|
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Saturday, 27 February 2010 |
|
Hasil Rehat MLC (Rabu 24/01/2010) Ada Neolib di Skandal Century Selain meraup uang negara sebesar 6,7 T, ditengarai sakndal Century juga menyimpan sejumlah misteri keterlibatan dan intervensi Neolib yang kapitalistik itu. Kalimat-kalimat inilah yang pertama keluar dari statemen Hari Rusli Moti, nara sumber yang dihadirkan dalam diskusi bulanan Michel El Qudsi Leadership Centre. Menurut Haris, praktek intervensi negara terhadap pasar uang ini merupakan gejala kapitalisme yang semakin menunjukkan kekaburan mainstream ideologinya. Karena sejatinya, prinsip-prinsip kapitalisme meniscayakan pemisahakan secara ekstrim antara pasar dan negara, sebab keajaiban mekanisme pasar (invisible hand) diyakini mampu meminimalisir ketimpngan ekonomi pasar di suatu negara. Sehingga menurut Haris, dalam kekaburan ideology itu, bangsa Indonesia harus kembali pada kesejatian nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana yang telah diletakkan sebagai dasar kebangunan bangsa oleh para founding fathers. Jalan pintas menuju perubahan vundamental bangsa menurut Moti adalah melakukan Cut Generation, pemutusan satu generasi, agar generasi tua yang sudah dirasuki prinsip dan faham-faham neolib dipensiunkan. Kita ganti dengan visi pemimpin muda yang lebih progress. Lebih tegas lagi dikatakannya, jika bangsa ini mau pulih dan mau bangkit sebagai sebuah negara yang normal, maka kita harus me-restart-nya dari nol, sebab jika diibaratkan dengan sebuah micro processor, negeri kita ini sudah eror dan mengalami kelumpuhan sistemik akibat para pemimpinnya gagal membangun impian dan cita-cita negara yang berkeadilan. Krisis dan Skandal Century menurut Moti hanyalah satu diantara sekian skandal yang bakal melanda bangsa ini, jika para pemimin di negeri ini belum insaf dan mengembalikan negeri ini pada cita-cita awalnya, sebagaimana yang telah diletakkan oleh para pejuang terdahulu. Satu-satunya cara adalah kembalikan negeri ini pada cita-cita dan amanah Pancasila dan UUD 1945.
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Monday, 01 February 2010 |
Etika dan Sopan Santun dalam Politik Rabu, 27 Januari 2010 Etika dan sopan santun, itulah kata kunci yang dapat kita kerucutkan dari hasil diskusi yang diselenggarakan oleh Michel Leadership Centre (MLC). Oleh Nurul Falah (mantan anggota DPR Ri) sebagai nara sumber yang mengisi acara ini disampaikannya bahwa hampir separoh dari keseluruhan dinamika yang terjadi di DPR RI dimasanya tidak mencitrakan profesionalitas dan etika demokrasi yang santun dan berwibawa. Yang dirsakannya selama 5 tahun di DPR RI adalah persinggungan kekuasaan yang sering menimbulkan bias-bias misterius tentang idelaitas perjuangan politik.
Sebagai anggota DPR RI dari Partai amanat nasional periode 2004-2009 ia pernah berpindah-pindah komisi, dari komisi kesehatan yang relevan dengan bidang profesinya dipindahkan ke komisi pendidikan yang sangat sedikit dikuasai ruang lingkup kerjanya. Menurut Nara sumber ini, pergantian komisi ini adalah konsekuensi dari keberaniannya mengkritisi program Departemen Kesehatan yang ditengarai banyak terjadi kejanggalan dan ketidakberesan. Sebagai akibat kekritisan ini pulalah yang menyebabkan otoritas partai ketika itu menggeser posisinya dari komisi kesehatan ke komisi pendidikan. Bahkan menurut Nurul Falah, ia sempat dihubungi oleh beberapa oknum yang mengkomplein dirinya agar tidak terlalu kritis terhadap menteri kesehatan, meskipun dimatanya banyak hal-hal yang tidak beres dalam kerja-kerja kepemerintahan. Dari sekelumit cerita singkat Nurul Falah ini, dapat kita sarikan bahwa betapa profesionalitas, kebenaran dan keadilan menjadi kerdil dan tak berarti ketimbang kepentingan politik yang menurutnya anpermisiv dan tidak profesional. Konsekuensi dari ketidak wajaran dinamika politik parlemen seperti ini menurutnya, nyaris menyeret beberapa oknum anggota DPR dalam prilaku bias moral seperti korup, manipulatif dan tindakan-tindakan asusila lainnya akibat arogansi dan keserakahan materi. Oleh Nurul Falah, disarankan kepada para peserta diskusi yang rata-rata merupakan aktivis mudah Jakarta, agar menghindari politik dan kemewehan yang melampaui batas. Sebab tindakan-tindakan seperti itu hanya menyisahkan karakteristik yang buruk di kemudian hari.
