|
|
|
|
Cerita Bermakna
|
Ditulis Oleh www.sahabatsurgawi.net/
|
|
Saturday, 24 July 2010 |
Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam. Tapi, malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku ketika telepon di samping tempat tidur berdering-dering. Aku berusaha melihat jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu menunjukkan tepat tengah malam.
Dengan panik aku segera mengangkat gagang telepon. "Hallo?" dadaku berdegub-degub kencang. Aku memegang gagang telepon itu erat-erat. Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat. "Mama?" terdengar suara di seberang sana. Aku masih bisa mendengar bisikannya di tengah-tengah dengung telepon. Pikiranku langsung tertuju pada anak gadisku. Ketika suara itu semakin jelas, aku meraih dan menarik-narik pergelangan tangan suamiku. "Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan... jangan berkata apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan, sebelum mama menanyai aku macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari ini aku lari dari rumah, dan..."
Aku tercekat. Nafasku tersenggal-senggal. Aku lepaskan cengkeraman pada suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan pikiranku. Aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak beres. "...Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah melukai hati mama. Aku tak mau mati di sini. Aku ingin pulang. Aku tahu tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar-benar cemas dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud menelepon mama beberapa hari yang lalu, tapi aku takut... takut..."
Ia menangis tersedan-sedan. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba. Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih, "Begini..." "Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara." ia meminta. Ia tampak putus asa. Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku katakan. Sebelum aku menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan, "Aku hamil ma. Aku tahu tak semestinya aku mabuk sekarang, tapi aku takut. Aku sungguh-sungguh takut!" Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan, "Siapa itu?" Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan ketika aku tidak menjawab pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali sambil membawa telepon portable. Ia mengangkat telpon portable yang tersambung pararel dengan teleponku. Terdengar bunyi klik. Lalu suara tangis suara di seberang sana terhenti dan bertanya, "Mama, apakah mama masih ada disana? Jangan tutup teleponnya ma. Aku benar-benar membutuhkan mama sekarang. Aku merasa kesepian."
Aku menggenggam erat gagang telepon dan menatap suamiku, meminta pertimbang annya. "Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup telepon," kataku. "Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama hanya menyu ruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama tak mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku. Mungkin mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama pikir mama punya semua jawaban atas perso alanku. Tapi terkadang aku tak membutuhkan nasehat mama. Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku."
Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan. Pandanganku tertuju pada pamflet "Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda" yang tergeletak di sisi tempat tidurku. "Mama mendengarkanmu," aku berbisik. "Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di perutku dan bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah panggil taxi. Aku mau pulang sekarang." "Itu baik sayang," kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan dadaku. Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan jemarinya. "Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri mobil sendiri" "Jangan," cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman tangan suamiku. "Jangan. Tunggu sampai taxinya datang. Jangan tutup telepon ini sampai taxi itu datang." "Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama." "Mama tahu. Tapi, tunggulah sampai taxi datang. Lakukan itu untuk mamamu."
Lalu aku mendengar senyap di sana. Ketika aku tak mendengar suaranya, aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimana pun aku harus mencegahnya mengemu dikan mobil itu sendiri. "Nah, itu taxinya datang." Lalu aku dengar suara taxi berderum di sana. Hatiku terasa lega. "Aku pulang ma," katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telepon itu. Airmata meleleh dari mataku. Aku berjalan keluar menuju kamar anak gadisku yang berusia 16 tahun. Suamiku menyusul dan memelukku dari belakang. Dagunya ditaruh di atas kepalaku. Aku menghapus airmata dari pipiku. "Kita harus belajar mendengar kan," kataku pada suamiku. Ia terdiam sejenak, dan bertanya, "Kau pikir, apakah gadis itu sadar kalau ia telah menelepon nomor yang salah?" Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada suamiku, "Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah."
"Ma? Pa? Apa yang terjadi?," terdengar gadisku menggeliat dari balik selimutnya. Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap, "Kami baru saja belajar," jawabku. "Belajar apa?" tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya terpejam lagi. "Mendengarkan," bisikku sambil mengusap pipinya. |
|
|
Ditulis Oleh Dikutip dari Artikel : http://pyoon.wordpress.com
|
|
Saturday, 17 July 2010 |
|
Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. “Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?” ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.“Anakku,” ucap sang induk kemudian. “Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik.” jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu? ” tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.
