|
|
|
|
|
Ditulis Oleh Mohammad Ichlas El Qudsi
|
|
Saturday, 24 April 2010 |
|
"Membangun hubungan itu ada tiga kategori seperti tumbuhan yang menanamkan dan mencengkeramkan akarnya…menempel seperti cicak yang siap tuk meloncat berpindah tempat atau seperti debu yang setiap saat bisa terbang ditiup angin"
(Maret 9, 2010. Mohammad Ichlas El Qudsi)
Manusia dalam teori sosiaologi Thomas Hobbes dalam dedikasi karyanya De cive (1651)disebut sebagai “homo homini lupus. Artinya saling membutuhkan dan memiliki ketergantungan satu dengan lainnya. Dasar kekerabatan yang hakiki pada manusia adalah, ketika disadari bahwa relasi atau membangun persaudaraan adalah kebutuhan alamiah yang tidak bisa dinafikan oleh siapapun. Hubungan yang didasari pada persaudaraan universal, atau atas kesadaran saling membutuhkan merupakan jenis hubungan yang kuat dan ideal. Karena didasadari pada nilai-nilai otentik manusia bagidari dimensi biologis ataupun sosial. Jenis hubungan ini kuat dan mengakar dan tidak mudah tercerabut oleh gangguan apapun. Karena soliditas hubungan didasari pada kesalingbutuhan antarsesama.
Sebaliknya, hubungan yang didasari pada niat pragmatis dan instan antarsesama manusia, mengandaikan hubungan tersebut bak cicak yang menempel sesaat dan meloncat berpindah ke tempat lainnya. Hubungan jenis ini, adalah hubungan yang “getas (fragile)” dan mudah runtuh, bila kepentingan tersebut tidak saling menguntungkan secara simbiotik. Demikian juga hubungan yang tidak didasari pada prinsip dan eksistensi, akan mudah terombang-ambing, tidak berpegang pada prinsip. Tipe hubungan ini seperti debuh yang bergerak dan beterbangan mengikuti arah angin (follow the wind direction). Dengan menggunakan tiga alat analisa relasi manusia di atas, kita dapat melihat tipe dan relasi manusia saat ini di berbagai ranah sosial yang dibentuk oleh beberapa masalah mendasar.
Pertama : Hilangnya rasa persaudaraan. Konstruksi persaudaraan manusia saat ini, lebih didasari oleh business_mindid. Relasi persaudaraan cenderung diasumsikan dengan logika untuk-rugi. Hal ini bisa dilihat pada dunia ketenaga kerjaan. Si majikan atau pemilik perusahaan memberikan upah dan si buruh membayarnya dengan jasa. Sakitnya si buruh, mati-hidupnya si buruh tidak lagi dijamin oleh bos perusahaan. Sebab hubungan kemanusiaan dipenjara dalam hukum untung-rugi yang sangat rigid. Seorang majikan berumur 30 tahun, bisa saja mencaci-maki pembantunya yang sudah berumur 50 tahun atau tua renta, hanya karena sebuah kesalahan kecil disaat bekerja, tanpa melihat sisi etik kemanusiaan yang menjadi hukum kepatutan dan kepantasan. Kondisi ini terjadi, karena relasi sosial yang terjalin hanya berdasarkan hukum-hukum pasar yang semakin hari semakin menyesarkan. Hilangnya rasa persaudaraan universal ini, mengakibatkan hubungan sesama manusia tidak lagi mengakar berdasarkan konsepsi-konsepsi hubungan sosial yang manusiawi Kedua : Materi menguasai Nurani. Pada poin yang kedua ini, bisa kita bahasakan bahwa : Nurani manusia moderen saat ini telah didominasi oleh benda mati (materi). Hal ini berkaitan dengan problem yang pertama, dimana hukum-hukum persaudaraan menjadi kolaps akibat ukuran-ukuran materi yang telah menjadi berhala manusia moderen. Nurani yang dikalahkan oleh materi, mengakibatkan hubungan persaudaraan menjadi cenderung pragmatis, instan. Sesaat bisa menjadi sahabat atau teman yang paling baik. Dan secapt kilat pula hubungan itu bisa menjadi permusuhan dan dendam kusumat tuju turunan, bila kepentingan materi, tidak lagi terakomodir dalam persudaraan tersebut. Sebahagian sikap ini, dipengaruhi oleh tabiat yang bakhil, kikir, tamak dan rakus. Ketiga : Hilangnya prinsip dan iman. Tercerabutnya iman dalam diri seseorang, dapat berakibat fatal pada persepsinya terhadap jalinan tali persaudaraan dalam sebuah hubungan. Kehilangan prinsip iman ini, dapat berakibat pada terombang-ambing manusia akibat tidak memiliki pegangan nilai. Pada bagian ketika ini, seseorang dengan prinsip iman yang lemah mudah terjebak dalam persepsi “tiada teman yang abadi, karena yang abadi hanyalah kepentingan”. Dengan demikian ia bisa seperti bunglon yang sekaliwaktu bisa menjadi teman sekaligus penghianat. Ibarat debu yang bergerak dan beterbangan mengikuti arah angin.
Tiga pengganjal hubungan persaudaraan universal di atas, dapat dihadapi dengan pegangan prinsip nilai yang bersumber dari penggalian beberapa sumber nilai inti persaudaraan. Diantaranya adalah : Pertama : Menumbuhkan rasa persaudaraan melalui suatu jalinan persudaraan yang bersumber pada nilai-nilai etik kemanusiaan. Kedua : Menjadikan nurani sebagai sandaran terakhir persudaraan. Bila sewaktu-waktu hubungan persaudaraan diperhadapkan dengan gidaan-godaan materi yang bisa berakibat pada hancurnya hubungan persaudaraan. Ketiga : Hubungan persaudaraan harus didasari oleh prinsip nilai-nilai keimanan. Karena nilai ini sejalan dengan hakekat hubungan persaudaraan dalam intitusi moral apapun. Baik agama, nilai sosial budaya dan adat-istiadat.
Suatu hubungan persudaraan yang kekal, selalu terkonstruksi dari nilai-nilai universal. Bukan berdasarkan kepentingan materi dan sikap mengharapkan pamrih atau hubungan transaksional lainnya. Hubungan yang menjangkarkan prinsipnya pada nilai kearifan dan imanan. Dapat membuahkan persahabatan yang mengakar dan solid serta susah tercerabut atas godaan dan benturan apapun. Sebaliknya akan menjadi instan, terombang- ambing bila hubungan persaudaraan tersebut diembel-embeli dengan sikap pamrih atau yang lebih buruk dari itu.
Tulisan ini direduksikan dari “bengkel pesan” yang merupakan kata-kata hikmah dari status facebook Muhammadi Ichlas El Qudsi
|
|
|