<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rss version="2.0">
	<channel>
		<title>Joomla! powered Site</title>
		<description>Joomla! site syndication</description>
		<link>http://www.michelleadershipcentre.com</link>
		<lastBuildDate>Tue, 09 Mar 2010 23:51:03 +0100</lastBuildDate>
		<generator>FeedCreator 1.7.2</generator>
		<image>
			<url>http://www.michelleadershipcentre.com/images/M_images/joomla_rss.png</url>
			<title>Powered by Joomla!</title>
			<link>http://www.michelleadershipcentre.com</link>
			<description>Joomla! site syndication</description>
		</image>
		<item>
			<title>REHAT MLC</title>
			<link>http://www.michelleadershipcentre.com/content/view/216/</link>
			<description>    Hasil Rehat MLC   (Rabu 24/01/2010)     Ada Neolib di Skandal CenturySelain meraup uang negara sebesar 6,7 T, ditengarai sakndal Century juga menyimpan sejumlah misteri keterlibatan dan intervensi Neolib yang kapitalistik itu. Kalimat-kalimat inilah yang pertama keluar dari statemen Hari Rusli Moti, nara sumber yang dihadirkan dalam diskusi bulanan Michel El Qudsi Leadership Centre. Menurut Haris, praktek intervensi negara terhadap pasar uang ini merupakan gejala kapitalisme yang semakin menunjukkan kekaburan mainstream ideologinya. Karena sejatinya, prinsip-prinsip kapitalisme meniscayakan pemisahakan secara ekstrim antara pasar dan negara, sebab keajaiban mekanisme pasar (invisible hand) diyakini mampu meminimalisir ketimpngan ekonomi pasar di suatu negara. Sehingga menurut Haris, dalam kekaburan ideology itu, bangsa Indonesia harus kembali pada kesejatian nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana yang telah diletakkan sebagai dasar kebangunan bangsa oleh para founding fathers.Jalan pintas menuju perubahan vundamental bangsa menurut Moti adalah melakukan Cut Generation, pemutusan satu generasi, agar generasi tua yang sudah dirasuki prinsip dan faham-faham neolib dipensiunkan. Kita ganti dengan visi pemimpin muda yang lebih progress.   Lebih tegas lagi dikatakannya, jika bangsa ini mau pulih dan mau bangkit sebagai sebuah negara yang normal, maka kita harus me-restart-nya dari nol, sebab jika diibaratkan dengan sebuah micro processor, negeri kita ini sudah eror dan mengalami kelumpuhan sistemik akibat para pemimpinnya gagal membangun impian dan cita-cita negara yang berkeadilan.Krisis dan Skandal Century menurut Moti hanyalah satu diantara sekian skandal yang bakal melanda bangsa ini, jika para pemimin di negeri ini belum insaf dan mengembalikan negeri ini pada cita-cita awalnya, sebagaimana yang telah diletakkan oleh para pejuang terdahulu. Satu-satunya cara adalah kembalikan negeri ini   pada cita-cita dan amanah Pancasila dan UUD 1945.       </description>
			<category>Konten-Konten - Salam MLC</category>
			<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 15:33:58 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>HASIL REHAT 2010  MLC</title>
			<link>http://www.michelleadershipcentre.com/content/view/202/</link>
