|
M. Ichlas El Qudsi di Padang Ekspres, Membangun Mesti Kreatif
Sumatera Barat punya potensi melimpah. Sayang sejauh ini, potensi belum digarap maksimal. Sektor kelautan, alam yang mempesona, dan lahan yang subur belum memberikan kemakmuran bagi rakyat. Ini diperparah oleh konsep pembangunan yang tak jelas, dan koordinasi antarkabupaten/kota yang kurang berjalan. Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Amanat Nasional, M. Ichlas El Qudsi berdiskusi dengan jajaran Redaksi Padang Ekspres, di Carano Room Padang Ekspres, kemarin. Akibat tak adanya konsep yang jelas dan tak adanya koordinasi antardaerah kabupaten/kota, muncul sikap latah bupati/wali kota dalam membangun. Masing-masing kepala daerah saling meniru. Padahal antara kabupaten/kota beda kondisi. “Inilah salah satu penyebab sektor pariwisata dan perekonomian di Sumbar tidak berkembang. Lihat saja, yang satu membuat waterboom, semuanya ingin membuat,” kata lulusan S2 Universitas Indonesia ini. Begitu pula, kata M. Ichlas El Qudsi, di sektor perkebunan, dan sektor lain. Semua daerah fokus pada satu atau dua komoditi yang sama. Diskusi yang dipandu Wakil Pemimpin Umum Padang Ekspres Wiztian Yoetri itu, juga dihadiri Caleg DPRD Sumbar Yandri dan Caleg DPRD Kabupaten Solok Ivoni Munir, Pemimpin Redaksi Posmetro Padang Sukri Umar dan Wakil Pemimpin Redaksi Padang Ekspres Montosori. Kondisi yang saling meniru itu akhirnya menyebabkan terjadinya persaingan tidak sehat antara satu daerah dengan daerah lainnya. Perekonomian masyarakat menjadi rapuh dan sulit bergerak. Apalagi jika benar-benar terjadi krisis di tahun ini. Seharusnya, kata Michel—panggilan Muhammad Ichlas El Qudsi—bupati dan wali kota memiliki komoditi dan wisata unggulan tersendiri di daerahnya. “Seharusnya ada duplikasi kreatif, tidak hanya latah meniru apa yang dibuat daerah lain,” ujar Michel yang pada Pemilu 2009 “bertarung” di Daerah Pemilihan 1 Nomor Urut 3. Agar tidak tumpang tindih, Michel menyarankan agar Pemprov melakukan koordinasi. Dengan menerapkan pola one village, one product atau satu daerah satu produk sehingga basis perekonomian masyarakat menjadi kuat. Daerah punya keunggulannya masing-masing. Untuk jangka panjang, putra sulung Alm. H. Helmi Nisan dan Dra. Hj. Yulmidar Syafei ini mengatakan, pemerintah jangan hanya berorientasi ekspor dalam memasarkan komoditi unggulannya. Sudah harus mulai dipikirkan bagaimana agar komoditi tersebut dipasarkan dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi mengisi kebutuhan lokal. Misalnya dengan mendirikan pabrik pengolahan komoditi seperti sawit, cengkeh, kelapa, dan kulit manis. “Sumbar punya potensi besar untuk itu. Jika itu dilakukan maka pertani dan daerah bisa memperoleh value added (nilai tambah). Saat terjadi kelesuan pasar internasional, masih dapat diselamatkan lewat penjualan di dalam negeri,” tegas alumni SMA Negeri 2 Padang ini. Untuk jangka pendek menghadapi ancaman krisis global di tahun 2009, pemerintah daerah perlu memanfaatkan dan mengelola potensi lokal. “Meminilisir penggunaan produk-produk dari luar negeri,” tambah Michel yang menamatkan pendidikan SI di Fakultas MIPA Universitas Andalas ini. Sedangkan untuk sektor pariwisata, pengelolaan objek, paket dan iven pariwisata dinilainya tidak berjalan maksimal dalam menarik wisatawan datang ke Sumbar. Link dengan travel agen dari dalam maupun luar negeri dalam memasarkan paket wisata pun belum begitu terlihat. Apabila itu sudah ada, maka wisatawan bisa mendapat gambaran jelas objek-objek wisata yang akan dikunjungi saat sampai di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), pintu gerbang masuknya wisatawan.
Kinerja Legislatif Berbicara soal anggota legislatif, mantan aktivis Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) itu menyebutkan, ke depan perlu adanya uji publik terhadap keputusan atau peraturan yang akan dan telah dibuat DPR dan DPRD. Peraturan seperti Perda APBD dan UU APBN harus diumumkan secara luas kepada masyarakat. “Wakil rakyat juga mesti melaporkan kinerjanya secara transparan ke publik. Punya sensitivitas, “ kata Michel yang juga pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Institute For Exelent Leadership Development (IELD) di Jakarta. Anggota legislatif juga mesti didukung potensi yang ada di dalam dirinya, sehingga memahami tugas dan fungsinya serta tidak menjadi “mentimun bungkuk” atau tumpul saat berada di gedung dewan. “Jika terpilih menjadi anggota DPR, Saya akan membuat posko untuk menampung aspirasi masyarakat dan secara periodik mengunjungi Sumbar,” ujar suami Hj. Difla Wiyani, SH ini. (***)
|