|
Di hari-hari sekitar peringatan Hari Kemerdekaan ini, saya sempat membuka sebuah buku lama. Buku itu berisi perdebatan para tokoh bangsa di tahun 1935-36, di berbagai media yang ada saat itu. Sutan Takdir Alisjahbana yang memulainya hingga mengundang reaksi dari berbagai tokoh. Sanusi Pane, dr Sutomo, hingga Ki Hadjar Dewantoro ikut menanggapinya. Para pemerhati menyebutnya sebagai "Polemik Kebudayaan". Sastrawan besar yang juga penulis Atheis Achdiat K Mihardja mengumpulkannya menjadi buku. Balai Pustaka menerbitkannya di tahun 1949.
Polemik itu berpangkal dari kerisauan Sutan Takdir yang melihat betapa lemah bangsa ini dalam peradaban dunia. Saat itu, bangsa ini tampak begitu statis, begitu pasrah pada alam dan nasib, dan terkungkung oleh budaya feodal. Ia ingin mengajak bangsa ini keluar dari keadaan. Ia ingin membebaskan bangsa ini dari berbagai keterbelengguan itu. Ia ingin membuat gerakan semacam Restorasi Meiji yang membangkitkan Jepang menjadi bangsa maju. Maka, Sutan Takdir mengajak semua untuk mengadopsi budaya Barat. Budaya yang bukan pasrah pada alam, melainkan yang bertekad untuk mampu mengendalikan alam. Budaya yang bukan statis, melainkan dinamis. Budaya yang bukan mematikan hasrat pribadi, melainkan justru mendorong setiap diri untuk tegak memperjuangkan kepentingan masing-masing.
Lontaran itu semula sempat dicurigai sebagai ajakan merendahkan budaya Timur. Bahkan, mengusik nilai-nilai keislaman. Takdir memang tak setuju pada kepatuhan umat pada kiai dan tokoh agama. Apalagi tak sedikit pula tokoh agama yang terus memupuk kepatuhan itu untuk menyalahgunakannya. Bagi Sutan Takdir nilai Islam yang diturunkan sejak masa Nabi Ibrahim tidak seperti itu. Rasulullah SAW pun telah menegaskan bahwa tak ada kerahiban dalam Islam. Tak ada 'orang suci' yang harus 'dibongkok-bongkoki' atau "diciumtangani". Islam mengharuskan umatnya untuk menghormati orang tua. Juga orang-orang yang lebih alim. Namun, penghormatan itu tidaklah dengan merendahkan diri sendiri. Takdir mengajak untuk mengambil nilai Islam yang asli. Yakni, Islam yang meneladani Nabi Ibrahim yang mengajak semua manusia untuk benar-benar menjadi merdeka. Manusia yang tidak terjajah oleh apa pun, termasuk oleh jabatan, harta, maupun pikiran dan kekhawatirannya sendiri, karena meyakini bahwa cuma Dia yang layak diagungkan. Nilai Islam itulah yang akan menjadikan manusia rasional, teguh, tenang, tidak khawatir pada apa pun, serta siap mengelola dan bukan dikelola oleh alam ini. Sayangnya nilai Islam seperti itu sudah terlalu terselaputi oleh pendekatan formalistik fikiyah. Bahkan, budaya feodal yang entah mengapa tumbuh subur di lingkungan umat Islam. Takdir menyalahkan budaya India telah membelokkan nilai-nilai ideal itu. Tak semua setuju tentu dengan pandangan Sutan Takdir. Maka, reaksi pun bermunculan. Tapi, jika kita simak umat dan bangsa ini sekarang, keadaannya tak banyak bergeser dari masa 'Polemik Kebudayaan' dulu berlangsung. Persoalan Indonesia yang dikemukakan Sutan Takdir sebelum kemerdekaan, masih menjadi persoalan Indonesia sekarang. Masa setelah 62 tahun merdeka. Kemiskinan bukan teratasi melainkan malah beranak pinak dengan kecepatan luar biasa. Budaya feodal bukan menghilang melainkan malah terlestarikan lewat format barunya. Kemampuan mengelola dan mengendalikan alam bahkan tererosi menjadi kemampuan menguras dan merusak alam. Sikap statis justru semakin mengental lewat kegemaran kita pada 'kemapanan'. Baik kemapanan pada posisi agar terus dikasihani, maupun kemapanan hal-hal yang tak benar, seperti korupsi. Umat dan bangsa besar bukan umat dan bangsa yang mapan pada nasib. Baik pada nasib susah maupun nasib yang tampak baik (padahal belum tentu, atau bahkan tidak). Umat dan bangsa besar adalah yang berani berubah. Yakni, seperti yang diajarkan Nabi, yang selalu mengoreksi diri sendiri. Juga yang selalu menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Masihkah kita merasa sebagai umat Nabi jika merasa nyaman dengan keadaan sekarang dan tak berusaha keras buat berubah? Apa artinya memperingati Indonesia merdeka jika tak mau mengubah diri sendiri agar menjadi manusia yang benar-benar merdeka? |