadi benih..sesungguhnya adalh wujud dr potensi pengembangan diri utk mencapai karya yg optimal..dalam jangka wkt jauh ke depan.
 
Udara ada dimana2 dan akan menyebar kemana-kemana...Kebenaran itu ibarat udara yang akan selalu dapat menghampiri kita di dunia ini...ditempat terpencil sekalipun...bahkan seandainya pun kita tidak menghendakinya...
 
Kabut setipis apapun mampu menutupi kenyataan yg sesungguhnya dari alam di sekitar kita...begitu juga kita tak kan dapat melihat sebuah keaslian dan kebenaran saat kita belum mampu menyibakkan kabut tersebut dr kebenaran tersebut
 
Untuk menyelamatkan tumbuhan yg sdg sakit...bisa dari pangkal pohon yg berakar ke bawah n membuang batangnya..menyelamatkan batangnya utk di tanam kembali...atau melalui biji buah yg harus disemai dulu...pilihan nya tergantung bgn mana n situasi kerusakan nya ...lembaga2 dan organisasi2 yg ada pun juga begitu
 
Jambu mete adalah tumbuhan unik yang mengajarkan filosofi kesederhanaan, substantif, kualitas dan apa adanya…ia memperlihatkan bijinya apa adanya..namun justru itulah yang nilainya paling tinggi dibandingkan bagian yang lainnya…Kita patut merenungkannya…
 
Ketika alunan suara seruling tanpa kata, atau denting piano yang meliuk liuk syahdu terdengar di telinga kita…ada rasa yang merambat ke hati…apakah rasa sedih, rindu ataupun bahagia…sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan pesuling atau pianisnya…seandainya kita bicara dengan hati maka orang pun menerima pesannya dengan hati…media penyampaian pun menjadi relatif…
 
Jati akan memberikan manfaat yang tinggi tatkala memiliki pokok yang kokoh dengan jaringan yang padat dan tua…anggrek akan memiliki nilai tatkala memunculkan bunga yang indah dan langka…pohon durian akan sangat berharga jika menghasilkan buah yang lezat dan banyak……jadi percayalah…kita akan membuat prestasi dengan cara kita masing-masing di dunia ini…maka jadilah orang yang otentik….
 
Seekor angsa putih terlihat anggun di tengah telaga..meluncur, menari-nari dengan rilek dan indahnya…kalau dicermati, sebenarnya keindahan itu muncul dari kerja keras kayuhan kakinya yang tanpa henti mendayung..mendorong ke kekanan dan kekiri.. Dalam kehidupan kita kesuksesan itu selalu berlandaskan kerja keras..walaupun tidak tampak di permukaan…
 
Sebuah mata air terus memancarkan kebeningan air tanpa henti..lalu mengalirkannya menjadi sebuah sungai kecil…tak pernah berhenti hingga sumbernya kering…seorang yang baik pun seperti itu….terus berbuat kebajikan tanpa henti…sampai tiada lagi yang dapat dilakukannya…tak pernah berpikir apakah ia kan mendapatkan keuntungan dari apa yang diperbuatnya tersebut….
 
Sepotong besi kan berkarat tatkala bersentuhan dengan udara..sementara sebentuk emas tidak kan demikian…diri kita ini ibaratkan sepotong besi atau sebentuk emas sementara udara itu bagaikan lingkungan disekitar kita…sekalipun hidup dalam lingkungan yang td…kebaikan tak kan menimbulkan dampak yang buruk…kalau diri kita ini memiliki karakter yang utama….
 
Lihat selengkapnya..

