Kata-kata Mutiara

Jadilah seikat sapu lidi, kokoh karena kebersamaan dan tentunya bermanfaat bagi lingkungan. Dengan kebersamaan pun sapu lidi kuat tak mudah dipatahkan.

 

Tahun tak akan berhenti hingga dikehendakiNya. Hanya, bagaimana kita bisa menyikapi setiap pergantian tahun dengan bijak dan menjadikan diri kita sebagai orang yang bermanfaat.

 

Nasib tak seperti takdir, bisa diubah dan dinamis. Hanya yang berputus selalu merasa kalah dengan nasib. Jangan menyerah terhadap nasib karena untuk itulah kita dianggap manusia sempurna.

 

Jika menginginkan sebuah perubahan, maka lakukanlah sekarang juga. Jika hanya menunggu waktu percayalah, waktu yang tepat hanyalah keberuntungan. Hal-hal besar tidak akan terjadi tanpa ada tindakan untuk merubah.

 

Jika menginginkan sebuah perubahan, maka lakukanlah sekarang juga. Jika hanya menunggu waktu percayalah, waktu yang tepat hanyalah keberuntungan. Hal-hal besar tidak akan terjadi tanpa ada tindakan untuk merubah

 
Setiap detik adalah berharga. Dan setiap yang berharga akan selalu dijaga. Kehidupan kita adalah perputaran detik demi detik yang selalu berharga. Karena itu jaga dan pergunakan sebaik mungkin waktu yang ada pada diri kita.
 

Setiap detik adalah berharga. Dan setiap yang berharga akan selalu dijaga. Kehidupan kita adalah perputaran detik demi detik yang selalu berharga. Karena itu jaga dan pergunakan sebaik mungkin waktu yang ada pada diri kita.

 

 

Setiap detik adalah berharga. Dan setiap yang berharga akan selalu dijaga. Kehidupan kita adalah perputaran detik demi detik yang selalu berharga. Karen ajaga dan pergunakan sebaik mungkin waktu yang ada pada diri kita.

 
Kehidupan ini ibarat menghamparkan kertas putih tanpa tinta. Lalu kitalah yang menuliskan tinta kehidupan didalamnya. Dinamika kehidupan selalu berproses. Karenanya, tulislah kertas tersebut dengan tinta kehidupan yang membawa manfaat untuk orang banyak.
 

Sesulit apapun situasi yang kita hadapi, dengan keyakinan hati dan keteguhan pikiran kita pasti bisa melewatinya. Selalulah berusaha untuk mengambil manfaat dari setiap kesulitan tersebut, untuk kita dan untuk masa depan kita.

 
Lihat selengkapnya..

Links
PAN
Profil Michel
Facebook Michel
Google
Yahoo
Sindikasi
Yang Sedang Online


Seputar Kepemimpinan
Kepemimpinan Ahmadinejad (antara kontroversi dan kemandirian politik) PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh http://febriardiyanto.blogspot.com/2011/02/kepemimpinan-ahmadinejad.html   
Thursday, 28 July 2011

Seringkali orang berkata bahwasanya keberhasilan suatu organisasi (dalam skala kecil) maupun negara (dalam skala besar) terletak pada seorang pemimpin. Bagaimana ia menjalankan roda organisasi/pemerintahannya menentukan seberapa besar kemajuan yang akan tercapai dalam mencapai tujuan dari organisasi tersebut. Hingga dapat dikatakan bahwa sangat besar amanah dan tanggung jawab yang diemban seorang pemimpin.

Tak jarang sangat sulit untuk menemukan seorang pemimpin yang mampu membawa perubahan yang signifikan dalam mencapai kemaslahatan bersama. Ia bisa muncul dengan sendirinya melalui bakat yang dimiliki (faktor genetic), namun kadang ia muncul melalui proses atau fase-fase pembentukan. Dalam ranah pemikiran teori sosial berpendapat bahwa leaders are made, not born (pemimpin adalah dibentuk, bukan dilahirkan). Penganut teori ini berkeyakinan bahwa semua orang itu sama dan mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin. Tiap orang mempunyai potensi atau bakat untuk menjadi pemimpin, hanya saja paktor lingkungan atau faktor pendukung yang mengakibatkan potensi tersebut teraktualkan atau tersalurkan dengan baik dan inilah yang disebut dengan faktor “ajar” atau “latihan”.

