|
Pemimpin Ideal Berkarakter |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Saturday, 27 March 2010 |
|
Kita tidak saja membutuhkan kepemimpinan formal dan kepemimpinan konfensional. Sedikit beranjak pada tahapan yang lebih jauh, maka sesungguhnya kebutuhan kita akan sosok kepemimpinan transformativ adalah sesuatu yang harus. Karena kepemimpinan transformativ tidak memenjarakan pengikutnya dalam kerangkeng birokrasi yang rigid. Kepemimpinan transformativ lebih dekat dengan sosok atau karakteristik kultural, bukan struktural. Sistim dan pola kelembagaan kita saat ini cenderung bermazhab structuralism, hal ini berakibat pada kekeringan konsep perubahan, dan kalaupun ada perubahan, indikatornya hanya berada pada gejala-gejala yang bersifat statistika semata. Sedangkan kepemimpinan kultural lebih menekankan prospek perubahan pada karakteristik dan adab, sebagai dimensi vital perubahan. Peneliti Bernard M. Bass (1985), mengusulkan sebuah teori kepemimpinan transformasional untuk memperkuat gagasan transformasi kepemimpinan yang sudah pernah digagas oleh konsep awal Burn's (1978). Kedua konsep kepemimpinan ini membicarakan sejauh mana pemimpin transformasional diukur, dalam hal pengaruhnya pada pengikutnya. Para pengikut pemimpin tersebut merasa kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan penghormatan kepada pemimpin akan membuat mereka melakukan apapun. Tipe pemimpin konfensional seperti ini memorsikan pemimpin sebagai obyek pencitraan, agar dengan karisma dan spekulasi popularitas membuat ia dipercayai dan dikagumi para pengikutnya. Sementara tipe sosok pemimpin tarnsformativ selalu mencari cara-cara kerja baru untuk mengidentifikasi peluang-peluang baru versus ancaman dan mencoba untuk keluar dari status quo dan mengubah lingkungan.`Peneliti Bass & Avolio (1993), membuat studi empiris yang memetakan pendekatan kepemimpinan manajer dan komandan. Mereka membaginya dalam dua kategori (transformasional dan kepemimpinan transaksional) pada sebuah kontinum dan menciptakan lebih banyak tahap di bagian antara dua pendekatan kepemimpinan tersebut. Terlepas dari keepemimpinan transformativ dan transaksional yang ditawarkan Bass dan Avolio, kepemimpinan transformativ mendapatkan tempat yang pantas untuk kebutuhan sebuah negara yang baru menganut faham demokrasi secara komprehensif. Di Indonesia, kita berharap tipe kepemimpinan transformatif dapat dimunculkan sebagai upaya dan usaha awal untuk melakukan transformasi multi sektor kehidupan. Sebab secara kelembagaan sektor-sektor penting kelembagaan di negeri ini masih dikelola dengan prinsip dan paham-paham lama yang a-sosial dan menafikan sisi penting kulturalisasi kelembagaan disegala bidang kehidupan negara dan bangsa.
|