			<description>Etika dan Sopan Santun dalam PolitikRabu, 27 Januari 2010  Etika dan sopan santun, itulah kata kunci yang dapat kita kerucutkan dari hasil diskusi yang diselenggarakan oleh Michel Leadership Centre (MLC). Oleh Nurul Falah (mantan anggota DPR Ri) sebagai nara sumber yang mengisi acara ini disampaikannya bahwa hampir separoh dari keseluruhan dinamika yang terjadi di DPR RI dimasanya tidak mencitrakan profesionalitas dan etika demokrasi yang santun dan berwibawa. Yang dirsakannya selama 5 tahun di DPR RI adalah persinggungan kekuasaan yang sering menimbulkan bias-bias misterius tentang idelaitas perjuangan politik. Sebagai anggota DPR RI dari Partai amanat nasional periode 2004-2009 ia pernah berpindah-pindah komisi, dari komisi kesehatan yang relevan dengan bidang profesinya dipindahkan ke komisi pendidikan yang sangat sedikit dikuasai ruang lingkup kerjanya. Menurut Nara sumber ini, pergantian komisi ini adalah konsekuensi dari keberaniannya mengkritisi program Departemen Kesehatan yang ditengarai banyak terjadi kejanggalan dan ketidakberesan. Sebagai akibat kekritisan ini pulalah yang menyebabkan otoritas partai ketika itu menggeser posisinya dari komisi kesehatan ke komisi pendidikan. Bahkan menurut Nurul Falah, ia sempat dihubungi oleh beberapa oknum yang mengkomplein dirinya agar tidak terlalu kritis terhadap menteri kesehatan, meskipun dimatanya banyak hal-hal yang tidak beres dalam kerja-kerja kepemerintahan. Dari sekelumit cerita singkat Nurul Falah ini, dapat kita sarikan bahwa betapa profesionalitas, kebenaran dan keadilan menjadi kerdil dan tak berarti ketimbang kepentingan politik yang menurutnya anpermisiv dan tidak profesional. Konsekuensi dari ketidak wajaran dinamika politik parlemen seperti ini menurutnya, nyaris menyeret beberapa oknum anggota DPR dalam prilaku bias moral seperti korup, manipulatif dan tindakan-tindakan asusila lainnya akibat arogansi dan keserakahan materi. Oleh Nurul Falah, disarankan kepada para peserta diskusi yang rata-rata merupakan aktivis mudah Jakarta, agar menghindari politik dan kemewehan yang melampaui batas. Sebab tindakan-tindakan seperti itu hanya menyisahkan karakteristik yang buruk di kemudian hari. Lebih lanjut menurut hasil kajian Nurul Falah, kebaikan sebenarnya bersumber dari tranfer energi dari suatu subyek ke subyek berikutnya, baik secara individu, kelompok dan komunitas sosial yang lebih luas. Suatu individu, kelompok atau komunitas sosial sering menjadi kurang beres prilaku sosialnya diakibatkan tarnsfer energi yang diterima  selama ini bersumber dari energi negativ. Sebagai contohnya, banyak hasil korupsi dan manipulasi yang disumbangkan atau dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan amal sosial, seperti untuk bencana alam, panti asuhan dan sumbangan untuk kaum dzu&amp;rsquo;afah lainnya. Akibatnya, hasil pemberian tersebut menjadi energi negativ yang turut mempengaruhi stabilitas temperatur batin bagi yang menerimanya. Hal ini menurut Nurul Falah, bisa kita saksikan pada karakteristik masyarakat, pelajara dan mahasiswa yang akhir-akhir ini cenderung anarkis sebagai akibat dari sumber energi yang negativ yang diterimanya.Tentang beberapa prilaku tidak etis yang selama ini dipertontonkan oleh anggota DPR RI, terutama dalam kasus mega skandal bank Century, oleh Nurul Falah ditegaskan bahwa semua itu diakibatkan oleh peta konflik kepentingan sudah begitu jauh terserap dalam politik parlemen. Akibatnya hampir semua anggota DPR RI terkooptasi dalam kapling politik kepentingan yang sulit dilerai dan dicairkan. </description>
			<category>Konten-Konten - Salam MLC</category>
			<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 17:12:44 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Skandal Century VS Etika dan adab demokrasi</title>
			<link>http://www.michelleadershipcentre.com/content/view/197/</link>
