|
|
|
|
|
TRANS HUMAN, TRANS CULTURAL |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Mohammad Ichlas El Qudsi, M.Si
|
|
Saturday, 26 December 2009 |
Mungkin istilah ini yang lebih tepat, karena ada dua mementum besar yang baru dan akan kita lewati, yaitu tahun baru Hijriah 1432 H dan 2010 M. Sangat naif, bila dua peralihan waktu ini tidak memiliki efek gerak terhadap sesuatu yang menjadi seharusnya yaitu “tema besar perubahan”.
Bila kita cermati kodrat penciptaan manusia, maka puncak kejadian dan peristiwa baik fisik dan yang non fisik, selalu terbentuk dari hukum-hukum perubahan. Untuk itu, sekali lagi naif, bila esensi perubahan manusia tersebut cenderung sentrifugal dari titik sentral nilai-nilai kemuliaan hidup.
Jika dengan gaya perubahan tersebut kita gunakan untuk menakar dinamika kehidupan saat ini, maka yang terjadi adalah sejumlah dinamika dan fokus gerak hidup yang cenderung terdorong oleh nafsu dan keserkahan. Fenomena gagalnya kita membangun negeri ini dengan foundasi moralitas sangat nampak jelas dengan paparan fakta atau kejadian di depan mata.
Faktanya korupsi menjamur, kemiskinan merata, penggusuran semakin tidak manusiawi, kebebasan menjadi semakin keblinger, gosip dilegalkan, fitnah diinstitusikan atas nama media dan jurnalisme moderen, bahkan kemanusiaan disektariankan, dibungkus dalam isu hukum yang nominalistik, apalah itu istilahnya, koin keadilan, koin peduli, peduli Luna Maya, semuanya terasa hambar dan sebatas makanan empuk media belaka. Sementara jarak dan kelas sosial semakin jelas pembatasnya, yang kaya bertambah modal, yang korup semakin liar dan yang berkuasa semakin garang dan tidak peduli.
Di akhir tahun ini, kita tidak seperti memanen hasil, tapi justru menuai badai dan menakar masalah dari satu kejadian, ke kejadian berikutnya tanpa penyelesaian. Seperti sebuah gerak, maka kita sedang terdistorsi dari titik objek perubahan yang semestinya.
Apakah perubahan itu?
Perubahan adalah adalah perpindahan titik gerak dari A ke B, C D dan seterusnya, bukan sekedar pembeda posisi, tanda atau nominalitas, tapi justru transposisi kualitas yang bergerak ke depan, seiring dengan dinamika perubahan tersebut. Dengan ini maka dapat dikatakan bahwa perubahan adalah suatu pergeseran atau peralihan titik yang bermakna kualitatif. Sehingga makna perubahan memiliki ruang lingkup pada perubahan sikap dan karakteristik kemanusiaan yang mentransposisikan dirinya dari satu determinasi waktu ke waktu berikutnya yang bermakna dan substansial.
Dengan kata lain yang lebih kontekstual, bahwa perubahan adalah suatu peralihan sifat dan budaya tamak serta loba manusia menjadi lebih sederhana, lebih populis, lebih peduli, lebih santun, beretika, menjalankan amanah rakya secara baik dan bertanggung jawab serta lebih adil dari yang sebelumnya. Lalau apakah perubahan seperti ini berlaku dalam diri kita? Pemimpin kita? budaya bernegara kita? Anda yang menjawabnya !
Yang jelas, kita masih sering menyaksikan berbagai tontonan peristiwa dan fakta bahwa masih ada kejanggalan dan keblingeran diakhir tahun ini. Tentu kita tahu dan sadar, apa yang semestinya kita lakukan atas nama perubahan menuju inti sifat-sifat kemanusiaan yang sesungguhnya. Diakhir renungan ini, saya hanya ingin mensinyalir suatu idealitas bahwa : Trans human adalah upayah gerak kesadaran untuk melampoi batas-batas kemanusiaan menuju titik ke_haniefan yang semestinya.Untuk merubah cara berfikir dan budaya yang seharusnya. Wallahualambissawab !! Happy New Years 2010.
|
|
|