Dalam kepemimpinan seseorang ia juga memiliki berbagai macam model kepemimpinan. Sebagai contoh adalah model kepemimpinan demokratis dan otoriter. Model demokratis diwujudkan dengan cara memberikan kesempatan yang luas bagi anggota kelompok/organisasi untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Sedangkan otoriter diwujudkan dengan indoktrinasi-indoktrinasi kepada bawahannya, biasanya berada pada negara/kerajaan yang absolut.

Dewasa ini terdapat salah seorang pemimpin suatu negara yang menjadi sorotan dunia karena sifatnya yang revolusioner. Namanya adalah Mahmoud Ahmadinejad, seorang Presiden Republik Iran. Kepopulerannya yang menjadi sorotan adalah terkait kebijakannya yang gigih dalam memperjuangkan aspirasi rakyatnya serta keberaniannya menantang negara-negara kapitalisme barat. Terutama Salah satu kebijakannya ialah dia berkeras Iran berhak mengembangkan teknologi nuklir layaknya Eropa menernakkan reaktor. “Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai adikuasa memilikinya?” katanya lugas. Dia juga menyebut Amerika sebagai “preman” yang tak lama lagi bakal tumbang, layaknya air mancur. Dia juga meminta orang sedunia bersatu-padu menggulingkan rezim zionis di Tel aviv, Israel.

Inilah kenapa dewasa ini ia telah menjadi ikon perlawanan untuk menghantam sistem kapitalisme barat. Sosok Ahmadinejad yang penuh dengan kontroversi, pujian maupun hujatan di belah dunia yang lain menjadikan ketertarikan tersendiri dalam membicarakannya. Dia seorang yang revolusioner, seperti Soekarno di Indonesia, Che Guevarra di Kuba ataupun Malcolm X di Amerika Serikat. Terutama dengan kegigihannya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Iran.

Kepemimpinan Ahmadinejad

Meminjam kostanta Drukcer, pemimpin adalah individu yang make things happen.[1] Ia adalah “yang membuat sesuatu menjadi sesuatu itu sendiri”.[2] Sejak hari pertama menjabat Walikota Teheran, Ahmadinejad banyak mengambil kebijakan yang menekankan pada religiusitas (Islam). Dia, misalnya mengeluarkan kebijakan pemisahan penggunaan lift untuk pria dan wanita di kantor Walikota. Dia juga mengusulkan para pahlawan yang gugur di perang Irak-Iran agar dikuburkan di bundaran terkenal Teheran. Itu juga disertai dengan tindakan-tindakan populis seperti menggandakan jumlah pinjaman lunak pasangan muda yang hendak menikah dari enam juta rial menjadi dua belas juta rial. Dia juga menggelar program pembagian sup gratis sekali dalam setiap pekan bagi penduduk miskin.

Di luar semua kontroversi tersebut, ahmadinejad memperlihatkan dirinya sebagai seorang pekerja keras. Dia memilih memperpanjang masa kerjanya dari pagi hingga menjelang Maghrib dan melanjutkan kerja dirumahnya hingga pukul dua belas malam. Dia sengaja memperpanjang jam kerjanya agar memiliki waktu luang hingga empat jam lebih untuk menerima siapa pun warga kota yang ingin berkeluh kesah dengannya walaupun toh permasalahan tersebut bukan suatu hal yang besar.

Namun, salah satu keberhasilan ahmadinejad sebagai walikota Teheran yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat setempat adalah yang menyangkut spesialisasi dan keahliannya: manajemen transportasi dan lalu lintas perkotaan. Secara dramatis dia menekan jumlah kemacetan dan kepadatan arus lalu lintas di kota Teheran dengan mencopot lampu lalu lintas di perempatan-perempatan besar dan mengubahnya menjadi jalur putar balik yang sangat efektif.

Pola pemerintahan Ahmadinejad yang merakyat ini sempat membawanya ke medan perseteruan dengan Presiden Iran kala itu, Mohammad Khatami. Perseteruan ini terkait dengan telatnya Khatami menghadiri sebuah acara di Teheran. Di depan khalayak ramai, Khatami mengatakan keterlambatannya dilatari kemacetan di salah satu ruas jalan Teheran. Ahmadinejad belakangan mengomentari itu. “Untunglah,” katanya, “jika kita punya Presiden yang baru kali ini merasakan problematika rakyat”. Komentar ini tak pelak merenggangkan hubungan antara keduanya dan berujung pada keputusan Khatami mencegah Ahmadinejad hadir di sidang kabinet.

