|
|
|
|
|
Rumpun Bambu Hikma sebuah keragaman |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Saturday, 13 February 2010 |
| Rumpun Bambu Hikma sebuah keragaman | | | | | Ditulis oleh Moh. Ichlas El Qudsi, M.Si | | "Disebuah rumpun bambu di tepi sungai dipadati rerumputan rimbun dan bebunyian hewan-hewan...tersimpan banyak karakter makhluk..terkandung banyak hikmah..terbentang banyak pelajaran...tertimbun banyak misteri...dimana pun kita sekarang juga demikian adanya"
(Moh. Ichlas El Qudsi, M.Si)
Beragam suku, bangsa ras dan tipe genetik, telah menginaugurasikan manusia dalam suatu struktur dan pranata kehidupan yang indah. Kergaman ini tidak saja menghamparkan fakta manusia sebagai makhluk makrokosmos yang menyejarah, tapi juga dalam kehendak-Nya, manusia dilebih derajatkan menjadi "makhluk yang paling mulia karena ketundukannya (taqwa)". Dalam keragaman yang tersimpan banyak karakteristik itu, kuasa-NYa menyatukan manusia dalam suatu kualifikasi keimanan, yaitu "yang paling bertaqwa". Jika secara jujur kita jabarkan, maka ketaqwaan dalam keragaman ini, tidak disimbolkan dalam lakon keimanan yang formal dan rigid, tapi lebih pada kedewasaan emosional kekhalifahan yang termanifestasi dalam laku bermasyarakat dan bernegara. Senyatanya, realitas keragaman yang tergambar dalam frasa "tersimpan banyak karakter makhluk" adalah separoh dari hakekat penciptaan yang alamiah, yakni dari yang universal ke yang plural. Maka hukum gerak kehidupan ini perlu dimaknai sebagai fitrah, agar gesekan postif keragaman dapat didalami sebagai senandung yang memvibrasikan alunan nada-nada kehidupan yang enigmatik.
Jika kita menelaah, jumlah suku di Indonesia kurang lebih 230 suku (http://www.id.wikipedia.org), Kenyataan ini berkonsekuensi pada laku dan karakteristik sosial yang berbeda, baik dari bahasa, prilaku sosial budaya yang memiliki keunikan masing-masing. Realitas keragaman ini tidak dilihat sebagai fakta sosial semata. Tapi perlu ditelaah sebagai suatu potensi sumber daya sosial yang laur bisa. Karena sebuah bangsa yang besar adalah yang terkonstruksi dari keragaman nilai-nilai budaya yang tumbuh dan bersumber dari kodrat sosiologis masyarakatnya.
Ditahun 90-an, pluralitas kita sempat dicederai oleh politik etnis sebegitu dramatis, mulai dari NTT, Ambon, Sampit, Poso dan Ketapang. Masyarakat Indonesia disaat itu seperti sedang mengalami mimpi buruk disiang hari, dikejutkan oleh pembantaian, penjarahan yang memakan korban tidak sedikit. Keramahtamahan dan untaian nilai-nilai sosial etik lokal hilang begitu saja, keragaman tidak lagi menjadi sendu nada-nada kekerabatan yang mengakrabkan.
Inilah kenyataannya, ketika hikmah keragaman tidak lagi difahami, kehidupan dibuat simpel oleh dominasi materi, politik dan kekuasaan. Pluralitas dianggap modal sosial pragmatis untuk mobilisasi suara pada pemilihan umum dan supporter sepak bola. Kita berharap, semua orang menghikmai realitas keragaman sebagai suatu entitas yang menimpan banyak nilai. Wallahualam Bissaawab |
|
|
|