|
Ditulis Oleh Administrator
|
|
Saturday, 08 May 2010 |
Jum'at 27 April 2010
Membangun Demokrasi di tenagh-tengah Kepungan Budaya Korupsi
Demokrasi memang suatu sistim atau mekanisme penataan kehidupan bernegara yang paling canggih saat ini. Namun pada sisi yang lain, demokrasi memberikan celah bagi terciptanya hegemoni kelompok bermodal dalam hierarki puncak kekusaan politik.
Betapa kita tidak perlu heran, bila model kebangunan demokrasi yang demikianlah yang sedang terjadi dan berproses di Indonesia saat ini. Dimana para pemodal menjadi raja di sejumlah partai politik
Namun kita tidak perlu berlebihan juga menyikapi pembiasan praktek demokrasi yang demikian, karena mekanisme demokrasi saat ini sedang terjebak dalam kehidupan pasar yang modalistik. Karena ide dan asal muasal demokrasi datang dan lahir di tengah-tengah tradisi masyarakat pasar.
Atau kasarnya, demokrasi dan tradisi masyarakat pasar adalah dua hal yang saling berkelindan. Sebab itu ketika saat ini mekanisme demokrasi seperti pemilu dan partai politik lebih condong terblunder pada cara-cara feodal yang kapitalistik, maka yang demikian adalah sesuatu yang lumrah dan seharusnya.
Konsekuensi Konsekuensi tabiat demokrasi yang demikian, akan mendepak kaum candikiawan yang punya pikiran maju untuk berada di garis pinggir percaturan demokrasi. akibatnya demokrasi hanya dikerumuni oleh orang-orang yang bermodal besar saja.
Sebut saja pemimpin-pemimpin partai saat ini seperti Abu Rizal Bakrie (Golkar), Megawati (PDIP), Wiranto (Hanura) dan lainnya, mereka adalah saudagar kaya-raya yang di bai'at secara dramatis ke dalam struktur partai politik (menjadi ketua umum), hanya karena orang semakin percaya bahwa "dengan uang dan fasilitas mereka bisa membesarkan partai".
Politik kapital ini telah menghancurkan sendi-sendi demokrasi. Sebab, demokrasi terpatri diatas suatu fondasi berfikir yang getas. Lihat saja, dualisme di tubuh partai politik saat rentan terjadi. Bila sedikit saja disulut dengan konflik-konflik primordial. Dan hal ini riskan bagi masa depan demokrasi di Indonesia.
Demokrasi = Korupsi Akibat faham demokrasi yang cenderung kapitalistik itu, membuat setiap orang menafsirkan bahwa, memilih hidup dipolitik adalah jalan pintas menuju perubahan status sosial (dari miskin menjadi kaya raya). Lihat saja banyak pejabat saat ini ritme hidupnya sedemikian cepat, yang tadinya naik mobil sedan secepat kilat diganti dengan alphard, Marcedes dan koleksi mobil mewah lainnya. Dulunya ngontrak rumah, sasat kemudianmembeli rumah di kawasan elit. Namun disaat yang sama terjaring disarang penyamun (korupsi). Inilah trend demokrasi kita. Lalau apa solusinya? Dalam diskusi yang berlangsung di Sekretariat Michel Leadership Centre itu, disimpulkan bahwa. KIta harus bisa memutus matarantai antara demokrasi, pasar dan budaya korupsi. Karena sejatinya demokrasi pasar dan kapital adalah tigas sisi yang harus hati-hati dimaknai
|