Mahmoud Ahmadinejad tak pelak merupakan politisi dengan segudang misteri, dan keajaiban. Hampir tidak banyak orang tahu rincian latar belakangnya sebelum menjadi Walikota Teheran. Semua jabatannya sebelum itu, termasuk sebagai Gubernur Ardabil tahun 1993-1997, jauh dari jangkauan sorotan kamera media ataupun guratan pena para wartawan. Setelah menjadi Walikota di Ibuk Kota barulah khalayak mengenalnya dari dekat. Mereka mengenalnya dengan seabrek prestasi yang mampu diraihnya selama menjabat, dan menyukai kebijakan-kebijakan populisnya yang membela kepentingan rakyat kecil di atas kepentingan kelompok elit. Pentas politik Iran mamang bukan lapangan terbuka. Tidak banyak yang bisa melesat dengan cepat tanpa modal yang besar dan kuat. Tetapi, Ahmadinejad membuktikan sebaliknya. Dia menjadi orang nomor satu di Iran dengan modal paling sedikit dan popularitas paling rendah. Media massa Iran yang umumnya masih terjebak dalam polarisasi kubu reformis versus kubu konservatif, telah memasukkan ahmadinejad dalam cantolan pemberitaan mereka. Media massa cetak dan elektronik pada umumnya mengangkat nama-nama seperti Hasyemi Rafsanjani, Mehdi Karrubi, Hasan Rowhani, Mir Husein Musavi, Dr. Mostafa Moin, dan sebagainya. Yang jelas, Ahmadinejad bukanlah orang yang diunggulkan dalam pentas pemilu Iran. Apalagi, dalam sejumlah pernyataannya dihadapan publik, Ahmadinejad masih menyatakan keraguannya maju dalam pencalonan.

Dalam masa-masa pencalonannya ia mengusung jargon, “ Kami ingin melayani, bukan berkuasa”. Pernyataan ini mengindikasikan bahwasanya tidak seharusnya seorang pemimpin memperkaya dirinya sendiri semasa menjabat, namun di satu sisi rakyatnya sedang mengalami keterpurukan. Kepemimpinan dengan demikian, bukanlah sebuah “kekuasaan”, melainkan sebuah tugas, tanggung jawab dan pengorbanan.[3]

Dia adalah seorang revolusioner sejati sebagaiman halnya Imam Khomeini, tentunya dengan kedahsyatan aura yang sangat berbeda. Ahmadinejad terlihat jauh lebih “awam” dan “normal” dibandingkan dengan mentor spiritualnya yang sangat “khas” dan “mystique” itu. Ahmadinejad menjadi tokoh revolusioner yang sangat mudah dijangkau, dipahami, dan diteladani.[4]

Akibatnya, sebagaimana mentornya, dia sama sekali tidak tampak terpengaruh oleh kekuasaan yang diraihnya. Bahkan, kekuasaan itu seolah-olah tidak menyentuh karakter-karakter terdalamnya. Dan, Khomeini merupakan par excellence bagi seorang revolusioner dalam hal ini. Seorang revolusioner dalam pengertian ini seperti memiliki “kepribadian ganda”: di satu sisi, ia bisa bertarung keras untuk merebut dan mengelola kekuasaan, dan di sisi lain dia bertarung sama kerasnya untuk menolak segenap pengaruh kekuasaan terhadap aspek batinnya.

Tidak bisa tidak, dengan karakter yang sedemikian kompleks itu, seorang revolusioner seperti Ahmadinejad telah ditakdirkan untuk menimbulkan banyak kejutan dan drama. Ia merasakan bahwa dia harus maju untuk menggelindingkan apa yang disebutnya sebagai Revolusi 1384 H.S (2005) atau Revolusi ketiga dengan semboyan “Itu mungkin dan bisa kita lakukan!” (Misyavad va Mitavonim).

Tuntutan revolusi Ahmadinejad lebih menekankan pada perubahan struktur elit dan pola menjalankan roda kekuasaan. Dia menuntut elit berkuasa yang ikut menggerakkan revolusi 1979, yang dikomandani Imam Khomeini, untuk kembali menjadi revolusioner, kembali menjadi bagian dari rakyat, kembali merasakan derita dan kemiskinan rakyat. Senyampang dengan hal tersebut ia menyatakan dalam kampanyenya, “bagaimana seseorang disebut baik apabila sekian banyak orang miskin tidak terlihat olehnya”. Dia meyakini keniscayaan memutar arah, kembali mengurusi rakyat yang menjadi sumbu Revolusi 1979. “untuk mewujudkan masyarakat Islam yang maju, kita membutuhkan Revolusi Ketiga”, katanya di hadapan ribuan masyarakat Qom.

