|
Gelombang Perubahan yang terus menerus melanda hampir semua sisi kehidupan, pada akhirnya berkembang menjadi perubahan yang berlangsung lama dan memaksa semua negara untuk selalu siap menerima, memahami, mengatisipasi mengelola dan menyesuaikan diri pada perubahan itu sendiri serta harus selalu siap untuk melakukan perubahan. Di dalam situasi seperti ini, tantangan dan tuntutan yang dihadapi sebuah negara menjadi semakin berat dan kompleks. Peran dari pemimpin (leader) serta faktor kepemimpinan (leadership) di dalam sebuah negara dirasakan semakin penting. Pengelolaan sebuah negara tidak lagi dilakukan dengan hanya didasarkan pada keharusan untuk dapat memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari semua sumber daya yang dimiliki, tetapi juga didasarkan pada keharusan untuk menjaga kesinambungan pelaksanaan kegiatan, memenangkan persaingan serta mempertahankan keberadaan negara yang kesemuanya memerlukan kehadiran dan peranan seorang pemimpin. Leadership dan Leader kemudian memperoleh perhatian yang sangat besar serta menjadi objek kajian yang terus menerus dikembangkan. Semua pihak berlomba-lomba mencari untuk menemukan formula yang tepat dan cara terbaik untuk menjadi leader yang baik dan leadership yang handal. Semua kajian dan bahasan tentang leadership dan semangat untuk meningkatkan kualitas leadership selama ini biasanya selalu dilihat dari satu sisi atau satu sudut pandang, yakni sisi atau sudut pandang leader. Selama ini seolah-olah terdapat sebuah pemahaman bahwa hanya leader yang harus membuat para follower menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Padahal, pada kenyataannya banyak sekali kasus dan situasi yang memberikan gambaran betapa penting peran dari para follower untuk keberhasilan kepemimpinan sebuah negara. Banyak kita jumpai dalam berbagai negara maju adanya kenyataan bahwa keberhasilan seorang leader ditentukan tidak hanya oleh keunggulan leadershipnya, tetapi juga oleh kualitas followership yang tinggi dari para followernya. Pada beberapa kasus, dijumpai bahwa efektivitas dan kualitas leadership seorang leader dapat meningkat dan berkembang dengan bantuan dan dukungan dari penerapan followership yang berkualitas dari para follower-nya. Kepemimpinan merupakan salah satu topik yang selalu menarik untuk dikaji dan diteliti, karena paling banyak diamati sekaligus fenomena yang paling sedikit dipahami. Fenomena kepemimpinan di negara Indonesia juga telah membuktikan bagaimana kepemimpinan telah berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan berpolitik dan bernegara. Dalam sebuah negara, kepemimpinan berpengaruh sangat kuat terhadap jalannya sebuah negara dan kelangsungan hidup negara tersebut. Para ahli, misalnya Bass dalam Yukl (1994) mengemukakan bahwa ada dua gaya kepemimpinan dalam organisasi, yakni gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional. Bentuk kepemimpinan yang diyakini dapat mengimbangi pola pikir dan refleksi paradigma-paradigma baru dalam arus globalisasi dirumuskan sebagai kepemimpinan transformasional. Berkaitan dengan kepemimpinan transformasional, Bass mengemukakan empat karakteristik kepemimpinan transformasional, yaitu karisma, inspirasional, stimulan intelektual, dan konsideran individual. Mantan Ketua DPR Akbar Tandjung mengatakan, Indonesia ke depan membutuhkan pemimpin yang transformasional, yang mampu membawa perubahan lebih baik dan mendasar bagi bangsa ini. “Pemimpin yang memberikan seluruh pengabdian untuk kepentingan rakyat," kata Akbar saat berpidato pada peringatan "Seabad Kebangkitan Nasional" yang digelar sebagai acara puncak Munas Alim Ulama dan Halaqah Kebangsaan PKB di Ciganjur, Jakarta Selatan. Menurut Akbar, saat ini begitu banyak problema yang dihadapi bangsa ini. Rakyat susah menaikkan taraf hidup, pendidikan layak susah didapat meski konstitusi mengamanatkan 20 persen APBN harus dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan juga masih menjadi persoalan. Di bidang sosial masih saja terjadi perilaku intoleransi, tidak menghargai kemajemukan. Sementara itu politik masih berorientasi pada kekuasaan, belum mengarah pada upaya menyejahterakan rakyat. () |