Kata-kata Mutiara

Jadilah seikat sapu lidi, kokoh karena kebersamaan dan tentunya bermanfaat bagi lingkungan. Dengan kebersamaan pun sapu lidi kuat tak mudah dipatahkan.

 

Tahun tak akan berhenti hingga dikehendakiNya. Hanya, bagaimana kita bisa menyikapi setiap pergantian tahun dengan bijak dan menjadikan diri kita sebagai orang yang bermanfaat.

 

Nasib tak seperti takdir, bisa diubah dan dinamis. Hanya yang berputus selalu merasa kalah dengan nasib. Jangan menyerah terhadap nasib karena untuk itulah kita dianggap manusia sempurna.

 

Jika menginginkan sebuah perubahan, maka lakukanlah sekarang juga. Jika hanya menunggu waktu percayalah, waktu yang tepat hanyalah keberuntungan. Hal-hal besar tidak akan terjadi tanpa ada tindakan untuk merubah.

 

Jika menginginkan sebuah perubahan, maka lakukanlah sekarang juga. Jika hanya menunggu waktu percayalah, waktu yang tepat hanyalah keberuntungan. Hal-hal besar tidak akan terjadi tanpa ada tindakan untuk merubah

 
Setiap detik adalah berharga. Dan setiap yang berharga akan selalu dijaga. Kehidupan kita adalah perputaran detik demi detik yang selalu berharga. Karena itu jaga dan pergunakan sebaik mungkin waktu yang ada pada diri kita.
 

Setiap detik adalah berharga. Dan setiap yang berharga akan selalu dijaga. Kehidupan kita adalah perputaran detik demi detik yang selalu berharga. Karena itu jaga dan pergunakan sebaik mungkin waktu yang ada pada diri kita.

 

 

Setiap detik adalah berharga. Dan setiap yang berharga akan selalu dijaga. Kehidupan kita adalah perputaran detik demi detik yang selalu berharga. Karen ajaga dan pergunakan sebaik mungkin waktu yang ada pada diri kita.

 
Kehidupan ini ibarat menghamparkan kertas putih tanpa tinta. Lalu kitalah yang menuliskan tinta kehidupan didalamnya. Dinamika kehidupan selalu berproses. Karenanya, tulislah kertas tersebut dengan tinta kehidupan yang membawa manfaat untuk orang banyak.
 

Sesulit apapun situasi yang kita hadapi, dengan keyakinan hati dan keteguhan pikiran kita pasti bisa melewatinya. Selalulah berusaha untuk mengambil manfaat dari setiap kesulitan tersebut, untuk kita dan untuk masa depan kita.

 
Lihat selengkapnya..

Links
PAN
Profil Michel
Facebook Michel
Google
Yahoo
Sindikasi
Yang Sedang Online


Seputar Kepemimpinan
Bung Hatta sebagai Model Kepemimpinan PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Jakob Oetama   
Friday, 28 October 2011

Lagi-lagi terngiang kata bersayap pujangga Friedrich von Schiller yang sering dikutip Bung Hatta, "Zaman besar telah dilahirkan abad, tetapi zaman besar itu hanya menemukan manusia kerdil." Sekurang-kurangnya suatu zaman pancaroba dan zaman peralihan menerpa bangsa Indonesia. Seorang pemimpin diperlukan. Pemimpin macam apa?

Pertanyaan pemimpin macam apa semakin mendesak, ketika orang melihat ke kiri dan ke kanan dan tidak pula merasa menemukan sosok yang sepadan dengan tantangan zaman. Suatu hasil polling menunjukkan dari kalangan muda pun, sosok-sosok pemimpin belum tampil secara meyakinkan.

Demikianlah, pemimpin disorot sebagai persoalan besar yang dihadapi bangsa. Suatu koinsidensi yang mencerahkan pun tiba. Pada tanggal 12 Agustus 2002 genaplah 100 tahun usia Mohammad Hatta. Peringatan seabad pejuang, pendiri bangsa dan koproklamator bergaung luas, dan marilah kita cerna agar bergaung mendalam pula.