			<description>Di tengah giat-gitanya kerja pansus menangani kasus mega skandal Bank Century, ada selintingan yang menarik tentang attetude pansus yang ditengarai menafikan asas keharusan hukum dan frame ketata negaraan, serta kooridor moral yang sama sekali telanjang dari argumentasi dan pertanyaan anggota pansus terhadap para saksi dan ahli. Menyikapi hal ini, kita seperti disodorkan sebuah pertanyaan njlimet bahwa  antara ayam dan telur, manakah yang lebih dahulu . Hemat saya siapa pun itu, ia tidak punya suatu standar baku moral yang bisa dijadikan penyimpulan bahwa, suatu pertanyaan atau pernyataan tertentu beretika atau tidak. Seperti yang saya kuti dari Anatara News Kamis, 14 Januari 2010, yang memberikatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono prihatin terhadap etika dan perilaku anggota panitia khusus (pansus) hak angket kasus Bank Century.Jika etika atau attetude memiliki takaran berupa besar atau kecilnya sebuah prilaku tak beretika, maka soalnya adalah manakah yang lebih besar porsinya antara prilaku korup dan atau yang berperan dalam melanggengkan sebuah tindakan koruptif. Ini soal yang mesti di jawab oleh pihak yang telah mengintrodusir persoalan etika di tegah-tengah kerja keras pansus untuk membongkar biang kerok mega skandal Century.Kalaupun ada sejumlah tindak-tanduk yang disrespectful, seperti Ruhut Sitompul misalnya, maka hal ini tidak perlu dibaca dengan logika mutlak-general bahwa ia mewakili otoritas parlemen. Lakon Ruhut Sitompul adalah sebuah tanda (signal) representasi kelompok politik yang tergolong berkeinginan mericuhkan jalannya investigasi pansus. Sebab setiap stetmen yang dilontarkan selalu tidak memiliki kesalingkaitan dengan kasus Skandal Century.Hemat saya, tidak semua hal bisa dimutlakkan dalam persidangan di Pansus, sebab ulah dan idapan penyakit temporarily amnesia sering menjadi penyakit yang menggemaskan oleh anggota Pansus, ditambah lagi dengan bertele dan berbelit-belitnya jawaban pun terkesan ikut membungkam sejumlah fakta hukum yang seharusnya diberikan kepada Pansus dalam kesaksian. Kalaupun ada sedikit reaksi keras yang nampak dari pertanyaan berupa intonasi suara dan pemotongan pembicara, saya kira semua itu menjadi bagian yang dinamis saja dalam sebuah persidangan. Mempersoalkan etika disaat musim kemarau etika dan moral, sama halnya mengarahkan jari telunjuk ke depan tapi keempat jari lainnya berbalik menunjukkan kediri sendiri menyoalkan siapakah yang semestinya paling tidak bertetika? anda yang menjawabnya..     </description>
			<category>Konten-Konten - Salam MLC</category>
			<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 11:07:11 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Permisfisme Tindakan Kekerasan</title>
			<link>http://www.michelleadershipcentre.com/content/view/194/</link>
			<description>Beberaa bulan lalu, seorang anak kecil ditemukan terpotong-potong tubuhnya di pinggir Kanal Timur Bantaran Kali Ciliwung, anak ini dimutilasi tanpa kepala yang ditemukan oleh warga sekitar. Setelah diinvestigasi, ternyata Baikuni alias Babe (49) ini telah menghabiskan nyawa tuju (7) orang anak jalanan sejak tahun 1997. Sentak tentu kita terhenyak, menyaksikan betapa murahnya nasib seorang anak, betapa luasnya ruang sebuah tindak kejahatan. Mungkin Bahekuni alias Babe adalah adalah satu diantara sekian kekerasan yang nampak, selebihnya masih terbenam dalam kelemahan investigasi dan sensitifitas aparat.Tentu kita masih ingat bahwa kejadian serupa pernah dilakukan oleh Rian, Pria Gay berasal dari Jombang Jawa Timur  yang juga memutilasi beberapa pasangan seksnya. Rentetan kejadian sejenis ini seolah menampar