Ahmadinejad adalah anak Revolusi 1979 yang diharapkan oleh Imam Khomeini untuk terus menjaga amanat revolusinya. Ironisnya, dia harus berhadapan dengan elit berkuasa yang menggunakan revolusi sebagai tameng dan kedok untuk terus berkuasa dan melalaikan kemelaratan, kemiskinan, korupsi, dan mised administrasi yang terjadi di dalam jajaran pemerintahan Iran. Ahmadinejad telah dilahirkan oleh sebuah revolusi untuk melakukan revolusi lain. Dan revolusi ini tak pelak bakal menampar wajah sekian banyak individu dalam status-quo, menggoyang posisi dan segala rupa privilege yang mereka miliki.

Pada statemen publik pertamanya di acara Radio Republik Islam Iran sejak terpilih sebagai Presiden, mahmoud ahmadnejad menyatakan ingin menciptakan Iran sebagai model pemerintahan yang “modern, maju, dan Islami”.[5] Model pemerintahan seperti ini, menurutnya, tidak bisa tidak harus berpijak pada manajemen kerja yang kuat, profesional, bebas korupsi, dan fanatisme kelompok.

Baginya, peerintahan Islam ideal itu bukan sekedar serangkaian konsep maupun jargon, tetapi sebuah kerja keras tanpa kenal lelah yang tak bisa ditawar, bahkan dengan imbalan sesuatu sesakral demokrasi. “Kita melakukan revolusi bukan dalam rangka memiliki demokrasi”, katanya suatu ketika, mengacu pada sebagaian kelompok yang bersembunyi di balik demokrasi untuk menampung para koruptor dan menjaga konglomerat.[6]

Mantan Walikota Teheran yang kini berusia 50 tahun ini sering menyatakan bahwa konsep-konsep seperti keadilan, pemerataan, kebebasan, dan demokrasi itu nyatanya masih menjadi slogan kosong. Semua itu seringkali menjadi tameng kalangan politisi korup untuk mencari simpati rakyat, belum menjadi rangkaian program aksi dalam sebuah manajemen kerja yang kongkret. Oleh sebab itu, bagi seorang revolusioner seperti Ahmadinejad, semua konsep itu harus diperagakan secara nyata, baik dalam tingkat individu, maupun kebijakan pemerintahan. Seperti apa yang telah diutarakan oleh Ki Hajar dewantara Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani (guru harus mampu berdiri di muka memberi teladan kepada murid-murid, ditengah untuk menyemangati, dan berdiri di belakang untuk memberikan peluang berkarya). Dan itulah sebabnya dia selalu mempertahankan sikap populisnya dalam dalam menjalankan pemerintahan.

Dalam pandangan Ahmadinejad, untuk mewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera, pejabat negara haruslah memiliki standar hidup yang sama dengan kebanyakan orang dalam masyarakatnya. Pemimpin itu harus mencerminkan kehidupan nyata masyarakat di sekitarnya, dan tidak menjadi orang yang hidup di menara gading. Karena itu, kritiknya terhadap kalangan reformis yang tidak peka terhadap penderitaan rakyat rasanya tepat sasaran. Itulah persisnya mengapa dia sanggup mengubah suara rakyat Iran yang delapan tahun silam tercurah penuh (mendekati 70% suara) untuk Mohammad Khatami, Sang Reformis, menjadi perolehannya.

Dalam pemerintahannya ia menekankan pada empat prioritas utamanya, yaitu memenuhi rasa keadilan, memperhatikan kebutuhan-kebutuhan rakyat kecil, melayani semua lapisan masyarakat, dan meraih kemajuan material dan moral bagi negara dan bangsa. Berpijak pada budaya Islam yang murni dan memperhatikan semua kebutuhan rakyat bawah, pemerintahan baru akan menempatkan pelaksana keadilan di semua idang , kesetaraan dalam memperoleh kesempatan, pemberantasan kemiskinan, dan pelenyapan diskriminasi administratif dan korupsi sebagai agenda utamanya. “Sebagai pelayan masyarakat, saya wajib menjaga independensi dan kepentingan nasional Republik Islam Iran dan budaya dan aspirasi Islam serta juga membela hak-hak kewarganegaraan semua orang Iran di dalam dan di luar negeri”, ungkapnya.

Dalam salah satu pernyataan awalnya, Ahmadinejad memaparkan, “Pemerintahan ini adalah milik semua orang. Ia harus menjawab masalah semua bagian negeri. Semua bagian itu harus maju ke depan secara bersama-sama. Setiap orang Iran berhak mendapat hak setara, terutama dalam mengembangkan bakat individual”.