Zaman besar di masa lampau, yakni zaman kebangkitan, pergerakan dan perjuangan kemerdekaan telah berhasil menemukan orang-orang besar pula. Mereka itulah para penggerak dan pendiri bangsa. Beberapa mencuat dan menonjol di atas rekan-rekan sezamannya. Seorang di antaranya adalah Bung Hatta.

Sungguh suatu anugerah zaman bahwa seabad peringatannya jatuh ketika kita, bangsa Indonesia, sedang membuka mata, telinga, pikiran dan hati untuk belajar dari pengalaman sejarah bangsa sendiri serta pengalaman sejarah bangsa-bangsa lain.

Setiap pemimpin bangsa meninggalkan sosok, kepribadian, karakter, visi, komitmen, serta pergulatan dan suri tauladan yang dapat diambil hikmahnya. Untuk menghadapi pancarobanya perubahan zaman seperti kita jalani sekarang ini, sosok Bung Hatta benar-benar suatu mercusuar.

Ambillah tugas pemimpin yang paling mendesak dewasa ini, ialah menyelenggarakan pemerintah dan pemerintahan yang bersih, yang tidak menyalahgunakan kekuasaan, wewenang, kesempatan, dan koneksi. Dan dengan demikian juga suatu pemerintah yang mau dan mampu menghentikan proses degradasi dan demoralisasi bangsa dalam urutan yang paling sentral dan menentukan, yakni penyelenggaraan kekuasaan.

Bung Hatta berpuluh tahun berada di sentral kekuasaan. Ia mempunyai modal pengabdian yang sekiranya ia kemudian akan menagihnya untuk kepentingan pribadi, masyarakat dan lingkungan akan menenggangnya. Ia tidak memanfaatkannya. Ia tidak memanfaatkan sampai akhir hayatnya.

Pemimpin-pemimpin lain jatuh bangun, terutama dalam ranah penggunaan kekuasaan dan kesempatan. Bung Hatta uncorruptable, tak terkorupsikan ketika memegang kekuasaan. Tidak pula memanfaatkan modal pengabdian maupun koneksi, ketika dengan sukarela meninggalkan kekuasaan.

Patut dipelajari, mengapa ia sanggup tak terkorupsikan sementara yang lain-lain, termasuk Bung Karno jatuh bangun. Ada elemen keagamaan pada sosok pribadinya yang dipahami serta dihayati secara serius sekaligus dengan pandangan yang tercerahkan oleh pendalamannya terhadap filsafat Barat dan Marxis. Begitu di antaranya, penjelasan Malvin Rose, penulis biografi politik Mohammad Hatta.

Faham dan perjuangannya menegakkan kedaulatan rakyat dipengaruhi latar belakang Minangkabau yang egaliter serta lebih bebas dari struktur dan kultur feodal daripada di Jawa. Sesuai pula dengan kepribadiannya yang introvert dan kaku, jika ia secara konsisten dan secara konsekuen menempuh jalan lurus.

Namun, ada hal lain yang terutama untuk zaman sekarang, perlu ditegaskan. Bung Hatta berhasil menumbuhkan pada pribadinya, pilihan dan komitmen asketisisme. Yakni asketisisme seorang pemimpin. Lagi-lagi kata Malvin Rose, ia mendisiplinkan diri sendiri untuk menekan nafsu dan emosi alamiah dengan cara memusatkan seluruh jati dirinya pada pencapaian kemerdekaan Indonesia.

Ia barulah berkeluarga setelah Indonesia Merdeka. Ia melanjutkan asketisismenya dalam menyelenggarakan kekuasaan dan ketika berada di tengah kekuasaan. Kecuali pemahaman, asketisisme seperti dihayati oleh Bung Hatta adalah soal pilihan. Memang pilihan itu menjadi bagian bahkan faktor yang menentukan apakah kepemimpinannya berhasil atau tidak.