“Anakku. Itu cuma angin,” ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. “Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!” tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.
“Blarrr!!!” suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!” ucapnya sambil terus memejamkan mata. “Sabar, anakku!” ucapnya sambil terus membelai. “Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah.
Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang,” ungkap sang induk katak begitu tenang. Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, “Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!”
Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum. Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan.Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.
– Anonymous -
|
|
|
Ditulis Oleh www. xenology.forumotion.com
|
|
Saturday, 26 June 2010 |
Suatu ketika terjadi perdebatan antara 5 buah jari
Ibu Jari dengan sombong berkata: " Akulah yang paling tua dan paling besar diantara kalian , akulah sang ibu dari semua jari , kalian harus tunduk dibawah aku !"
Telunjuk pun menjawab : "Aku yang paling berkuasa , aku yang berhak memerintah , aku hanya perlu menunjuk dan semua pun mengikuti perintahku !"
Jari Tengah pun menyahut : "Akulah yang paling tinggi derajatnya diantara kalian semua , kalian semua lebih rendah dari aku , kalian lah yang harus tunduk kepada ku !"
Jari manis pun tak mau kalah : "Aku yang paling kaya diantara kalian , aku ber-mahkota-kan cincin berlian yang mahal , jadi kalian yang tidak punya apa-apa yang harus tunduk padaku !"
Kelingking dengan penuh santun berkata : "Mungkin akulah yang paling kecil , aku paling rendah diantara kalian , tapi biarlah karena meskipun aku rendah dimata kalian , tapi akulah yang terdekat dengan sang Buddha . Karena disetiap Anjali , akulah yang menghadap terdepan dalam menghormati Sang Buddha , aku tak punya apapun yang bisa dibanggakan dari fisikku , tapi aku hanya berbangga pada imanku kepada Dhamma ."
Pesan bijak dari kisah diatas ialah meskipun kita memiliki kekurangan dan tidak sebanding dengan orang lain , jangan lah kita memiliki sifat iri dan dengki , sebaiknya berusaha saja semampu kita untuk memperbaiki kekurangan itu , sebab meskipun kita memiliki kekurangan , asalkan iman kita kuat dan kita berjalan dalam Dhamma , justru kitalah yang paling berlebih diantara semua orang yang punya kelebihan fisik maupun materi namun tidak punya iman . |
|
|
Ditulis Oleh Suryani Meciyen (catatan dinding facebook Mohammad Ichlas El Qudsi)
|
|
Saturday, 19 June 2010 |
Kisah penjual nasehat....Alkisah ada seorang saudagar yg kaya raya, ketika akan wafat ia memanggil 2 anaknya Aman dan Amin..Aman , Amin aku hanya mewariskan harta dan sebuah nasehat yg harus kalian pilih,akhirnya aman memilih harta dan Amin memilih nasehat, syarat nya nasehat ini harus kau jual, dan dibisikkanlah nasehat itu kepada Amin oleh ayahnya sebelum menutup mata dan menghembuskan nafas terakhir. Seminggu kemudian pergilah Amin masuk kampung keluar kampung menjajakan nasehat, hingga pada suatu hari sampailah Amin disebuah kerajaan yg kondisi rakyatnya sangat miskin. Raja dikerajaan itu sangat heran dan ingin tahu nasehat apa gerangan yang dijajakan oleh Amin.Akhirnya sang Raja memanggil Amin, dan menanyakan apa gerangan nasehat berharga yang dijual oleh Pemuda itu. Raja : hai pemuda apa gerangan Nasehat berharga yg begitu gigih kau jajakan sampai berjalan sejauh ini? Amin : Nasehat ini sangat Rahasia dan berharga Baginda, Raja : Baiklah aku akan membayarmu 1000 dirham segeralah katakan apa itu? Amin : Baiklah , tapi syaratnya Baginda harus