Seorang revolusioner sejati bukan orang yang mudah berubah-ubah karena dia bukan orang yang sedang marah dan mencari sasaran-sasaran mudah. Pandangan-pandangannya begitu terikat erat pada suatu logika revolusi yang diyakininya. Pendekatannya begitu rigorous, ketat, fokus, dan dingin bila terkait dengan prinsip-prinsip dasarnya. Namun, bila persoalan ini tidak menyangkut masalah yang mendasar, maka dia akan terlihat cukup realistis, praktis, pragmatis, dan lunak.[7]

Semua kebjakannya setelah menjabat sebagai Presiden nampak taat-asas dengan jiwa revolusionernya. Dia membagikan jutaan lembar saham gratis BUMN yang sudah menguntungkan kepada semua rakat Iran. Pengauditan sejumlah lembaga tinggi negara termasuk kantor pemimpin tertinggi Iran (Daftar Rahbar) yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan palagi diaudit serta kebijakan pengayaan uraniumnya yang menjadi perbincangan hampir di seluruh dunia.

Namun demikian, terlepas dari semua pandangan revolusionernya, Ahmadinejad juga sangat moderat dan berwawasan luas untuk ukuran orang yang disebut sebagai ultrafundamentalis oleh media massa barat. Lazimnya, gambaran kita tentang ultrafundamentalis adalah kelompok yang suka mengurusi nitty-gritty simbolik yang tidak berkaitan dengan realitas kehidupan sehari-hari manusia. Tetapi, bagi seorang revolusioner seperti Ahmadinejad yang telah mengecap pendidikan tinggi di bidang sains dan teknologi, tentu masalahnya bukan ini.


[1] Drukcer, Peter, 1986, The Frontiers of Management

[2] Moeljono, Djokosantoso, 2003, Beyond Leadership, Jakarta: Elex Media Komputindo

[3] Moeljono, Djokosantoso, 2003, Beyond Leadership, Jakarta: Elex Media Komputindo

[4] Labib, Muhsin dkk, 2006, AHMADINEJAD : David di Tengah angkara Goliath Dunia, Jakarta: PT Mizan Publika

[5] CNN, Sabtu, Juni 25, 2005

[6] United International Press, May 24, 2005

[7] Labib, Muhsin dkk, 2006, AHMADINEJAD : David di Tengah Angkara Goliath Dunia, Jakarta: PT Mizan Publika

 

 
PERSPEKTIF PERKEMBANGAN ILMU KEPEMIMPINAN PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh http://www.yakobtomatala.com/leadership.html   
Friday, 22 July 2011

Oleh: Dr. Yakob Tomatala

Melihat dari sudut pandang seni, dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah seni yang usianya setua usia manusia di bumi,   yang telah dipraktekkan dalam sepanjang sejarah manusia. Kebenaran tentang kepemimpinan yang telah dipraktekkan dalam sepanjang sejarah ini ditegaskan oleh Bernard M. Bass yang mengatakan, “The study of leadership is an ancient art. Discussion of the subject will be found in Plato, Caesar, and Plutarch, just to mention a few of classical era. The Chinese classics are filled with hortatory advice to the county’s leaders. The ancient Egyptians attributed three qualities of divinity to their king. They said of him ‘authoritative utterness is in thy mouth, perception is in thy heart, and thy tongue is the shrine of justice.’ The Egyptians demanded of their leader qualities of authority, discrimination, and just behavior.” Dari penjelasan Bass di atas dapat dikatakan bahwa berdasarkan fakta, seni kepemimpinan itu telah ada serta diterapkan secara umum, karena kepemimpinan itu adalah seni yang bersifat universal.
 Sebagai seni, kepemimpinan telah dipraktekkan oleh penguasa-penguasa dunia zaman kuno sampai kepada penguasa dari kerajaan-kerajaan tua di Timur Jauh, serta kelompok masyarakat-budaya lain yang tidak dapat disebutkan satu  persatu. Dalam kaitan ini, dapat dikatakan pula bahwa sebagai seni, kepemimpinan pun telah dipraktekkan oleh  tokoh-tokoh dunia yang  besar dan terkenal yang berkiprah dalam segala bidang kehidupan, namun, karya-karya besar mereka yang gemilang tidak dapat diklasifikasikan secara penuh sebagai karya dasar bagi ilmu kepemimpinan.
Dalam upaya menempatkan kepemimpinan pada jalur ilmu, maka langkah awal yang perlu pahami adalah lingkup dari kepemimpinan. Sebagai suatu ilmu, bidang studi kepemimpinan memiliki
tiga lingkup utama, yaitu: Pertama, elemen dasar kepemimpinan yang meliputi pemimpin, orang yang dipimpin dan situasi kepemimpinan. Kedua, doktrin dasar kepemimpinan yang meliputi perlengkapan dasar kepemimpinan (perilaku pemimpin serta sumber-sumber) dan nilai dasar kepemimpinan (nilai yang bersifat teologis dan filosofis). Ketiga, pekerjaan atau tugas dasar kepemimpinan (yang meliputi: esensi, sifat, unsur ekonomi dan lokasi kepemimpinan).
Berkaitan dengan menempatkan kepemimpinan dalam jalur ilmu seperti yang disinggung di atas, maka tugas kedua ialah mengukur karya tulis para tokoh sejarah tentang kepemimpinan. Dalam sepanjang sejarah kepemimpinan, dapat dikatakan bahwa kebanyakan karya tulis mengetengahkan pemahaman tentang kepemimpinan secara terbatas dengan menyinggung trait atau karakteristik-karakteristik serta kecakapan dan nilai-nilai kepemimpinan saja. Satu-satunya tokoh sejarah yang menuliskan tentang kepemimpinan yang dapat diambil sebagai dasar utama bagi ilmu kepemimpinan adalah karya tulisnya,
Thomas Carlyle. Tulisan Carlyle yang berjudul “On Hero and Hero Worship” memberikan tempat yang luas bagi aspek-aspek dan unsur-unsur dasar kepemimpinan yang lengkap, yang membuktikan bahwa karyanya ini adalah tonggak sejarah bagi perkembangan ilmu kepemimpinan.