Mengenai pilihan ini, sebaiknya ditegaskan dan dipahami. Semua pekerjaan, profesi dan jabatan kecuali pertimbangan dan dimensi pribadi juga mempunyai dimensi kemasyarakatan. Tetapi pastilah berbeda pertimbangan, dimensi serta implikasi dan konsekuensinya, apakah seseorang memilih sebagai ilmuwan, sebagai pebisnis, atau sebagai politikus.

Di masa lampau, ketika ekonomi pasar dan konsumerisme global dan lokal belum semerajalela sekarang, pilihan-pilihan lebih sederhana. Tetapi betapapun zaman berubah, terutama dengan merajalelanya konsumerisme dan materialisme kapitalis, toh pilihan-pilihan itu tetap memiliki konsekuensi dan implikasi masing-masing. Termasuk tentu saja anugerah, imbalan serta pengakuannya.

Kalau Hatta memilih sebagai pedagang, ia pun akan berhasil amat jauh. Tetapi dengan sadar, sejak muda, ia memilih bidang lain. Bidang pengabdian politik untuk memerdekakan bangsa dan negaranya, untuk mendidik dan mencerahkan rakyat, untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dan keadilan sosial.

Memang lebih berat pilihan menempuh jalur pengabdian politik untuk zaman sekarang. Tetapi, pilihan toh sukarela. Bisa saja, jalur tidak selalu merupakan pilihan yang dipilih secara sadar sejak semula. Apalagi dalam masa peralihan yang berpancaroba, jalur bisa karena untung-untungan.

Akan tetapi, begitu atau pilihan sadar atau koinsidensi membawanya, harus dipahami dan disadari pilihan jalur politik, kepemimpinan politik pada semua jenjangnya, apalagi pada jenjang-jenjang tinggi, membawa konsekuensi dan implikasinya.

Tentu saja, kebanggaan, imbalan, pengakuan bahkan fulfillment, pemunculan diri dalam pekerjaannya, tetap ada. Berbeda, tetapi ada dan semuanya membanggakan.

Pada Hatta dan pemimpin sezamannya, pilihan dibuat sejak muda. Otaknya cerdas. Ketekunannya luar biasa. Mengapa rencana studinya di Belanda yang direncanakan lima tahun molor menjadi 11 tahun? Ia sibuk memimpin Perhimpunan Indonesia, organisasi orang-orang muda Indonesia yang belajar di Belanda. Ia menghadiri konferensi internasional di mana-mana di Eropa, memperkenalkan cita-cita, perjuangan dan tujuan Indonesia Merdeka.

Ia sekaligus lewat tulisan dan diskusi, merumuskan tujuan Indonesia Merdeka, falsafah Indonesia Merdeka. Ia membina lewat Perhimpunan Indonesia dan forum lain, terwujudnya Indonesia Baru, yang merdeka, berkedaulatan rakyat, adil makmur, maju, terbuka, hadir secara independen dan aktif dalam pergaulan bangsa-bangsa.

Pilihan sejak muda dan karena itu juga konsekuensinya, yakni persiapan sejak muda, itulah pelajaran lain dari sosok Hatta bagi generasi muda Indonesia. Tidaklah berarti, tidak terbuka pilihan yang menyusul kemudian, tetapi pilihan kemudian pun, harus dipahami konsekuensi, implikasi serta tuntutannya.

Bung Karno amat kuat karismanya apalagi untuk rakyat banyak. Bung Hatta bukannya sosok tanpa karisma. Karismanya terhadap rakyat banyak, tidak sekuat Bung Karno, tetapi terhadap setiap lingkungannya otoritas dan kredibilitas Hatta terasa. Karisma itu terpancar dari sosok pribadinya yang berintegritas tinggi serta kompeten.

Bung Hatta percaya kepada rakyat. Karena itu, ia konsisten dan konsekuen menegakkan kedaulatan rakyat. Ia pun sadar, rakyat perlu dididik. Dididik untuk membaca dan menulis agar terbuka pintu untuk menimba pengetahuan dan pengalaman. Seperti pemimpin pergerakan lainnya, ia mengajar di sekolah, terutama ia juga mengajar lewat media seperti Daulat Rakyat serta pendidikan kader.

