|
|
|
|
Humor
|
Ditulis Oleh ketawa.com
|
|
Saturday, 06 March 2010 |
Di kantin sebuah universitas, Udin dan Tono dua orang mahasiswa sedang berbincang-bincang :
Tono : "Saya heran dosen ilmu politik, kalau ngajar selalu duduk, tidak pernah mau berdiri." Udin : "Ah, gitu aja diperhatiin sih Ton." Tono : "Ya, Udin tahu ngak sebabnya." Udin : "Barangkali aja, cape, atau kakinya gak kuat berdiri." Tono : "Bukan itu sebabnya Din, sebab dia juga seorang pejabat." Udin : "Loh, apa hubungannya?!!" Tono : "Ya kalau dia berdiri, takut kursinya diduduki orang lain." Udin : "???" |
|
|
Ditulis Oleh www.ketawa.com
|
|
Saturday, 20 February 2010 |
|
Di sebuah Sekolah Dasar sedang diterapkan sebuah mata pelajaran baru, yaitu PMWR alias Pelajaran Mengenal Wakil Rakyat. Kemudian si Guru memulainya dengan memberikan beberapa pertanyaan pada murid-muridnya.
Guru : "Bupati dan Wakil Bupati, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?" Murid: "Bupati, Bu!!!" Guru : "Gubernur dan Wakil Gubernur, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?" Murid: "Gubernur, Bu!!" Guru : "Presiden dan Wakil Presien, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?" Murid: "Presiden, Bu!!" Guru : "Rakyat dan Wakil Rakyat, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?" Murid: "Seharusnya sih Rakyat, Bu!!" Guru : "Kok, pakai seharusnya?" Murid: "Karena sekarang malah terbalik Bu guru." Guru : "Bagus, terus tanda supaya kita kenal sama Wakil Rakyat kita bagaimana?" Murid: "Yang pasti mereka suka warna abu-abu." Guru : "Betul, terus apalagi?" Murid: "Suka konspirasi politik" Guru : "Demi apa?" Murid: "Kepentingan, Bu!!" Guru : "Tepat sekali, sering muncul dimana mereka?" Murid: "Di televisi, Bu!" Guru : "Karena apa?" Murid: "Karena skandal dan kasus, Bu!!" Guru : "Aduh, anak murid Ibu pinter-pinter, terus ciri Wakil Rakyat apalagi?" Murid: "Pasti sering mendadak tajir, Bu!!" Guru : "Darimana, kok bisa gitu?" Murid: "Diam-diam kan nyolong, Bu. Kalau nggak ya dapat hibah gono-gini gak jelas." Murid: "Dari yang pengin diuntungkan." Guru : "Terus kan Wakil Rakyat sering mengadakan sidang, berapa tahun sekali?" Murid: "Setiap hari, Bu!!" Guru : "Kok bisa, alasannya?" Murid: "Kan biar dapat tunjangan dan komisi rapat." Guru : "Biasanya yang dibahas apa?" Murid: "Nggak ada Bu, masuk telinga kiri keluar telinga kanan." Guru : "Jadi Rakyat dengan Wakil Rakyat, yang mana bosnya?" Murid: "Ya, semestinya Rakyat dong, Bu!!" Guru : "Kenapa semestinya?" Murid: "Karena aneh, Bu!" Guru : "Aneh kenapa?" Murid: "Masak bos kekurangan beras di rumahnya, Bu! Sedangkan Wakilnya malah asik impor beras. Nimbun juga bisa kali, Bu." Guru : "Bagus-bagus, ternyata sebelum diajari kalian sudah banyak tahu tentang Wakil Rakyat ya." Murid: "Iya dong Bu, kan sudah jadi bukan rahasia lagi. Rakyat sudah banyak yang tahu, Bu." Guru : "Sudah banyak yang tahu mengapa asik ongkang-ongkang kaki di Parlemen?" Murid: "Kan,nggak tahu malu, Bu." Sent by:
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
on May 7th, 2009 Rating: 4.00 (21 votes |
|
|
Ditulis Oleh http://ketawa.com
|
|
Saturday, 13 February 2010 |
|
