|
Periset (Associate Director) Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK)Universitas Paramadina, Jakarta
Delapan tahun reformasi berjalan dan lebih 18 bulan pemerintahanPresiden Susilo Bambang Yudhoyono-Wapres Jusuf Kalla (Yudhoyono-Kalla) memimpin pemerintahan. Namun, belum ada tanda-tanda krisismulti dimensi bakal terpecahkan, kecuali penyelesaian konflik Aceh yang memberi harapan. Berbagai masalah dan gejolak datang silih berganti. Terakhir, kerusuhan di Tuban dan demonstrasi buruh yang berakhir rusuh
Duet Yudhoyono-Kalla masih harus bergulat keras mengatasi korupsi,pembalakan liar, penyelundupan, kerusakan sosial dan lingkungan,krisis ekonomi, ketimpangan dan pelbagai penyelewengan kekuasaan yang kronis. Di tengah lorong kegelapan itu, sungguh rakyatmembutuhkan kepemimpinan nasional yang mampu memberikankepastian dan cahaya di ujung terowongan.
Mengapa rakyat mendambakan kepastian dan cahaya di ujungterowongan? Karena di sanalah terbayang kehidupan masa depan. Kehidupan yang bebas dari krisis ekonomi, kerusakan sosial dankemunduran kulturalDalam hal ini, pada peringatan Kebangkitan Nasional 20 Mei 2005,almarhum Prof Mubyarto (guru besar UGM) dengan kesal dan pedih mengungkapkan bahwa secara ekonomi-politik, bangsa Indonesia telah kembali dijajah oleh kapitalisme global yang lebih sadis dan kejam dibandingkan dengan kolonial Belanda. Bangsa Indonesia bahkan telah mengalami pengkaplingan ekonomi.
Wilayah Indonesia, menurut Jeffrey Winters, telah dikapling-kaplinghabis oleh kapitalisme global sejak 1967, sebagaimana yang diperlihatkan oleh operasi Freeport di Papua, Exxon-Mobil Oil di Acehdan Kalimantan, New Mont di Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara dansebagainya. Kekayaan alam kita dikeruk kapitalis global yang menjontrongkan rakyat semakin periferal dan marginal. Maka, tak mengherankan jika John Pilger (The New Rulers of theWorld, 2004) menyebut pengkaplingan wilayah itu sebagai plundered,perampokan massal oleh kapitalis global, yang oleh pemerintah diberilabel sah dan legal. Situasi kelam ini juga terungkap dalam buku Confessions of Economic Hit Man, di mana John Perkins, seorang konsultan bisnis Amerika Serikat yang memulai debutnya di Indonesia,menyingkapkan bahwa kapitalisme global telah merusak dan membuatekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, agar lemahdan tergantung pada tuan besar kapitalisme global. Mengalami Kemiskinan Dalam konteks ini, berbagai operasi penambangan oleh modal asing menunjukkan kenyataan itu. Coba renungkan, apa yang diperoleh rakyat di kawasan-kawasan tambang yang dieksplotasi modal asing sejak 1967 sampai saat ini? Bukannya meraih keahlian, teknologi dan pengetahuan, kesejahteraan dan keadilan sosial, melainkan rakyat setempat justru mengalami kemiskinan dan pemiskinan, pencemarandan penderitaan.
Kekhawatiran itu kini juga menghantui masyarakat kawasan Blok Cepu dan bisa jadi mereka akan bernasib sama seperti saudara-saudaranya di Timika Papua, Teluk Buyat Sulut, Arun-Lhok Seumawe Aceh danseterusnya. Karena itu, pemerintah harus menangkap substansimasalah di balik yang nampak agar tidak kembali terjerembab kedalam kesalahan yang sama. Hanya keledai yang biasanya terantuk batu yang sama!
Belajar dari kesalahan masa lalu, maka tidak sepantasnya jika para pemimpin saat ini menyalahkan pihak lain dan para pendahulunya atau bersikap reaksioner terhadap masa lalu. Mereka seyogianya mawas diri dan harus berani dan sanggup mengatasi kompleksitasmasalah dengan segenap power, resources, kapabilitas dan kapasitasnya sebagai pemimpin yang dipilih rakyat.Di tengah carut-marut dewasa ini, semua itu semakin meyakinkan kita betapa rakyat membutuhkan kepemimpinan yang tangguh, visioner,tegas, decisive dan bisa memberikan kepastian kemana kita akan dibawa.
Mengapa musti ada kepastian? Jelas bahwa tanpa kepastian,rakyat tidak akan memiliki "arah dan visi", "bayangan" dan "imajinasi" hendak kemana bangsa dan negara ini akan dibawa oleh para pemimpinnya.Tatkala subsidi BBM dicabut, tarif dasar listrik naik, harga barang melonjak dan kesulitan mencekik, maka rakyat akan melihat perbuatan, perilaku, tutur kata dan kebijakan para pemimpinnya. Rakyat pasti bertanya: Inikah buah reformasi? Dalam kesuraman demikian, maka tahap Nation in Making yang sedang kita bangun dankerjakan, termasuk dalam mewujudkan good and clean governance dan mengelola kebhinekaan (pluralisme), bukan tidak mungkin untukgagal. Bangsa Sekarat Jika kemudian para pemimpin kita ternyata justru menuju ke titik yang tidak ada jalan keluarnya (point of no return), maka meminjamperspektif Nurcholish Madjid ( Cak Nur), bangsa kita dari Nation inMaking bisa menjurus ke arah Nation in Dying (bangsa yang sekarat).Untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi, Yudhoyono-Kalla dan kabinetnya harus banyak berdialog dan bekerjasama dengan civilsociety (kaum inteligensia, cendekia, para tokoh masyarakat, asosiasiburuh, petani, nelayan, kaum miskin kota) dan kalangan dunia usaha yang representatif, untuk bersatu mengatasi krisis.
Agar bangsa kita kembali memiliki harkat dan martabat. Sekali lagi, rakyat butuh kepastian dan itu hanya bisa diberikan olehpara pemimpin yang berjiwa besar, rela berkorban dan committed untuk membawa bangsa kita keluar dari krisis multi dimensi. Yudhoyono-Kalla dan Kabinet Indonesia Bersatu harus merenungkan hal ini sebelum terlambat. Jangan sampai rakyat yang sabar dan pemaaf, menarik kembali mandat.
|