|
Ditulis Oleh Moh. Ichlas El Qudsi, M.Si
|
|
Saturday, 06 February 2010 |
Kita tidak saja membutuhkan kepemimpinan formal dan kepemimpinan konfensional. Sedikit beranjak pada tahapan yang lebih jauh, maka sesungguhnya kebutuhan kita akan sosok kepemimpinan transformativ adalah sesuatu yang harus. Karena kepemimpinan transformativ tidak memenjarakan pengikutnya dalam kerangkeng birokrasi yang rigid. Kepemimpinan transformativ lebih dekat dengan sosok atau karakteristik kultural, bukan struktural. Sistim dan pola kelembagaan kita saat ini cenderung bermazhab structuralism, hal ini berakibat pada kekeringan konsep perubahan, dan kalaupun ada perubahan, indikatornya hanya berada pada gejala-gejala yang bersifat statistika semata. Sedangkan kepemimpinan kultural lebih menekankan prospek perubahan pada karakteristik dan adab, sebagai dimensi vital perubahan.
Peneliti Bernard M. Bass (1985), mengusulkan sebuah teori kepemimpinan transformasional untuk memperkuat gagasan transformasi kepemimpinan yang sudah pernah digagas oleh konsep awal Burn's (1978). Kedua konsep kepemimpinan ini membicarakan sejauh mana pemimpin transformasional diukur, dalam hal pengaruhnya pada pengikutnya. Para pengikut pemimpin tersebut merasa kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan penghormatan kepada pemimpin akan membuat mereka melakukan apapun. Tipe pemimpin konfensional seperti ini memorsikan pemimpin sebagai obyek pencitraan, agar dengan karisma dan spekulasi popularitas membuat ia dipercayai dan dikagumi para pengikutnya. Sementara tipe sosok pemimpin tarnsformativ selalu mencari cara-cara kerja baru untuk mengidentifikasi peluang-peluang baru versus ancaman dan mencoba untuk keluar dari status quo dan mengubah lingkungan.`Peneliti Bass & Avolio (1993), membuat studi empiris yang memetakan pendekatan kepemimpinan manajer dan komandan. Mereka membaginya dalam dua kategori (transformasional dan kepemimpinan transaksional) pada sebuah kontinum dan menciptakan lebih banyak tahap di bagian antara dua pendekatan kepemimpinan tersebut. Terlepas dari keepemimpinan transformativ dan transaksional yang ditawarkan Bass dan Avolio, kepemimpinan transformativ mendapatkan tempat yang pantas untuk kebutuhan sebuah negara yang baru menganut faham demokrasi secara komprehensif.
Di Indonesia, kita berharap tipe kepemimpinan transformatif dapat dimunculkan sebagai upaya dan usaha awal untuk melakukan transformasi multi sektor kehidupan. Sebab secara kelembagaan sektor-sektor penting kelembagaan di negeri ini masih dikelola dengan prinsip dan paham-paham lama yang a-sosial dan menafikan sisi penting kulturalisasi kelembagaan disegala bidang kehidupan negara dan bangsa.
|
|
|
Ditulis Oleh ^ Bass, B.M. & Bass, R. (2008). The Bass handbook of leadership: Theory, research, and managerial ap
|
|
Saturday, 23 January 2010 |
Model kepemimpinan Lingkungan (Carmazzi) menggambarkan kepemimpinan dari perspektif Dinamika kelompok kelompok menggabungkan psikologi dan kesadaran diri untuk memelihara "Lingkungan" yang mempromosikan diri mempertahankan kepemimpinan kelompok berdasarkan kepuasan emosional pribadi dari kegiatan kelompok. Pemimpin Lingkungan menciptakan struktur psikologis oleh karyawan yang dapat menemukan dan mencapai kepuasan ini melalui kerja atau kegiatan. Itu berasal dari ide bahwa setiap individu memiliki berbagai lingkungan yang membawa aspek yang berbeda dari identitas mereka sendiri, dan setiap segi didorong oleh persepsi emosional dalam setiap lingkungan ... Pemimpin Lingkungan menciptakan sebuah platform melalui pendidikan dan kesadaran di mana individu mengisi satu sama lain emosional kebutuhan dan menjadi lebih sadar kapan, dan bagaimana mereka mempengaruhi tim pribadi dan kepuasan-kepuasan emosional. Hal ini dicapai dengan mengetahui mengapa orang-orang "bereaksi" untuk lingkungan mereka bukan bertindak cerdas. "Lingkungan Kepemimpinan bukanlah tentang mengubah pola pikir kelompok atau individu, tetapi dalam lingkungan budidaya yang membawa keluar yang terbaik dan mengilhami individu-individu dalam kelompok itu. Bukan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu yang mereka tidak berkomitmen untuk, melainkan untuk membina budaya yang memotivasi dan bahkan menggairahkan individu untuk melakukan apa yang diperlukan untuk kepentingan semua. Hal ini tidak membawa orang lain untuk hasil akhir, tetapi pengaturan sekitarnya untuk mengembangkan kualitas dalam mereka sehingga mereka dapat membawa satu sama lain. "Carmazzi Peran Pemimpin Lingkungan adalah untuk menanamkan gairah dan arah ke sebuah kelompok dan dinamika kelompok. Pemimpin ini menerapkan sistem dukungan psikologis dalam suatu kelompok yang memenuhi kebutuhan perkembangan emosi dan kelompok. |
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 6 dari 11 |