Links
PAN
Profil Michel
Facebook Michel
Google
Yahoo
Sindikasi
Yang Sedang Online


HASIL REHAT 2010 MLC
Ditulis Oleh Administrator   
Monday, 01 February 2010
Etika dan Sopan Santun dalam Politik
Rabu, 27 Januari 2010

Etika dan sopan santun, itulah kata kunci yang dapat kita kerucutkan dari hasil diskusi yang diselenggarakan oleh Michel Leadership Centre (MLC). Oleh Nurul Falah (mantan anggota DPR Ri) sebagai nara sumber yang mengisi acara ini disampaikannya bahwa hampir separoh dari keseluruhan dinamika yang terjadi di DPR RI dimasanya tidak mencitrakan profesionalitas dan etika demokrasi yang santun dan berwibawa. Yang dirsakannya selama 5 tahun di DPR RI adalah persinggungan kekuasaan yang sering menimbulkan bias-bias misterius tentang idelaitas perjuangan politik.

Sebagai anggota DPR RI dari Partai amanat nasional periode 2004-2009 ia pernah berpindah-pindah komisi, dari komisi kesehatan yang relevan dengan bidang profesinya dipindahkan ke komisi pendidikan yang sangat sedikit dikuasai ruang lingkup kerjanya. Menurut Nara sumber ini, pergantian komisi ini adalah konsekuensi dari keberaniannya mengkritisi program Departemen Kesehatan yang ditengarai banyak terjadi kejanggalan dan ketidakberesan. Sebagai akibat kekritisan ini pulalah yang menyebabkan otoritas partai ketika itu menggeser posisinya dari komisi kesehatan ke komisi pendidikan. Bahkan menurut Nurul Falah, ia sempat dihubungi oleh beberapa oknum yang mengkomplein dirinya agar tidak terlalu kritis terhadap menteri kesehatan, meskipun dimatanya banyak hal-hal yang tidak beres dalam kerja-kerja kepemerintahan.
 
Dari sekelumit cerita singkat Nurul Falah ini, dapat kita sarikan bahwa betapa profesionalitas, kebenaran dan keadilan menjadi kerdil dan tak berarti ketimbang kepentingan politik yang menurutnya anpermisiv dan tidak profesional. Konsekuensi dari ketidak wajaran dinamika politik parlemen seperti ini menurutnya, nyaris menyeret beberapa oknum anggota DPR dalam prilaku bias moral seperti korup, manipulatif dan tindakan-tindakan asusila lainnya akibat arogansi dan keserakahan materi. Oleh Nurul Falah, disarankan kepada para peserta diskusi yang rata-rata merupakan aktivis mudah Jakarta, agar menghindari politik dan kemewehan yang melampaui batas. Sebab tindakan-tindakan seperti itu hanya menyisahkan karakteristik yang buruk di kemudian hari.

Lebih lanjut menurut hasil kajian Nurul Falah, kebaikan sebenarnya bersumber dari tranfer energi dari suatu subyek ke subyek berikutnya, baik secara individu, kelompok dan komunitas sosial yang lebih luas. Suatu individu, kelompok atau komunitas sosial sering menjadi kurang beres prilaku sosialnya diakibatkan tarnsfer energi yang diterima  selama ini bersumber dari energi negativ.

Sebagai contohnya, banyak hasil korupsi dan manipulasi yang disumbangkan atau dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan amal sosial, seperti untuk bencana alam, panti asuhan dan sumbangan untuk kaum dzu’afah lainnya. Akibatnya, hasil pemberian tersebut menjadi energi negativ yang turut mempengaruhi stabilitas temperatur batin bagi yang menerimanya. Hal ini menurut Nurul Falah, bisa kita saksikan pada karakteristik masyarakat, pelajara dan mahasiswa yang akhir-akhir ini cenderung anarkis sebagai akibat dari sumber energi yang negativ yang diterimanya.

Tentang beberapa prilaku tidak etis yang selama ini dipertontonkan oleh anggota DPR RI, terutama dalam kasus mega skandal bank Century, oleh Nurul Falah ditegaskan bahwa semua itu diakibatkan oleh peta konflik kepentingan sudah begitu jauh terserap dalam politik parlemen. Akibatnya hampir semua anggota DPR RI terkooptasi dalam kapling politik kepentingan yang sulit dilerai dan dicairkan.
 
