| TIGA CALEG PAN PAPARKAN PROGRAM
PADANG, METRO -- Tiga Caleg Partai Amanat Nasional (PAN) di tiga tingkatan, Selasa (6/1) bertandang ke Carano Room. Selain menggelar silaturrahmi, di hadapan jajaan redaksi Riau Pos Group (RPG) Divre Padang , mereka juga memaparkan program dan visinya memajukan daerah. Ketiganya adalah Caleg DPR RI M. Ichlas El Qudsi, Caleg DPRD Sumbar Dapil I Yandri SPd MPd dan Ivoni Munir, Caleg DPRD Kabupaten Solok Dapil Solok III nomor urut 9.
Dalam pertemuan yang dipimpin Pimpinan Perusahan Padang Ekspres Wiztian Yoetri, M. Ichlas menyebutkan, sejumlah kelatahan sedang melanda Sumbar hari ini. Banyak terjadi tumpang tindih kebijakan, yang pada akhirnya tidak memunculkan potensi yang ada namun, saling “membunuh” antar daerah. Dalam bidang pariwisata, jelas alumni SMA 2 Padang ini, sejumlah daerah rame-rame membuat waterboom. Setelah Sawahlunto sukses dengan waterboomnya, Padangpanjang juga membuat hal yang sama dengan nama minang fantasi. Hal yang sama juga akan ditempuh Kota Padang , Pariaman dan bukan tidak mungkin sejumlah daerah lainnya di Sumbar. “Akibatnya tidak ada produk unggulan. Kenapa tidak dipikirkan hal lain, mengapa harus dilakukan duplikasi. Biarkan Sawahlunto dengan waterboom, dan yang lain bisa mengambil peran pendukung. Seperti menyediakan peralatan waterboom misalnya,” kata Michel. Dia menilai, duplikasi pariwisata sebagai bentuk kelatahan menggarap potensi. Padahal, setiap daerah memiliki potensi berbeda. Caleg dari Dapil I Sumbar ini melihat, selain pariwisata, Sumbar juga memiliki potensi di perkebunan dan pendidikan. Dengan kesuburan tanah yang tidak diragukan lagi, harusnya Agrobisnis dan Agroindutri bisa menjadi sumber pendapatan utama. Namun nyatanya, sektor ini masih dianaktirikan. Persoalan sebenarnya, kata Michel, ada pada ketidakmampuan pemerintah menciptakan added value (nilai tambah) dari produk-produk pertanian. Selama ini Sumbar masih terfokus pada ekspor produk perkebunan dalam bentuk barang mentah. Belum ada upaya memodifikasinya untuk menaikan nilai. “Kita tahu, Sumbar ini sangat kaya dengan minyak atsiri. Namun kita mengekspor cengkeh dalam bentuk mentahnya. Kenapa tidak dibuat industri pengolahan menjadi minyak atsiri,” jelas alumni Biologi Unand ini. Selain tidak mampu menciptkan nilai tambah, produk pertanian Sumbar masih diarahkan pada ekspor. Akibatnya saat terjadi krisis keuangan seperti hari ini, sektor perkebunan dan pertanian Sumbar nyaris kolaps, akibat turunya permintaan. “Satu hal lagi terjadi penyeragaman tanaman perkebunan. Satu daerah tanam sawit, daerah lainnya juga menaman yang sama. Akibatnya tidak terjadi one village, one product. Itu yang saya sebut sebagai duplikasi dan kelatahan,” ungkapnya. Di bidang pedidikan, kata Michel, juga tidak jauh berbeda. Meski berstatus sebagai perguruan tinggi tertua di luar Pulau Jawa, Unand belum bisa bicara banyak di tingkat nasional. Padahal, Minangkabau adalah gudangnnya para cendikiawan. “Tekad memperbaiki tiga sektor itulah yang mendorong saya untuk memberanikan diri maju sebagai Caleg,” tegasnya. (nto) |