|
(Membaca Kembali Pikiran Paulo Freire)
Paulo Freire bukanlah seorang politisi, Ia juga bukan seorang tekhnokrat atau sosok yang punya sahwat untuk berkuasa, tetapi menjelajahi pikiran-pikirannya seolah menemukan permata yang hilang. Pikiran-pikirannya adalah kedalaman dari karakteristik seorang pemimpin yang serba peduli, prihatin bahkan terlibat dalam riuh-rendahnya dehumanisasi atas hak orang-orang lemah. Ia adalah sosok guru, sekaligus sebuah laboratorium bernyawa yang terus menghembuskan semangat perlawanan melalui pikiran-pikiran eduktaifnya yang progresif. Ia adalah seorang pemikir pendidikan yang sangat anti terhadap mazhabisme pendidikan, tetapi menimbang pemikirannya seolah menemukan tesis bagi sebuah pendidikan karakter yang kiritis atau boleh dibilang ia adalah representatif dari mazhab kritis, terutama anasir-anasir pemikirannya dalam melahirkan karakter pemimpin masa depan. Kegagalan kita dalam melahirkan suatu mainstream kepemimpinan progresif sebenarnya terpecundangi oleh tipekal mazhab abu-abu yang turut menambah kerunyaman dalam mencari sosok pemimpin yang berpihak. Dari sini, yang pelu kita jujuri adalah dari rahim manakah tipekal pemimpin harus dilahirkan ? Setelah mempreteli sejumlah segment yang dianggap patut dan bisa diharapkan, ternyata pendidikanlah yang menjadi aspek urgensif dan fariabel utama dalam menumbuhkan karakteristik pemimpin yang ideal itu sejak dini. Lembaga pendidikan seharusnya menjadi media utama yang menanamkan dasar-dasar kepemimpinan progresif. Terobosannya adalah menganeksasikan leadership content dalam struktur kurikulum, bahkan pada segmen makro pendidikan sekalipun kepedulian terhadap regenerasi kepemimpinan progresif-ideologis sesegerah mungkin diagendakan. Keseluruhan pemikiran Freire, selalu bertolak dari kehidupan nyata, bahwa di dunia ini sebahagian besar orang menderita sedemikian rupa sementara sebahagian lainnya menikmtai jerih payah orang laindengan cara-cara yang tidak adil. Mayoritas kaum tertindas menjadi tidak manusiawi karena hak asasi mereka dinistakan, karena mereka dibuat tak berdaya dan dibenamkan dalam kebudayaan bisu (submerged in the culture of silence). Menurut Freire di sinilah titik kronik problem kemasyarakatan. Dari dua titik pemikiran Freire ini, kita sudah bisa memastikan bahwa, corak kepemimpinan seharusnya lahir dari semangat mengubah realitas, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Freire. Pemimpin bukanlah suatu status atau legitimasi sosial yang lahir dari konsesnsus otau reproduksi hirarki sosial tertentu. Akan tetapi kepemimpinan adalah suatu puncak atau kulminasi dari kesadaran terhadap situasi sosial yang despotik atau atau situasi kemelaratan rakyat. Jika dijejali secara epistemologi, maka ada dua perbedaan dari model atau tipelogi kepemimpinan yang terilhami oleh pemikiran Freire : Pertama : Pemimpin yang lahir dari suatu mekanisme atau reproduksi komponen hierarkis sosial, baik itu birokrasi, lembaga-lembaga sosial dominan, ataupun institusi yang bermerek atau dekat dengan kekuasaan. Kepemimpinan yang lahir dari mekanisme produk sosial seperti ini, cenderung mementingkan aspek-apsek formal kenegaraan, kekuasaan dan normatifisme hukum. Sementara itu persoalan-persoalan sosial sosial seperti marginalisasi, despotisme, penggusuran dan seterusnya hanya sebatas terlintas dipikiran mereka melalui ceramah, pidato atau tontonan presesntasi angka-angka statistik yang rigid dan akademistik. Kedua : Kepemimpinan yang lahir dari suatu realitas penindasan, atau pemimpin yang lahir dari keterlibatan secara langsung dalam seluruh problem sosial spesifik yang menistakan rakyat. Bahkan Ia merupakan bagian dari suatu komunitas tertindas. Karakteristik pemimpin seperti ini cenderung peduli, bahkan menggerakkan seluruh kekuatan organik sosial dan birokratis untuk keluar (beyond) dari suatu keterikatan despotisme yang sistemik. Dari analisis terhadap dua karakteristik pemimpin di atas, ternyata karakteristik kepemimpinan yang pertama cenderung surfive dan terus mewabah ditengah arus liberalisasi demokrasi dan kapitalisasi seluruh sistim dan sub-sistim sosial. Selama karakteristik ini tetap bertahan atau dipertahankan dalam ranah sosial, maka desosialisasi akan terus terjadi secara massif, orang-orang kecil terus terpinggirkan. Lalau hal apa yang perlu kita lakukan? Freire dalam suatu pemikirannya, dikemukakan bahwa “manusia dan dunia menjadi pusat masalah” ditegaskan Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau obyek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak, mengatasi dunia serta realitas yang menindas. Dunia dan realitas atau realitas dunia ini “bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya”, dan karena itu, “harus diterima menurut apa adanya” sebagai suatu takdir atau semacam nasib yang tak terelakan, semacam mitos. Manusia harus menggeluti dunia dan realitas dengan penuh sikap kritis dan daya cipta, dan hal itu berarti mengandaikan sikap orientatif yang merupakan pengembangan bahasa pikiran (thought of language), pada hakekatnya manusia mampu memahami keberadaan dirinya dan lingkungan dunianya, dan dengan bekal pikiran dan tindakan “praxix” nya ia mengubah dunia realitas. Dari sinilah semangat kepemimpinan dimulai. Sosok pemimpin tarnsformatif yang mampu mengubah realitas. Dari suatu situasi yang tertindas, terbelenggu menjadi yang bebas dan tercerahkan. Semoga
|