|
Skandal Century VS Etika dan adab demokrasi |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Moh Iclas El Qudsi, M.Si
|
|
Saturday, 23 January 2010 |
Di tengah giat-gitanya kerja pansus menangani kasus mega skandal Bank Century, ada selintingan yang menarik tentang attetude pansus yang ditengarai menafikan asas keharusan hukum dan frame ketata negaraan, serta kooridor moral yang sama sekali telanjang dari argumentasi dan pertanyaan anggota pansus terhadap para saksi dan ahli.
Menyikapi hal ini, kita seperti disodorkan sebuah pertanyaan njlimet bahwa "antara ayam dan telur, manakah yang lebih dahulu". Hemat saya siapa pun itu, ia tidak punya suatu standar baku moral yang bisa dijadikan penyimpulan bahwa, suatu pertanyaan atau pernyataan tertentu beretika atau tidak. Seperti yang saya kuti dari Anatara News Kamis, 14 Januari 2010, yang memberikatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono prihatin terhadap etika dan perilaku anggota panitia khusus (pansus) hak angket kasus Bank Century.
Jika etika atau attetude memiliki takaran berupa besar atau kecilnya sebuah prilaku tak beretika, maka soalnya adalah manakah yang lebih besar porsinya antara prilaku korup dan atau yang berperan dalam melanggengkan sebuah tindakan koruptif. Ini soal yang mesti di jawab oleh pihak yang telah mengintrodusir persoalan etika di tegah-tengah kerja keras pansus untuk membongkar biang kerok mega skandal Century.
Kalaupun ada sejumlah tindak-tanduk yang disrespectful, seperti Ruhut Sitompul misalnya, maka hal ini tidak perlu dibaca dengan logika mutlak-general bahwa ia mewakili otoritas parlemen. Lakon Ruhut Sitompul adalah sebuah tanda (signal) representasi kelompok politik yang tergolong berkeinginan mericuhkan jalannya investigasi pansus. Sebab setiap stetmen yang dilontarkan selalu tidak memiliki kesalingkaitan dengan kasus Skandal Century.
Hemat saya, tidak semua hal bisa dimutlakkan dalam persidangan di Pansus, sebab ulah dan idapan penyakit temporarily amnesia sering menjadi penyakit yang menggemaskan oleh anggota Pansus, ditambah lagi dengan bertele dan berbelit-belitnya jawaban pun terkesan ikut membungkam sejumlah fakta hukum yang seharusnya diberikan kepada Pansus dalam kesaksian.
Kalaupun ada sedikit reaksi keras yang nampak dari pertanyaan berupa intonasi suara dan pemotongan pembicara, saya kira semua itu menjadi bagian yang dinamis saja dalam sebuah persidangan. Mempersoalkan etika disaat musim kemarau etika dan moral, sama halnya mengarahkan jari telunjuk ke depan tapi keempat jari lainnya berbalik menunjukkan kediri sendiri menyoalkan siapakah yang semestinya paling tidak bertetika? anda yang menjawabnya..
|