Lebih lanjut menurut hasil kajian Nurul Falah, kebaikan sebenarnya bersumber dari tranfer energi dari suatu subyek ke subyek berikutnya, baik secara individu, kelompok dan komunitas sosial yang lebih luas. Suatu individu, kelompok atau komunitas sosial sering menjadi kurang beres prilaku sosialnya diakibatkan tarnsfer energi yang diterima selama ini bersumber dari energi negativ.
Sebagai contohnya, banyak hasil korupsi dan manipulasi yang disumbangkan atau dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan amal sosial, seperti untuk bencana alam, panti asuhan dan sumbangan untuk kaum dzu’afah lainnya. Akibatnya, hasil pemberian tersebut menjadi energi negativ yang turut mempengaruhi stabilitas temperatur batin bagi yang menerimanya. Hal ini menurut Nurul Falah, bisa kita saksikan pada karakteristik masyarakat, pelajara dan mahasiswa yang akhir-akhir ini cenderung anarkis sebagai akibat dari sumber energi yang negativ yang diterimanya.
Tentang beberapa prilaku tidak etis yang selama ini dipertontonkan oleh anggota DPR RI, terutama dalam kasus mega skandal bank Century, oleh Nurul Falah ditegaskan bahwa semua itu diakibatkan oleh peta konflik kepentingan sudah begitu jauh terserap dalam politik parlemen. Akibatnya hampir semua anggota DPR RI terkooptasi dalam kapling politik kepentingan yang sulit dilerai dan dicairkan. |
|
|
Ditulis Oleh Moh Iclas El Qudsi, M.Si
|
|
Saturday, 23 January 2010 |
Di tengah giat-gitanya kerja pansus menangani kasus mega skandal Bank Century, ada selintingan yang menarik tentang attetude pansus yang ditengarai menafikan asas keharusan hukum dan frame ketata negaraan, serta kooridor moral yang sama sekali telanjang dari argumentasi dan pertanyaan anggota pansus terhadap para saksi dan ahli.
Menyikapi hal ini, kita seperti disodorkan sebuah pertanyaan njlimet bahwa "antara ayam dan telur, manakah yang lebih dahulu". Hemat saya siapa pun itu, ia tidak punya suatu standar baku moral yang bisa dijadikan penyimpulan bahwa, suatu pertanyaan atau pernyataan tertentu beretika atau tidak. Seperti yang saya kuti dari Anatara News Kamis, 14 Januari 2010, yang memberikatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono prihatin terhadap etika dan perilaku anggota panitia khusus (pansus) hak angket kasus Bank Century.
Jika etika atau attetude memiliki takaran berupa besar atau kecilnya sebuah prilaku tak beretika, maka soalnya adalah manakah yang lebih besar porsinya antara prilaku korup dan atau yang berperan dalam melanggengkan sebuah tindakan koruptif. Ini soal yang mesti di jawab oleh pihak yang telah mengintrodusir persoalan etika di tegah-tengah kerja keras pansus untuk membongkar biang kerok mega skandal Century.
Kalaupun ada sejumlah tindak-tanduk yang disrespectful, seperti Ruhut Sitompul misalnya, maka hal ini tidak perlu dibaca dengan logika mutlak-general bahwa ia mewakili otoritas parlemen. Lakon Ruhut Sitompul adalah sebuah tanda (signal) representasi kelompok politik yang tergolong berkeinginan mericuhkan jalannya investigasi pansus. Sebab setiap stetmen yang dilontarkan selalu tidak memiliki kesalingkaitan dengan kasus Skandal Century.
Hemat saya, tidak semua hal bisa dimutlakkan dalam persidangan di Pansus, sebab ulah dan idapan penyakit temporarily amnesia sering menjadi penyakit yang menggemaskan oleh anggota Pansus, ditambah lagi dengan bertele dan berbelit-belitnya jawaban pun terkesan ikut membungkam sejumlah fakta hukum yang seharusnya diberikan kepada Pansus dalam kesaksian.
Kalaupun ada sedikit reaksi keras yang nampak dari pertanyaan berupa intonasi suara dan pemotongan pembicara, saya kira semua itu menjadi bagian yang dinamis saja dalam sebuah persidangan. Mempersoalkan etika disaat musim kemarau etika dan moral, sama halnya mengarahkan jari telunjuk ke depan tapi keempat jari lainnya berbalik menunjukkan kediri sendiri menyoalkan siapakah yang semestinya paling tidak bertetika? anda yang menjawabnya..
|
|
| | << Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
| | Hasil 1 - 4 dari 7 |
|
|