Meskipun caranya tidak sevokal Bung Karno, Hatta pun mementingkan pendidikan karakter rakyat. Mandiri, tahu hak dan kewajiban, mau mengambil tanggung jawab.

Dipengaruhi serta dicerahkan lewat pendidikan dan pergaulannya selama 11 tahun studi dan bergerak di Eropa, Bung Hatta juga sampai pada pemahaman, Indonesia Merdeka bukan saja dalam makna politik, tetapi juga ekonomi, sosial dan budaya. Bung Hatta berulang kali memperingatkan kemungkinan jebakan feodalisme, maka ia pun terus-menerus memperjuangkan demokrasi yang bertumpu pada kedaulatan rakyat.

Sejarah, katanya, tidak kenal andaikata. Namun, sebagai bahan pelajaran dan pengalaman, bukankah Indonesia akan lain fase perkembangannya, andaikata Bung Karno sebagai Presiden dan pemimpin bangsa serta Hatta sebagai juga pemimpin dengan menyelenggarakan pemerintahan.

Yang kemudian tidak tersentuh, bahkan tumbuh sebagai jebakan baru adalah proses emansipatoris bangsa dalam bidang sosial dan budaya, terutama dalam kaitannya dengan bangkitnya lagi feodalisme, baik kultur maupun strukturnya.

Dalam alam dan suasana itu, baik ekonomi etatisme maupun ekonomi pasar tidak sanggup menghasilkan kemakmuran yang merata bagi rakyat. Yang dihasilkan baik dalam ekonomi etatisme maupun dalam ekonomi pasar adalah kemakmuran untuk orang seorang yang berada dalam kekuasaan dan lingkungannya serta kesenjangan besar bagi rakyat banyak.

Bung Hatta terpanggil untuk pembangunan ekonomi yang berkeadilan sosial yang memperbaiki dan meratakan kemakmuran kepada rakyat, memilih jalan koperasi. Tetapi koperasi yang dipilihnya adalah model gerakan koperasi di negara-negara Skandinavia.

Negara-negara itu bukan berekonomi negara seperti negara-negara komunis. Negara-negara itu, seperti berkembang lebih nyata di kemudian hari, mengacu kepada kerangka referensi ekonomi masyarakat, sebutlah ekonomi pasar sosial.

Lagi pula, betapapun dimensi politik dalam arti mandat keadilan sosial adalah kental pada ekonomi koperasi, tetapi gerakan itu adalah gerakan dan disiplin sosial ekonomi. Inilah yang juga disalahartikan ketika koperasi diterapkan di negeri kita. Akhirnya sampai sekarang ini, koperasi lebih merupakan lembaga dan gerakan yang kosong dan tidak memadai hasilnya. Bahkan juga terkena imbas salah guna kekuasaan dan kesempatan. Koperasi lebih menyuburkan pengurus daripada anggotanya.

Mengapa sosok kepemimpinan Hatta sangatlah relevan dan aktual untuk menumbuhkan kepemimpinan serta menjawab tantangan masa kini? Karena amatlah jelas, contoh, teladan pimpinan yang kecuali cerdas, cakap, efektif juga bersosok asketis amatlah diperlukan kini dan mendatang. Adalah teladan yang ibaratnya dapat menggerakkan gunung dewasa ini.

Dimulai dari pimpinan yang menyinarkan teladan. Segera diikuti oleh suatu kecerdasan dan kecakapan, bahwa untuk memimpin atau menyelenggarakan pemerintah di Indonesia yang berpenduduk besar, berkepulauan majemuk serta mengalami krisis dan pancaroba sekarang ini, diperlukan tim. Tim pemerintah dan pemerintahan.

Orang-orang bersosok, berkarakter, memiliki kecerdasan dan kecakapan dalam bidangnya yang bekerja sama, menggerakkan roda pemerintahan sehingga tidak sekadar omong dan rapat, tetapi get things done terlaksana.