kesadaran dan sensitifitas kita, bahwa mengapa masyarakat seolah begitu permisif  terhadap sebuah tindakan kekerasan ? Dahulu kita pernah mengira bahwa kekerasan (kriminalitas) hanya berlaku disuatu locus sosial tertentu saja, seperti perampok, pemalak, maling, bandit, preman dan seterusnya. Namun kali ini kekerasan (kriminalitas) bak penyakit menular yang setiap saat menjangkiti siapapun.Kejahatan tidak lagi mengenal pembatasan terminologi. Siapa yang mengira pria selembut Bahekuni (Babe) yang selalu menaruh perhatian dan mengayomi anak-anak jalanan, seketika bisa bringas dan sebuas itu akibat libido? Siapa yang mengira seorang kiayi bisa menghamili santriwatinya? Siapa yang mengira Polisi Syari&amp;#39;ah di Aceh bisa menggiliri seorang wanita? Semua peristiwa-peristiwa kekerasan ini tak terkirakan dalam kesadaran profan kita. Selama ini mungkin kita terpaku pada suatu doktrin sosial bahwa kekerasan atau kejahatan (kriminal), hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja yang memang dalam pandangan sosial mereka digolongkan oleh kelompok yang suka melakukan kekerasan atau dalam sitilah masyarakat budha disebut dengan Anottappa, yang berarti tidak ada rasa takut akan akibat dari perbuatan jahat dan nekat untuk melakukan perbuatan jahatm setiap saat.Tindakan kekerasan seperti mutilasi yang beberapa waktu terakhir ini marak terjadi di Indonesia, jika ditelusuri secara historical research maka pernah terjadi pada bangsa dan suku-suku terdahulu. Seperti mutilasi misalnya, tindakan kejahatan ini merupakan sebuah budaya yang pada dasranya telah terjadi selama ratusan tahun bahkan ribuan tahun.Banyak suku-suku di dunia yang telah melakukan budaya mutilasi diamana perbuatan tersebut merupakan suatu identitas mereka terhadap dunia, seperti suku aborigin, suku-suku brazil, amerika, meksiko, peru dan suku conibos. Pada umumnya mutilasi ini dilakukan terhadap kaum perempuan dimana tujuannya adalah untuk menjaga keperawanan mereka, yang sering disebut dengan Female Genital Mutilation (FGM). FGM merupakan prosedur termasuk pengangkatan sebagian atau seluruh bagian dari organ genital perempuan yang paling sensitif.Jika kita resapi dari aspek sejarah ini, maka wajar saja hal ini terjadi, karena kala itu akal dan budi-pekerti manusia masih berkembang dalam taraf-tarafnya yang sederhana. namun saat ini, menjadi suatu hal yang tidak wajar, bila seiring dengan maju pesatnya ilmu pengetahuan serta berkembangnnya akal, dan budi-pekerti manusia, justru membuatnya semakin buas dan garang dalam melakukan suatu tindakan kekerasan, atau masyarakat justru semakin permisif terhadap sebuah perilaku kekerasan. Kekerasan mulai dianggap sebagai suatu pembiasaan yang hanya akan berakhir dibalik terali besi.Yang paling kita kuatirkan adalah, karena seringnya mutilasi ini terjadi dan dengan alsan yang sama, maka bisa saja masyarakat kemudian berkesimpulan bahwa identifikasi genital yang demikian cenderung melakukan suatu tindakan kekerasan atau sejenisnya. Akhirnya kekerasan semisal mutilasi bisa terjadi atas dasar asumsi identifikasi genital tertentu pada sekelompok orang hanya karena semakin permisifnya sebuah tindakan kekerasan.</description>
			<category>Konten-Konten - Salam MLC</category>
			<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 13:59:21 +0100</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>TRANS HUMAN, TRANS CULTURAL </title>
			<link>http://www.michelleadershipcentre.com/content/view/185/</link>