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU KEPEMIMPINAN

Telah disinggung secara umum bahwa kepemimpinan sebagai seni sudah dipraktekkan oleh para pemimpin disemua tempat pada segala waktu di sepanjang sejarah yang ditandai dengan karya-karya besar mereka. Karya besar para pemimpin dimaksud mulai dari era klasik sampai zaman modern yang mewujudkan kinerja kepimpinan yang luarbiasa dalam sepanjang sejarah. Dari karya-karya tulis yang berkembang sejak era Carlyle, ada indikator kuat tentang adanya penerapan seni kepemimpinan secara universal. Dari tataran sosio-kultural, dapat pula diidentifikasi akan adanya penerapan seni kepemimpinan dengan melihat adanya peran pemimpin yang dijalankan dalam setiap kelompok. Dalam sejarah di dunia Barat, diakui bahwa istilah leader atau pemimpin itu telah ada dalam kamus berbahasa Inggris sejak tahun 1300, tetapi penggunaan istilah kepemimpinan itu baru saja ada pada pertengahan abad ke sembilanbelas. Dalam studi Timur klasik pun sudah ditemukan adanya upaya penerapan seni kepemimpinan dalam peran pemimpin serta upaya perkembangan pemimpin. Namun dapat dilihat adanya indikasi kecenderungan yang sama yaitu belum adanya konsep baku tentang kepemimpinan sebagai suatu ilmu yang dikembangkan serta diterapkan secara ilmiah.
Upaya mengidentifikasi perkembangan ilmu kepemimpinan telah dilakukan oleh, Profesor Dr. J. Robert Clinton dari Fuller Theological Seminary, School of Inter-cultural Studies yang membuat klasifikasinya kedalam beberapa era perkembangan berikut ini.

  1. Great Man Era, yang meliputi tahun 1841-1904.
  2. Trait Era, yang meliputi tahun 1904-1948.
  3. Behavior Era, yang meliputi tahun 1948-1967.
  4. Contingency Era, yang meliputi tahun 1967-1980.
  5. Complexity Era, yang meliputi tahun 1980-1986, dst.