Sosok Hatta yang kecuali cerdas dan cakap, juga efektif karena ketekunannya, karena mau mengontrol dan mau check and recheck. Menggerakkan bahkan turun ke lapangan secara langsung dan tidak langsung.

Karena kehabisan akal, dewasa ini, amat sering kita dengar pernyataan dari mana mulai dan bagaimana? Mengacu kepada Hatta, amatlah jelas jawabannya, mulai dari diri sendiri, bahkan padanya mulai dari diri sendiri secara konsisten dan konsekuen melawan arus. Mulai dari lingkungan masing-masing. Tidak saling menunggu, justru saling mendahului.

Di mana rakyat berada dan apa peranannya? Sekali lagi, terutama mengingat kondisi kita dewasa ini, pemimpin dan pemerintahlah yang harus memulai dengan memberi contoh yang efektif. Tetapi, sesuai dengan prinsip kedaulatan rakyat serta sesuai dengan tanggung jawab yang juga bergeser kepada publik, masyarakat pun terpanggil mengambil tanggung jawab lebih besar dan lebih efektif.

Bukan sekadar melek huruf yang merupakan pendidikan rakyat, kata Bung Hatta, tetapi juga bahkan terutama karakternya. Karakter rakyat. Apakah untuk zaman kita, pendidikan karakter rakyat sama atau kental konotasinya dengan pendidikan masyarakat kewargaan, masyarakat madani, civil society?

Kertas dan karya pada founding fathers negara lain seperti Amerika Serikat, dikumpulkan dan diterbitkan. Bukan untuk disimpan dalam museum, tetapi untuk bekal pelajaran sejarah dan untuk terus dikembangkan, dikaji ulang serta diperkaya untuk menjawab perkembangan dan tantangan zaman.

Seratus tahun Bung Hatta tahun ini, Seabad Bung Karno tahun lalu, mengapa tidak menjadi momentum untuk pekerjaan besar dan pekerjaan bersejarah itu.
 
Menakar “Peluang Sejarah” Kepemimpinan Muda di Era Reformasi PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Israr Iskandar   
Saturday, 22 October 2011

Pengajar sejarah Indonesia di Universitas Andalas Padang

Wacana kepemimpinan muda kembali aktual. Ada asumsi, stagnasi dalam kepemimpinan nasional maupun lokal saat ini menjadi pemicu tuntutan kepemimpinan muda. Kepemimpian nasional yang sekarang diisi generasi lebih senior secara etik dan praksis dianggap tidak kunung mampu mengeluarkan bangsa dari jerat krisis multidimensi. Kepemimpinan muda diharapkan menjadi alternatif mengangkat bangsa dari pelbagai keterpurukan.

Ketika kekecewaan terhadap situasi kekinian memuncak, orang biasanya berpaling ke masa lalu yang diasumsi lebih baik. Dalam konteks kesejahteraan, publik tak canggung melongok kembali ke masa pemerintahan Orde Baru (1966-1998), karena rezim ini dianggap lebih kompeten memenuhi kebutuhan dasar rakyat, seperti pangan dan sandang, dibandingkan pemerintahan era reformasi.

Terkait kekecewaan atas masalah kepemimpinan nasional dewasa ini, rujukan inspirasi tak hanya fenomena sejarah kepemimpinan nasional di zaman perjuangan merebut dan mempertahankan Kemerdekaan, yang dianggap sebagai tipikal kepemimpinan ideal, tetapi juga tren mutakhir di tingkat global. Tren kepemimpinan alternatif dewasa ini menyeruak dari Rusia di bawah Vladimir Putin-Medvedev, munculnya tokoh-tokoh sosialis di negara-negara Amerika Latin (seperti Venezuela, Bolivia, Brazil dan lainnya), hingga fenomena Barack Obama, calon presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat.

