Kata-kata Mutiara

Jadilah seikat sapu lidi, kokoh karena kebersamaan dan tentunya bermanfaat bagi lingkungan. Dengan kebersamaan pun sapu lidi kuat tak mudah dipatahkan.

 

Tahun tak akan berhenti hingga dikehendakiNya. Hanya, bagaimana kita bisa menyikapi setiap pergantian tahun dengan bijak dan menjadikan diri kita sebagai orang yang bermanfaat.

 

Nasib tak seperti takdir, bisa diubah dan dinamis. Hanya yang berputus selalu merasa kalah dengan nasib. Jangan menyerah terhadap nasib karena untuk itulah kita dianggap manusia sempurna.

 

Jika menginginkan sebuah perubahan, maka lakukanlah sekarang juga. Jika hanya menunggu waktu percayalah, waktu yang tepat hanyalah keberuntungan. Hal-hal besar tidak akan terjadi tanpa ada tindakan untuk merubah.

 

Jika menginginkan sebuah perubahan, maka lakukanlah sekarang juga. Jika hanya menunggu waktu percayalah, waktu yang tepat hanyalah keberuntungan. Hal-hal besar tidak akan terjadi tanpa ada tindakan untuk merubah

 
Setiap detik adalah berharga. Dan setiap yang berharga akan selalu dijaga. Kehidupan kita adalah perputaran detik demi detik yang selalu berharga. Karena itu jaga dan pergunakan sebaik mungkin waktu yang ada pada diri kita.
 

Setiap detik adalah berharga. Dan setiap yang berharga akan selalu dijaga. Kehidupan kita adalah perputaran detik demi detik yang selalu berharga. Karena itu jaga dan pergunakan sebaik mungkin waktu yang ada pada diri kita.

 

 

Setiap detik adalah berharga. Dan setiap yang berharga akan selalu dijaga. Kehidupan kita adalah perputaran detik demi detik yang selalu berharga. Karen ajaga dan pergunakan sebaik mungkin waktu yang ada pada diri kita.

 
Kehidupan ini ibarat menghamparkan kertas putih tanpa tinta. Lalu kitalah yang menuliskan tinta kehidupan didalamnya. Dinamika kehidupan selalu berproses. Karenanya, tulislah kertas tersebut dengan tinta kehidupan yang membawa manfaat untuk orang banyak.
 

Sesulit apapun situasi yang kita hadapi, dengan keyakinan hati dan keteguhan pikiran kita pasti bisa melewatinya. Selalulah berusaha untuk mengambil manfaat dari setiap kesulitan tersebut, untuk kita dan untuk masa depan kita.

 
Lihat selengkapnya..

Links
PAN
Profil Michel
Facebook Michel
Google
Yahoo
Sindikasi
Yang Sedang Online


Rakyat, Kepemimpinan, dan Kepastian PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Herdi Sahrasad   
Sunday, 24 February 2008

Periset (Associate Director) Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK)Universitas Paramadina, Jakarta


Delapan tahun reformasi berjalan dan lebih 18 bulan pemerintahanPresiden Susilo
Bambang Yudhoyono-Wapres Jusuf Kalla (Yudhoyono-
Kalla) memimpin pemerintahan. Namun, belum ada tanda-tanda krisismulti dimensi bakal terpecahkan, kecuali penyelesaian konflik Aceh yang memberi harapan. Berbagai masalah dan gejolak datang silih berganti. Terakhir, kerusuhan di Tuban dan demonstrasi buruh yang berakhir rusuh

Duet Yudhoyono-Kalla masih harus bergulat keras mengatasi korupsi,pembalakan liar, penyelundupan, kerusakan sosial dan lingkungan,krisis ekonomi, ketimpangan dan pelbagai penyelewengan kekuasaan yang kronis. Di tengah lorong kegelapan itu, sungguh rakyatmembutuhkan kepemimpinan nasional yang mampu memberikankepastian dan cahaya di ujung terowongan.

Mengapa rakyat mendambakan kepastian dan cahaya di ujung
terowongan? Karena di sanalah terbayang kehidupan masa depan. Kehidupan yang bebas dari krisis ekonomi, kerusakan sosial dankemunduran kulturalDalam hal ini, pada peringatan Kebangkitan Nasional 20 Mei 2005,almarhum Prof Mubyarto (guru besar UGM) dengan kesal dan pedih mengungkapkan bahwa secara ekonomi-politik, bangsa Indonesia telah kembali dijajah oleh kapitalisme global yang lebih sadis dan kejam dibandingkan dengan kolonial Belanda. Bangsa Indonesia bahkan telah mengalami pengkaplingan ekonomi.