Penggolongan di atas ini tidaklah meniadakan kenyataan penerapan seni kepemimpinan seperti yang telah disinggung di terdahulu, karena berdasarkan kenyataan bahwa kepemimpinan telah diterapkan secara universal sebagai suatu seni. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa Great Man Era yang disinggung oleh Clinton yang penerapannya ternyata melingkupi waktu kepemimpinan era klasik, yang meliputi 2500 tahun sebelum Masehi (yang diketahui secara pasti berdasarkan informasi sejarah), awal tahun masehi, sampai pertengahan abad ke sembilanbelas yang berujung pada karya Thomas Carlyle, memasuki abad ke duapuluh (1904). Dalam Trait Era (1904-1948) ilmu kepemimpinan cenderung bergerak pada tataran teoretis, dimana penekanan tentang ilmu kepemimpian begerak secara ekstensif seputar lingkup teori yang bersifat fenomenal. Dalam pengembangan teori kepemimpinan pada era ini, para pakar cenderung mengembangkan landasan teori seputar pemimpin dan karakteristik-karakteristik kepemimpinan khas yang ada pada para pemimpin. Karakteristik-karakteristik kepemimpinan dimaksud menunjuk kepada beberapa fenomena sebagai indikator pentingnya. Memasuki era behavioral, era contingency dan era complecity, para teorisian mulai menyadari pentingnya memahami hubungan interaktif di antara pemimpin, orang yang dipimpin dan varibel situasi yang situasional, serta faktor-faktor kompleks lain sebagai turut menentukan efektivitas, efisiensi dan kesehatan hubungan dalam optimalisasi kepemimpinan.
Dalam upaya mengembangkan pemahaman tentang sejarah dan perkambangan ilmu kepemimpinan, seperti yang disinggung di atas ini, sangatlah diperlukan adanya pandangan yang bersifat terbuka dari setiap pembelajar, karena pandangan terbuka seperti inilah yang akan menolongnya untuk mendalami studi kepemimpinan yang telah berkembang dengan sangat pesat seperti yang diuraikan di atas yang terbukti telah mempengaruhi segala bidang hidup. Perkembangan dan pengaruh ini nampak dalam indikator fenomenal pada masa kini, dimana pemimpin dan kepemimpinan tidak sekedar diedintifikasi dengan sebutan tradisional seperti kepemimpinan atau pemimpin visioner, kharismatik, reformatif, transformatif, futuristik, dan sebagainya, tetapi juga disebut dengan kepemimpinan serta pemimpin pos-mo, informatif, global, dan seterusnya.
 Kenyataan lain yang menunjuk kepada kepentingan studi kepemimpinan ini ialah bahwa kepemimpinan yang ternyata dibutuhkan dalam segala bidang kehidupan itu, haruslah digumuli dengan sungguh-sungguh sebagai dasar bagi pembuktian keberhasilan hidup dan kinerja dari semua pemimpin pada setiap organisasi. Kebenaran ini didasarkan atas hakikat ilmu kepemimpinan itu sendiri sebagai suatu lmu kemanusiaan yang lugas dan terbuka, yang menyebabkan kepemimpinan dapat disebut sebagai ilmu ujung tombak. Sebagai ilmu ujung tombak, kepemimpinan tidaklah berdiri sendiri, karena seseorang tidak dapat berpretensi bahwa dengan mempelajari dan menguasai seperangkat ilmu kepemimpinan, ia telah menjadi pemimpin yang kompeten. Sebaliknya mengusai ilmu-ilmu lain tanpa ilmu kepemimpinan menyebabkan kepemimpinan seseorang menjadi tumpul. Kebenaran ini diperkuat dengan kenyataan bahwa apabila seseorang mempelajari ilmu kepepinan dan menguasai ilmu-ilmu pendukung lainnya, teapi ia tidak konsisten menerapkannya dalam kepemimpinan yang actual, maka ia bukanlah seorang pemimpin yang sejati.

Jakarta, Januari 2008
Dr. Yakob Tomatala

Pernyataan ini menunjuk pada adanya dua hal penting yang sangat mendasar, yaitu antara lain: Satu, elemen dasar kepemimpinan yang dapat ditemukan dimana-mana yakni: Pemimpin, Orang yang dipimpin, dan Situasi Kepemimpinan. Kedua, adanya tokoh-tokoh pemimpin yang telah membuktikan kinerja kepemimpinan yang gemilang sebagai praktisi kepemimpinan dalam lintasan sejarah. Dengan melihat unsur elemen dasar kepemimpinan dan adanya para tokoh pemimpin yang disebut di atas, maka dapat dibuktikan bahwa kepemimpinan sebagai seni telah dipraktekkan sejak lama.

Istilah sejarah (history – Inggris, yang berakar dari kata  histor  atau istor, eidenai, to know; historia – Latin/ Yunani, yang berarti learning by inquiry,  knowledge, a narrative. Sejarah secara lengkap, harus dilihat sebagai kejadian atau fakta (histoire realite) dan sebagaimana dituturkan (histoire recite).

Bernard M. Bass, STOGDILL’S HANDBOOK OF LEADERSHIP., 1981, halaman 5.

Sebagai contoh, menurut Bernard M. Bass, Plato dalam tulisannya the Republic, mengklasifikasikan pemimpin dalam tiga tipe, yaitu: 1. Filosofer-negarawan yang memerintah dengan reason dan justice; 2. Pemimpin militer yang membela dan mendukung kehendak Negara; 3. Pebisnis yang menyediakan kebutuhan materi bagi warga Negara dan memuaskan kebutuhan rendah mereka. Loc. Cit. halaman 17. Walau pun demikian, karya Plato tidak dapat digolongkan sebagai karya kepemimpinan murni.