Itu artinya, dalam konteks Indonesia, gugatan terhadap kepemimpinan nasional dewasa ini tentu tak hanya karena dominannya wajah-wajah lama di panggung kekuasaan, tetapi juga karena masih banyaknya constraint (halangan) bagi munculnya lapisan muda dalam kepemimpinan negara (pusat dan daerah). Untuk kontestasi pemilihan presiden 2009, misalnya, sejumlah analisis memprediksi, kecil sekali peluang tampilnya “rising star”, termasuk dari kaum muda.[1]

Krisis Kepemimpinan

Kondisi sekarang memang bisa disebut krisis kepemimpinan. Dalam lapangan politik, krisis kepemimpinan berarti langkanya atau pun tiadanya kepemimpinan politik yang bisa memenuhi harapan banyak orang dalam hal visi dan komitmen pada visi itu, kompetensi koordinatif, manajerial, organisasi, memberi inspirasi dan motivasi, pengetahuan dan kemampuan intelektual pada umumnya, integritas, kepribadian dan gaya hidup, termasuk keterbukaan, kesederhanaan, kejujuran, kemampuan dan kesediaan untuk mendengarkan dan jika perlu menerima kritik dan pendapat orang lain, kesediaan dan kemampuan untuk belajar terus-menerus.[2] Krisis kepemimpinan juga berarti sulitnya rakyat menentukan pilihan atas seorang pemimpin. Ini bisa disebabkan tidak hanya langkanya tokoh pemimpin, tetapi juga karena faktor rakyat sendiri yang kesulitan dan tidak cermat memilih pemimpin.[3]

Urgensi kepemimpinan muda, selain masalah minimnya kinerja kepemimpinan lama, tentu juga melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa guna mencapai tujuan-tujuan negara yang masih terbengkalai. Namun dalam konteks ini, esensi gugatan bukan didasarkan pada dikotomi tua-muda, tetapi kerisauan atas spirit kepemimpinan lama yang tidak paralel dengan cita-cita pembaruan. Dengan demikian, sekalipun kelak kaum muda tampil di panggung kekuasaan, ia tak boleh larut dalam “status quo”, melanjutkan sistem lama atau mengganti dengan sistem baru tanpa ada transformasi fundamental dan substansial bagi kehidupan rakyat. Jangan sampai alih generasi hanya ibarat bertukar kulit, tetapi isinya tetap sama. Alih generasi harus dikuti perubahan mentalitas dan mindset untuk pembaruan serta tidak terjebak kepada “spiral pengingkaran amanat rakyat”.

Dalam sejarah kita, spirit kepemimpinan muda adalah semangat untuk berubah ke arah lebih baik, bersatu, serta mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan sendiri. Momentum Manifesto Politik yang dikeluarkan kaum muda yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia 1925 dan Sumpah Pemuda 1928 meluluhkan perbedaan dan ragam kepentingan sempit, untuk membangun kejayaan “masyarakat yang dibayangkan” (meminjam istilah Ben Anderson). Manifesto itu kemudian makin mengerucut hingga puncaknya Proklamasi Kemerdekaan 1945, sebagai sintesis perjuangan seluruh bangsa Indonesia.

Namun memasuki era otoriter Demokrasi Terpimpin (1959-1966), wadah melahirkan kepemimpinan yang otentik itu menjadi mandul. Kondisi lebih parah terjadi sejak Orde Baru (1966-1998). Perubahan politik tahun 1966 tidak diikuti regenerasi kepemimpinan progresif. Selama 32 tahun, alih generasi hanya terjadi di lingkungan militer. Sebaliknya, regenerasi kepemimpinan sipil mengalami pengerdilan sistematis. Situasi ini ikut menjelaskan, mengapa kepemimpinan nasional di era demokratisasi sekarang ini kehilangan elan vitalnya.

Realitas politik Indonesia sekarang, seperti dikatakan sejarawan senior Taufik Abdullah (2008) didominasi elit politik, bukan pemimpin.[4] Secara psikologis, pemimpin dekat dengan rakyat yang dipimpin. Pemimpin bukan penguasa, melainkan sosok teladan yang memiliki visi jangka panjang untuk kepentingan rakyat, bangsa, negara dan kemanusiaan. Mereka tidak hanya memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, tetapi juga sosok patriot dan negarawan. Sementara elit politik terkesan “disconneted“ dengan rakyat. Visi mereka terkait pergumulan kekuasaan untuk memenangkan kepentingan sempit dan jangka pendek.