			<description>Mungkin istilah ini yang lebih tepat, karena ada dua mementum besar yang baru dan akan kita lewati, yaitu tahun baru Hijriah 1432 H dan 2010 M. Sangat naif, bila dua peralihan waktu ini tidak memiliki efek gerak terhadap sesuatu yang menjadi seharusnya yaitu &amp;ldquo;tema besar perubahan&amp;rdquo;. Bila kita cermati kodrat penciptaan manusia, maka puncak kejadian dan peristiwa baik fisik dan yang non fisik, selalu terbentuk dari hukum-hukum perubahan. Untuk itu, sekali lagi naif, bila esensi perubahan manusia tersebut cenderung sentrifugal dari titik sentral nilai-nilai kemuliaan hidup. Jika dengan gaya perubahan tersebut kita gunakan untuk menakar dinamika kehidupan saat ini, maka yang terjadi adalah sejumlah dinamika dan fokus gerak hidup yang cenderung terdorong oleh nafsu dan keserkahan. Fenomena gagalnya kita membangun negeri ini dengan foundasi moralitas sangat nampak jelas dengan paparan fakta atau kejadian di depan mata. Faktanya korupsi menjamur, kemiskinan merata, penggusuran semakin tidak manusiawi, kebebasan menjadi semakin keblinger, gosip dilegalkan, fitnah diinstitusikan atas nama media dan jurnalisme moderen, bahkan kemanusiaan disektariankan, dibungkus dalam isu hukum yang nominalistik, apalah itu istilahnya, koin keadilan, koin peduli, peduli Luna Maya, semuanya terasa hambar dan sebatas makanan empuk media belaka. Sementara jarak dan kelas sosial semakin jelas pembatasnya, yang kaya bertambah modal, yang korup semakin liar dan yang berkuasa semakin garang dan tidak peduli.Di akhir tahun ini, kita tidak seperti memanen hasil, tapi justru menuai badai dan menakar masalah dari satu kejadian, ke kejadian berikutnya tanpa penyelesaian. Seperti sebuah gerak, maka kita sedang terdistorsi dari titik objek perubahan yang semestinya. Apakah perubahan itu?Perubahan adalah adalah perpindahan titik gerak dari A ke B, C D dan seterusnya, bukan sekedar pembeda posisi, tanda atau nominalitas, tapi justru transposisi kualitas yang bergerak ke depan, seiring dengan dinamika perubahan tersebut. Dengan ini maka dapat dikatakan bahwa perubahan adalah suatu pergeseran atau peralihan titik yang bermakna kualitatif. Sehingga makna perubahan memiliki ruang lingkup pada perubahan sikap dan karakteristik kemanusiaan yang mentransposisikan dirinya dari satu determinasi waktu ke waktu berikutnya yang bermakna dan substansial. Dengan kata lain yang lebih kontekstual, bahwa perubahan adalah suatu peralihan sifat dan budaya tamak serta loba manusia menjadi lebih sederhana, lebih populis, lebih peduli, lebih santun, beretika, menjalankan amanah rakya secara baik dan bertanggung jawab serta lebih adil dari yang sebelumnya. Lalau apakah perubahan seperti ini berlaku dalam diri kita? Pemimpin kita? budaya bernegara kita? Anda yang menjawabnya ! Yang jelas, kita masih sering menyaksikan berbagai tontonan peristiwa dan fakta bahwa masih ada kejanggalan dan keblingeran diakhir tahun ini. Tentu kita tahu dan sadar, apa yang semestinya kita lakukan atas nama perubahan menuju inti sifat-sifat kemanusiaan yang sesungguhnya. Diakhir renungan ini, saya hanya ingin mensinyalir suatu idealitas bahwa : Trans human adalah upayah gerak kesadaran untuk melampoi batas-batas kemanusiaan menuju titik ke_haniefan yang semestinya.Untuk merubah cara berfikir dan budaya yang seharusnya. Wallahualambissawab !! Happy New Years 2010.</description>
			<category>Konten-Konten - Salam MLC</category>
			<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 12:57:31 +0100</pubDate>
		</item>
	</channel>
</rss>