melakukan apa yg diktakan oleh nasehat ini nanti. Raja : Baik aku berjanji lalu amin membisikkan nasehat yg bunyinya :DARI PADA TIDUR LEBIH BAIK DUDUK, DARI PADA DUDUK LEBIH BAIK BERDIRI,DARI PADA BERDIRI LEBIH BAIK BERJALAN... Akhirnya sang raja berjalan keliling kampung dan sangat terkejut melihat keadaan rakyatnya yang miskin,, baginda raja menyadari bahwa laporan perdana menteri dan orang kepercayaannya diistana adalah bohong belaka. Baginda sangat menyesali sikapnya selama ini, dan Ermengarde Amin jadi Perdana Menteri...Rakyat sangat bersuka Cita menyambut perobahan Baginda yang kembali membagun desa dan memakmurkan rakyatnya... Diperbarui sekitar sebulan yang lalu · Laporkan Catatan |
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Saturday, 19 June 2010 |
|
“Bambu memiliki cara yang unik dalam bertumbuh dengan merumpun dan menggandakan ruas serta mengoptimalkan panjang dan diameter ruas tersebut...hikmah yang dapat kita ambil adalah, bertumbuh memiliki aspek pembangunan komunitas yang tidak boleh ditinggalkan, mengembangkan berbagai aktivitas dan ranah serta mengoptimalkannya hingga memiliki nilai guna yg tdk kecil”. (Mohammad Ichlas El Qudsi)
Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan yang mempunyai batang berongga dan beruas-ruas, banyak sekali jenisnya dan banyak juga memberikan manfaat pada manusia. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru.
Di balik ragam nama dan fungsi itu, tumbuhan bambu mengandung arti dan makna filosofis yang dalam. Makna filosofis itu kemudian, berpautan dengan nilai-nilai edukasi hidup, yang bermanfaat dalam membangun jiwa.
Dalam ciri fisiologisnya, bambu tumbuh secara berumpun dengan menggandakan ruas serta mengoptibalkan panjang. Meski tumbuh secara berumpun, antara satu ruas dengan ruas yang lainnya tidak saling berparasit. Mereka seimbang dan saling menopang, untuk kelangsungan hidupnya
Jejak fisiologi bambu ini, seolah menguraikan untaian nilai yang begitu berharga. Bahwa jika setiap manusia meskipun berada dalam suatu komunitas secara bersama, namun tidak saling merugikan, menzalimi, iri, dengki, saling menghasut dan bermusuh-musuhan. Namun sebaliknya saling mengayomi, saling membesarkan secara berjejaring.
Hidup dengan memaknai falsafah tumbuhan bambu ini, akan membuat manusia tidak lupa diri dan selalu ingat asal-usulnya. Sebagaimana bambu, yang meskipun dari setiap ruasnya tumbuh dan berkembang menjadi bambu dewasa dengan panjang dan diameter yang berubah memanjang dan memembesar dari waktu ke waktu. Meskipun demikian, tumbuhan bambu tidak pernah beranjak dari rumpunnya. Demikian pun manusia. Sifat selalu ingat pada asal-usul adalah sifat yang akan membuat manusia rendah diri, tidak sombong apalagi takabbur.
Hikmah tumbuhan bambu juga mengajarkan manusia tentang pentingnya menjaga komunitas. Karena meski dengan pikiran dan ide besar, tapi ketika manusia tidak memiliki komunitas, maka pikiran-pikiran besar itu akan mengalami pengkerdilan. Karena terpenjara dalam individualitas.
Demikian pula, bila sesorang yang dibesarkan oleh komunitas, dan menjadi populer, berkedudukan, berpangkat, namun jangan pernah lupa dengan asal komunitas. Sebab komunitas asal adalah tempat kembali untuk saling berbagi untuk meneguk kebahagiaan yang sama. Seperti ketika berjuang dan berawal segalanya dari komunitas. Hikmah itulah yang dapat kita reduksikan dari makna falsafah pohon bambu. Makhluk ciptaan Tuhan yang memang sepintas terlihat berserahkan bahkan tak dianggap, tapi mengandung arti hidup yang dalam. |
|
| | << Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 Berikutnya > Akhir >>
| | Hasil 1 - 9 dari 30 |
|
|