Humor Umum Sepulang dari supermarket seorang anak bertanya pada ibunya: Anak : "Bu, Ibu tau nggak, apa bedanya batu baterai dan Banci?" Ibu : "Hus, sudah jelas beda dong." Anak : "Iya... di mana bedanya?" Ibu (Setelah mencoba berfikir namun gagal) akhirnya berkata : "Nggak tau ah!" Anak (sambil tersenyum-senyum) : "Kalau batu baterai tahan lama sedangkan kalau banci 'mana tahan la yauow'..." |
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Saturday, 06 February 2010 |
Category: Humor Batak Seteleh tamat SMU di Aek Kanopan, Uccok memutuskan merantau karena tidak memiliki biaya untuk meneruskan kuliah, plus ditambah otak yang pas-pasan. Orang tua Ucok memberi ongkos sekali jalan Rp.100.000, karena keuangan yang terjepit. Ucok memilih merantau ke daerah Pekan Baru. Di Kota Pekan Baru, Ucok tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, setelah lima hari disana, uang sisa ongkos sudah habis, saudara tidak ada. Singkat Cerita Ucok rela jadi Kernet (Kondektur) alat berat Eskapator ke hutan untuk membuka lahan garapan, nama operator alat beratnya, Sidabutar. Sesampainya di Hutan, banyak juga orang yang kerja di sini! gumam Ucok dalam hati! dan dia tidak menemukan Toilet untuk MCK yang ada adalah lahan hamparan Luas, Mereka pun buat beskem untuk berteduh dimalam hari. Karena mereka baru turun (masuk) dari kota ke Hutan, orang-orang yang ada dihutan memutuskan untuk Tidur Bareng di Beskem yang dibangun oleh Sidabutar dan Ucok sambil cerita-cerita.
Pada malan hari, kira kira jam 2 pagi, Sardi (orang yang mereka temui dihutan) sakit perut, dan memutuskan untuk buang air dibalik pohon yang besar dekat beskem mereka.
Secara kebetulan, jam 2 lewat 3 menit, Uccok juga sakit perut, dan bergegas keluar beskem untuk buang juga, dan Uccok memutuskan untuk buang di balik pohon yang sama dengan Sardi, Karena pohonnya besar dan agak rimbun gelap, Uccok ingat pesan orang tuanya dikampung, ( kalau mau buang air kecil/besar, harus permisi dengan kata Sattabi ditempat yang baru), begitu Uccok dekat dengan pohon itu, Uccok buka celana, dan berkata..
Uccok : "Sattabi Oppung dipangisi ni luat on" ( Permisi kepada pemilik wilayah ini). karena Sardi masih dibalik pohon, Sardi menjawab dari balik pohon...
Sardi : "Dang Boi ( Gak boleh)..!"
Seketika itu juga, Sakit perut Ucok sembuh, yang ada Ucok ketakutan, karena dia mengira pohon itu menjawab, karena tidak tahu kalau sebelum dia, Sardi sudah lebih dulu Jongkok disana, segera balik ke Beskem dengan pucat pasih dan langsung tidur. Besok paginya baru cerita, dan semua temannya terbahak-bahak setelah Sardi cerita juga. |
|
|
Ditulis Oleh http://ketawa.com
|
|
Saturday, 23 January 2010 |
|
Amir adalah anak seorang pejabat negara yang bertugas dalam bidang keuangan. Kebetulan, Amir pun merupakan bendahara di sekolahnya. Suatu hari, ia ketahuan menggunakan uang kelas itu untuk keperluan pribadi. Dipanggillah ia ke ruang guru. Guru: "Mengapa kau gunakan uang itu untuk kepentinganmu sendiri? Padahal itu kan uang milik temanmu! Apakah kau sedang terdesak?" Amir: "Tidak, Bu..." Guru: "Lalu mengapa? (Amir hanya terdiam.) Cepat katakan! Jika tidak, akan saya laporkan kepada ayahmu!!" Amir: "Laporin aja, Bu ..., toh ayah saya yang mengajarkan saya." |
|
| | << Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
| | Hasil 1 - 9 dari 14 |
|
|