Selamat Tahun Baru Hijriah 1431 H
Menyalami 1 Muharram 1431 H dan Revlusi Kesadaran
Kriminalisasi KPK, Perselingkuhan Markus dengan lembaga peradilan di Indonesia, serta Skandal Bank Century adalah kecelakaan moral di tahun 1430 H. Sebenarnya banyak kejadian aneh dan membingungkan di negeri ini harus segerah kita lupakan, karena telah terbit fajar baru 1 Muharram 1431 H serta berderingnya lonceng kehidupan pagi yang menandakan adanya perubahan dimensi waktu. Perubahan ini, menuntut berbagai hal yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan ummat manusia, menuju nilai-nilai kehidupan baru yang lebih baik dan berkeadilan.
Perubahan dan fase baru kehidupan ini, telah menyeret kita pada suatu masa depan yang penuh dengan harapan dan cita. Waktu dan perubahannya bukanlah sebuah rotasi materi belaka, namun di dalamnya menyiratkan adanya kesertaan hakekat perubahan yang bertumpu pada realitas tertinggi (sang pemilik waktu). Artinya, sebagai subyek yang juga berdialektika secara integral dengan perubahan waktu, dan sebagai makhluk makro kosmos, kita harus bisa memastikan bahwa, perubahan waktu memiliki titik tanda pada transformasi diri, keluarga, masayarakat, agama serta negara dan bangsa. Sebab gerak alamiah waktu sesungguhnya merupakan sebuah pergantian kepribadian manusia yang berotasi mengitari nurani dan cahaya hati. Bukan sebuah gerak materi kosmos semata. Karena nurani manusia secara hakekat merupakan inti atau pusat orbit kehidupan itu sendiri.
Olehnya itu, gerak waktu dari yang kemarin ke ke saat ini, harus memiliki konsekuensi logis pada hal-hal yang baru dalam diri setiap orang beserta sistim sosialnya, karena manusia dalam perspektif ini, menjadi subyek penting dalam dialektika pergantian waktu. Di tahun yang kemarin (1430 H), kita banyak memetik hikma akibat dari keburukan moral, tidak usah kita rincikan satu persatu, karena terlalu banyak untuk diurutkan per angka atau dari nilai terkecil hingga pada batas nilai yang besar sekalipun. Keburukan kemarin terlalu banyak dan beragam motif untuk diinventarisir.
Dalam konteks negara bangsa, dihari kemarin kita banyak didera oleh kebangkrtan moral di seluruh lini sistim sosial, mulai dari pemberangusan rasa keadilan rakyat kecil oleh lembaga hukum negara, hingga perampokan uang rakyat oleh pemerintahnya sendiri.
Sebagai “subyek waktu” kita telah melacuri dan menodai hari-hari kemarin dengan keburukan dan kesia-siaan. Itu bertanda bahwa kita adalah subyek waktu yang gagal mencitrakan diri sebagai pusat orbit yang bisa menerangi kehidupan, baik sesama manusia dan pertanggungjawaban kepada Tuhan yang berada di balik semua hakekat penciptaan tersebut.
Di hari yang baru ini, kita dituntut untuk bisa melakukan revolusi kesadaran, dari “diri yang lama kepada diri yang baru” karena perubahan waktu dan tranformasi diri, sama-sama mencitrakan adanya sebuah mekanisme atau dinamika gerak, berpindah dari nilai-nilai yang lama kepada nilai-nilai yang baru. Kita berharap dengan beranjaknya fase waktu, dari 1430 H ke 1431 H, dapat memberikan iklim baru kehidupan yang lebih baik, terutama dalam konteks negara-bangsa. Kita berharap dengan kesadaran yang utuh dan substansial pada pergantian waktuu ini, dapat memberikan suatu hikmah yang jauh lebih baik bagi kehidupan kita dimasa-masa yang akan datang.