Memperhatikan realitas krisis sekarang, bangsa ini memang sangat membutuhkan lebih banyak pemimpin daripada elit politik, baik untuk konteks kepemimpinan nasional maupun lokal. Ini didasari fakta, krisis multidimensi terjadi di seluruh penjuru negeri. Tentu saja pemimpin dimaksud bukan dalam konotasi feodalistik, seperti zaman raja-raja dulu atau amtenaar di zaman kolonial, melainkan tipikal kepemimpinan modern-rasional (meminjam istilah Max Weber). Dalam konteks inilah, suatu kepemimpinan baru menjadi keniscayaan sejarah di Indonesia.

Kalau resonansinya kepada pemimpin muda, masalah ini tentu masih bisa dicermati lebih kritis lagi. Di era reformasi, dalam batas tertentu, lapisan pemimpin muda sudah diberi kesempatan untuk tampil di panggung (sekalipun masih bersifat pelengkap), baik di eksekutif, legislatif, bisnis, maupun sosial, tetapi perubahan yang diarahkan untuk memperbaiki kondisi kehidupan rakyat dan bangsa masih jauh dari harapan.

Simaklah kasus-kasus korupsi yang melibatkan pejabat eksekutif dan legislatif, sebagian juga terdiri dari kaum muda. Ada kesan, kinerja politik mereka tak jauh berbeda dengan kalangan politisi senior. Terbongkarnya beberapa skandal suap di DPR atau korupsi berjamaah yang marak di DPRD-DPRD di awal reformasi, misalnya, juga melibatkan tokoh-tokoh muda. Di sejumlah daerah, bahkan tokoh yang berani mengungkap “bau busuk” di internal lembaganya (whistle blower), seperti dalam kasus korupsi DPRD Sumbar tahun 2003, justru dari seorang politisi senior. Padahal, kira-kira seperempat dari anggota dewan setempat saat itu diisi kalangan muda, bahkan sebagian ikut gerakan reformasi 1998.[5]

Tetapi mestikah kenyataan itu diherankan? Bukankah ini sebuah keniscayaan sejarah yang berulang? Bukankah tokoh-tokoh senior yang dituding korup di masa Orde Baru dan era reformasi, pada mulanya juga tampil sebagai tokoh muda?. Di awal Orde Baru, banyak tokoh muda menjadi legislator di Senayan maupun masuk menjadi anggota Kabinet, namun sebagian besar mereka “larut” di dalam sistem korup. Di masa reformasi, lapisan tokoh muda yang berkiprah di legislatif dan eksekutif juga “terjebak”, bahkan ikut “memanfaatkan” realitas hukum yang kacau dan masyarakat yang belum melek secara politik. Belakangan, sebagian mereka juga tampil maju dalam pertarungan politik dengan mengandalkan “industri pencitraan politik”, seperti tercermin dari iklan-iklan politik, tapi miskin visi dan substansi.

Implikasinya serius. Jangankan melepaskan bangsa dari spiral korupsi, untuk mengangkat masyarakat dari spiral kebodohan saja, mereka tak kuasa. Bahkan ada kesan, elit berkepentingan dengan realitas sebagian masyarakat yang tak kunjung melek secara politik, dalam arti memahami hak-haknya sebagai warga negara. Celakanya, lapisan elit yang tadinya dijuluki atau mengklaim sebagai reformis malah larut dalam kenikmatan duniawi serta beragam kepentingan sempit dan jangka pendek. Akibatnya, parpol dan legislatif tempat mereka berkiprah, bukannya mengawas jalannya pemerintahan (eksekutif), tetapi akhirnya tetap menjadi sarang korupsi. Padahal, seperti dikatakan Jeremy Pope (2000), parpol dan parlemen merupakan pilar-pilar penting dan potensial dalam sistem integritas nasional bagi pemberantasan korupsi.