Skandal Century VS Etika dan adab demokrasi
Ditulis Oleh Moh Iclas El Qudsi, M.Si   
Saturday, 23 January 2010
Di tengah giat-gitanya kerja pansus menangani kasus mega skandal Bank Century, ada selintingan yang menarik tentang attetude pansus yang ditengarai menafikan asas keharusan hukum dan frame ketata negaraan, serta kooridor moral yang sama sekali telanjang dari argumentasi dan pertanyaan anggota pansus terhadap para saksi dan ahli.

Menyikapi hal ini, kita seperti disodorkan sebuah pertanyaan njlimet bahwa "antara ayam dan telur, manakah yang lebih dahulu". Hemat saya siapa pun itu, ia tidak punya suatu standar baku moral yang bisa dijadikan penyimpulan bahwa, suatu pertanyaan atau pernyataan tertentu beretika atau tidak. Seperti yang saya kuti dari Anatara News Kamis, 14 Januari 2010, yang memberikatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono prihatin terhadap etika dan perilaku anggota panitia khusus (pansus) hak angket kasus Bank Century.

Jika etika atau attetude memiliki takaran berupa besar atau kecilnya sebuah prilaku tak beretika, maka soalnya adalah manakah yang lebih besar porsinya antara prilaku korup dan atau yang berperan dalam melanggengkan sebuah tindakan koruptif. Ini soal yang mesti di jawab oleh pihak yang telah mengintrodusir persoalan etika di tegah-tengah kerja keras pansus untuk membongkar biang kerok mega skandal Century.

Kalaupun ada sejumlah tindak-tanduk yang disrespectful, seperti Ruhut Sitompul misalnya, maka hal ini tidak perlu dibaca dengan logika mutlak-general bahwa ia mewakili otoritas parlemen. Lakon Ruhut Sitompul adalah sebuah tanda (signal) representasi kelompok politik yang tergolong berkeinginan mericuhkan jalannya investigasi pansus. Sebab setiap stetmen yang dilontarkan selalu tidak memiliki kesalingkaitan dengan kasus Skandal Century.

Hemat saya, tidak semua hal bisa dimutlakkan dalam persidangan di Pansus, sebab ulah dan idapan penyakit temporarily amnesia sering menjadi penyakit yang menggemaskan oleh anggota Pansus, ditambah lagi dengan bertele dan berbelit-belitnya jawaban pun terkesan ikut membungkam sejumlah fakta hukum yang seharusnya diberikan kepada Pansus dalam kesaksian.

Kalaupun ada sedikit reaksi keras yang nampak dari pertanyaan berupa intonasi suara dan pemotongan pembicara, saya kira semua itu menjadi bagian yang dinamis saja dalam sebuah persidangan. Mempersoalkan etika disaat musim kemarau etika dan moral, sama halnya mengarahkan jari telunjuk ke depan tapi keempat jari lainnya berbalik menunjukkan kediri sendiri menyoalkan siapakah yang semestinya paling tidak bertetika? anda yang menjawabnya..  

 

 
 
Permisfisme Tindakan Kekerasan
Ditulis Oleh Mohammad Ichlas El Qudsi, M.Si   
Saturday, 16 January 2010
Beberaa bulan lalu, seorang anak kecil ditemukan terpotong-potong tubuhnya di pinggir Kanal Timur Bantaran Kali Ciliwung, anak ini dimutilasi tanpa kepala yang ditemukan oleh warga sekitar. Setelah diinvestigasi, ternyata Baikuni alias Babe (49) ini telah menghabiskan nyawa tuju (7) orang anak jalanan sejak tahun 1997. Sentak tentu kita terhenyak, menyaksikan betapa murahnya nasib seorang anak, betapa luasnya ruang sebuah tindak kejahatan. Mungkin Bahekuni alias Babe adalah adalah satu diantara sekian kekerasan yang nampak, selebihnya masih terbenam dalam kelemahan investigasi dan sensitifitas aparat.