Untuk keterangan lengkap tentang lingkup studi kepemimpinan, lihat buku karya Yakob Tomatala, Kepemimpinan Yang Dinamis, tahun 1997, halaman 19-28.

Buku ini juga menyinggung tentang unsur-unsur dasar lain dari studi kepemimpinan.

Thomas Carlyle adalah keturunan Skotlandia yang lahir pada  4 Desember 1795- dan meninggal pada 6 Februari1881. Carlyle adalah penulis esai (essayist) dan sejarawan (historian) yang hidup sezaman dengan John Stuart Mill, filsuf dan ahli ekonomi Inggris (1806-1873). Karya besar Carlyle ialah buku French Revolution, dan buku sejarah A Complete History of Commonwealth. Tahun 1937-1840, ia diundang ke Amerika untuk memberikan kuliah mengenai German Literature dan On Hero and Hero Worship. Tulisan terakhir inilah yang dibukukan pada tahun 1841, yang merupakan bukuilmu  kepemimpinan pertama yang berbicara tentang lingkup dasar studi kepemimpinan. Buku “On Hero and Hero Worship” ini diterbitkan di Amerika oleh Penerbit Adams, di Boston tahun 1907 (Grolier Encyclopedia).

Kepemimpinan secara dinamis telah berkembang begitu rupa mulai dari kepemimpinan klasik sampai dengan kepemimpinan baru pada Abad XXI yang disebut kepemimpinan global.

Lihat penjelasan B. M. Bass, Op. Cit., halaman 9.

Dalam literatur klasik Tiongkok, Jepang, India, dsb., dapat ditemukan penjelasan tentang pemimpin dan karakteristik pemimpin serta peran pemimpin dan pengembangan kepemimpinan (Lihat: Pembinaan pemimpin yang dikembangkan oleh kelompok Shaolin di Tiongkok), namun kepemimpinan sebagai suatu ilmu belumlah ditemukan di sini.

Lihat, J. Robert Clinton dalam Reader. Loc. Cit.

Para teorisian dalam Great Man Era cenderung menunjuk kepada pemimpin dengan memberikan penekanan pada faktor biologis, sosiologis dan cultural bawaannya sebagai landasan teoritis.

Teorisian pada Era Trait menunjuk kepada karakteristik-karakteristik kepemimpinan yang ada pada pribadi pemimpin sebagai landasan teoretis. Bernard M. Bass mengidentifikasi beberapa kecenderungan dari pandangan  mereka antara lain, bahwa para pemimpin pada era ini cenderung memandang pemimpin sebagai fokus dari perubahan kelompok, aktivitas dan proses kepemimpinan. Tokoh-tokoh teorisian ini antara lain, Mumford (1906-1907), Blackmar (1911), Chapin, (1924), L.L. Bernard (1927), M. Smith (1934), J.F. Brown (1936), Redl (1942) dan Kretch and Crutchfield (1948). Ibid, halaman 7-8.

Lihat B.M. Bass, Ibid., halaman 3-40; J.R. Clinton, Reader. Op. Cit. halaman 7-45; Yakob Tomatala, Kepemimpinan yang Dinamis. Tahun 1997., halaman 1-39; Banding: R.L. Hughes, Et. Al., LEADERSHIP: Enhancing the Lessons of Experience. Tahun 2001., halaman 3-76 (lihat halaman 22-47).

Studi kepemimpinan mulai marak di Indonesia pada tahun sembilan puluhan, dengan munculnya upaya dan gerakan yang terlibat dalam pengembangan kepemimpinan melalui pelatihan informal-non-formal serta institusi-institusi pendidikan. Tonggak studi kepemimpinan dalam lingkungan Kristen mulai diperhatikan dengan serius tatakala Departen Agama RI, dalam hal ini BIMAS Kristen untuk pertama kali menyelenggarakan Seminar Sehari tentang Kepemimpinan Kristen pada tanggal 5 Agustus 2002, dimana penulis adalah penceramah utama.

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 19 - 24 dari 73


 

Salam MLCKegiatanReportaseSeputar KepemimpinanKata MutiaraDialogProfile

Copyright © 2008 Michel El Qudsi Leadership Centre (MLC). All Rights Reserved.
Design by Situsmurah.com.
Untuk tampilan terbaik gunakan Firefox 3