Betapa beratnya tantangan bangsa ini untuk bangkit menjadi bangsa besar dan bermartabat, sebagaimana dicita-citakan para Pendiri Negara (The Founding Fathers and Mothers), ketika sebagian lapisan elit politik yang berkuasa sekarang terdiri dari mereka yang berkubang dalam sistem korup. Alih-alih keluar dari jebakan sistem distortif, mereka malah berkepentingan untuk mempertahankannya. Bahkan, ketika spiral korupsi sulit ditembus, masyarakat sipil yang seharusnya menjadi kekuatan pengimbang dari suatu sistem kekuasaan (checks and balances) pun kerap terjebak dalam aneka distorsi fungsi.

Sekalipun demikian, pandangan pesimistik semacam ini tentu tak boleh dipelihara. Betapapun, negeri ini masih menyisakan kelompok-kelompok muda progresif dan visioner. Harapan tercurah kepada mereka untuk membangkitkan (meminjam istilah Melayu) “batang terendam”. Dalam hal ini, lapisan muda tetap menjadi tumpuan utama. Tentu saja, kepemimpinan muda di sini tak hanya terpaku dengan umur, tetapi spirit yang diembannya. Banyak kasus, seperti disebutkan di atas, pemimpin yang berusia muda juga cepat terjebak konformisme. Sebaliknya banyak yang sudah berusia tua, tetapi masih memiliki spirit pengabdian dan pembaruan sekaligus.

Menerobos Stagnasi

Uraian di atas memperlihatkan, keraguan terhadap kepemimpinan muda muncul, karena mereka hanya mewarisi sistem buruk tanpa diikuti peruhahan mentalitas dan mindset untuk pembaruan. Oleh karena, kepemimpinan muda tidak boleh pula terjebak kepada pengingkaran amanat rakyat.

Sayangnya hingga kini peluang sejarah bagi kaum muda dan pemudaan semangat kepemimpinan masih terbatas. Partai-partai politik yang menjadi sumber utama kepemimpinan sipil tidak begitu progresif sehingga peran kaum muda masih periferial. Ada yang masih muda, tapi ia terkungkung dalam konservatisme dan konformisme yang berakibat mentalitas, semangat dan daya juangnya untuk perubahan tak bisa diandalkan.

Tersendatnya alih generasi kepemimpinan nasional saat ini harus diterobos. Kaum muda harus percaya diri untuk tampil. Namun alih generasi tentu tidak sekedar berganti kulit, melainkan esensi. Tentu saja, dalam situasi saat ini, kepemimpinan lama juga mesti berjiwa negarawan memberikan kesempatan yang adil kepada kaum muda progresif tampil.


[1] Hal itu dikemukakan Direktur Indo Barameter M. Qodari seperti dilansir Suara Pembaruan, 25 September 2008.

[2] J Soedjati Djiwandono, ”Krisis Kepemimpinan”, dalam Riza Sihbudi et al (eds), Amandemen Konstitusi dan Strategi Penyelesaian Krisis Politik Indonesia. (Jakarta: AIPI, 2002), hlm. 228.

[3] Ibid, hlm. 229.

[4] Taufik Abdullah mengatakan dalam sebuah diskusi panel di Fakultas Sastra Universitas Andalas, 12 September 2008 lalu.

[5] Anggota DPRD Sumbar yang mengungkap kasus korupsi di lembaganya adalah M. Zen Gomo, dari Fraksi PAN. Gomo adalah seorang pensiunan bank. Padahal ada beberapa anggota dewan yang bersusia 20-an dan 30-an tahun. Saat itu penulis bekerja sebagai wartawan yang kerap meliput kegiatan DPRD Sumbar.

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 7 - 12 dari 73


 

Salam MLCKegiatanReportaseSeputar KepemimpinanKata MutiaraDialogProfile

Copyright © 2008 Michel El Qudsi Leadership Centre (MLC). All Rights Reserved.
Design by Situsmurah.com.
Untuk tampilan terbaik gunakan Firefox 3