Tentu kita masih ingat bahwa kejadian serupa pernah dilakukan oleh Rian, Pria Gay berasal dari Jombang Jawa Timur  yang juga memutilasi beberapa pasangan seksnya. Rentetan kejadian sejenis ini seolah menampar kesadaran dan sensitifitas kita, bahwa mengapa masyarakat seolah begitu permisif "terhadap sebuah tindakan kekerasan"? Dahulu kita pernah mengira bahwa kekerasan (kriminalitas) hanya berlaku disuatu locus sosial tertentu saja, seperti perampok, pemalak, maling, bandit, preman dan seterusnya. Namun kali ini kekerasan (kriminalitas) bak penyakit menular yang setiap saat menjangkiti siapapun.

Kejahatan tidak lagi mengenal pembatasan terminologi. Siapa yang mengira pria selembut Bahekuni (Babe) yang selalu menaruh perhatian dan mengayomi anak-anak jalanan, seketika bisa bringas dan sebuas itu akibat libido? Siapa yang mengira seorang kiayi bisa menghamili santriwatinya? Siapa yang mengira Polisi Syari'ah di Aceh bisa menggiliri seorang wanita? Semua peristiwa-peristiwa kekerasan ini tak terkirakan dalam kesadaran profan kita. Selama ini mungkin kita terpaku pada suatu doktrin sosial bahwa kekerasan atau kejahatan (kriminal), hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja yang memang dalam pandangan sosial mereka digolongkan oleh kelompok yang suka melakukan kekerasan atau dalam sitilah masyarakat budha disebut dengan Anottappa, yang berarti tidak ada rasa takut akan akibat dari perbuatan jahat dan nekat untuk melakukan perbuatan jahatm setiap saat.

Tindakan kekerasan seperti mutilasi yang beberapa waktu terakhir ini marak terjadi di Indonesia, jika ditelusuri secara historical research maka pernah terjadi pada bangsa dan suku-suku terdahulu. Seperti mutilasi misalnya, tindakan kejahatan ini merupakan sebuah budaya yang pada dasranya telah terjadi selama ratusan tahun bahkan ribuan tahun.

Banyak suku-suku di dunia yang telah melakukan budaya mutilasi diamana perbuatan tersebut merupakan suatu identitas mereka terhadap dunia, seperti suku aborigin, suku-suku brazil, amerika, meksiko, peru dan suku conibos. Pada umumnya mutilasi ini dilakukan terhadap kaum perempuan dimana tujuannya adalah untuk menjaga keperawanan mereka, yang sering disebut dengan Female Genital Mutilation (FGM). FGM merupakan prosedur termasuk pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari organ genital perempuan yang paling sensitif.

Jika kita resapi dari aspek sejarah ini, maka wajar saja hal ini terjadi, karena kala itu akal dan budi-pekerti manusia masih berkembang dalam taraf-tarafnya yang sederhana. namun saat ini, menjadi suatu hal yang tidak wajar, bila seiring dengan maju pesatnya ilmu pengetahuan serta berkembangnnya akal, dan budi-pekerti manusia, justru membuatnya semakin buas dan garang dalam melakukan suatu tindakan kekerasan, atau masyarakat justru semakin permisif terhadap sebuah perilaku kekerasan. Kekerasan mulai dianggap sebagai suatu pembiasaan yang hanya akan berakhir dibalik terali besi.

Yang paling kita kuatirkan adalah, karena seringnya mutilasi ini terjadi dan dengan alsan yang sama, maka bisa saja masyarakat kemudian berkesimpulan bahwa identifikasi genital yang demikian cenderung melakukan suatu tindakan kekerasan atau sejenisnya. Akhirnya kekerasan semisal mutilasi bisa terjadi atas dasar asumsi identifikasi genital tertentu pada sekelompok orang hanya karena semakin permisifnya sebuah tindakan kekerasan.
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 4 dari 6


 

Salam MLCKegiatanReportaseSeputar KepemimpinanKata MutiaraDialogProfile

Copyright © 2008 Michel El Qudsi Leadership Centre (MLC). All Rights Reserved.
Design by Situsmurah.com.
Untuk tampilan terbaik gunakan Firefox 3