Wilayah Indonesia, menurut Jeffrey Winters, telah dikapling-kaplinghabis oleh kapitalisme global sejak 1967, sebagaimana yang diperlihatkan oleh operasi Freeport di Papua, Exxon-Mobil Oil di Acehdan Kalimantan, New Mont di Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara dansebagainya. Kekayaan alam kita dikeruk kapitalis global yang menjontrongkan rakyat semakin periferal dan marginal.

Maka, tak mengherankan jika John Pilger (The New Rulers of theWorld, 2004) menyebut pengkaplingan wilayah itu sebagai plundered,perampokan massal oleh kapitalis global, yang oleh pemerintah diberilabel sah dan legal. Situasi kelam ini juga terungkap dalam buku Confessions of Economic Hit Man, di mana John Perkins, seorang konsultan bisnis Amerika Serikat yang memulai debutnya di Indonesia,menyingkapkan bahwa kapitalisme global telah merusak dan membuatekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, agar lemahdan tergantung pada tuan besar kapitalisme global.

Mengalami Kemiskinan
Dalam konteks ini, berbagai operasi penambangan oleh modal asing menunjukkan kenyataan itu. Coba renungkan, apa yang diperoleh rakyat di kawasan-kawasan tambang yang dieksplotasi modal asing sejak 1967 sampai saat ini? Bukannya meraih keahlian, teknologi dan pengetahuan, kesejahteraan dan keadilan sosial, melainkan rakyat setempat justru mengalami kemiskinan dan pemiskinan, pencemarandan penderitaan.

Kekhawatiran itu kini juga menghantui masyarakat kawasan Blok Cepu dan bisa jadi mereka akan bernasib sama seperti saudara-saudaranya di Timika Papua, Teluk Buyat Sulut, Arun-Lhok Seumawe Aceh danseterusnya. Karena itu, pemerintah harus menangkap substansimasalah di balik yang nampak agar tidak kembali terjerembab kedalam kesalahan yang sama. Hanya keledai yang biasanya terantuk batu yang sama!

Belajar dari kesalahan masa lalu, maka tidak sepantasnya jika para pemimpin saat ini menyalahkan pihak lain dan para pendahulunya atau bersikap reaksioner terhadap masa lalu. Mereka seyogianya mawas diri dan harus berani dan sanggup mengatasi kompleksitasmasalah dengan segenap power, resources, kapabilitas dan kapasitasnya sebagai pemimpin yang dipilih rakyat.Di tengah carut-marut dewasa ini, semua itu semakin meyakinkan kita betapa rakyat membutuhkan kepemimpinan yang tangguh, visioner,tegas, decisive dan bisa memberikan kepastian kemana kita akan dibawa.

Mengapa musti ada kepastian? Jelas bahwa tanpa kepastian,
rakyat tidak akan memiliki "arah dan visi", "bayangan" dan "imajinasi" hendak kemana bangsa dan negara ini akan dibawa oleh para pemimpinnya.Tatkala subsidi BBM dicabut, tarif dasar listrik naik, harga barang melonjak dan kesulitan mencekik, maka rakyat akan melihat perbuatan, perilaku, tutur kata dan kebijakan para pemimpinnya. Rakyat pasti bertanya: Inikah buah reformasi? Dalam kesuraman demikian, maka tahap Nation in Making yang sedang kita bangun dankerjakan, termasuk dalam mewujudkan good and clean governance dan mengelola kebhinekaan (pluralisme), bukan tidak mungkin untukgagal.

Bangsa Sekarat
Jika kemudian para pemimpin kita ternyata justru menuju ke titik yang tidak ada jalan keluarnya (point of no return), maka meminjamperspektif Nurcholish Madjid ( Cak Nur), bangsa kita dari Nation inMaking bisa menjurus ke arah Nation in Dying (bangsa yang sekarat).Untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi, Yudhoyono-Kalla dan kabinetnya harus banyak berdialog dan bekerjasama dengan civilsociety (kaum inteligensia, cendekia, para tokoh masyarakat, asosiasiburuh, petani, nelayan, kaum miskin kota) dan kalangan dunia usaha yang representatif, untuk bersatu mengatasi krisis.

Agar bangsa kita
kembali memiliki harkat dan martabat. Sekali lagi, rakyat butuh kepastian dan itu hanya bisa diberikan olehpara pemimpin yang berjiwa besar, rela berkorban dan committed untuk membawa bangsa kita keluar dari krisis multi dimensi. Yudhoyono-Kalla dan Kabinet Indonesia Bersatu harus merenungkan hal ini sebelum terlambat. Jangan sampai rakyat yang sabar dan pemaaf, menarik kembali mandat.

 

 
< Sebelumnya   Berikutnya >


 

Salam MLCKegiatanReportaseSeputar KepemimpinanKata MutiaraDialogProfile

Copyright © 2008 Michel El Qudsi Leadership Centre (MLC). All Rights Reserved.
Design by Situsmurah.com.
Untuk tampilan terbaik gunakan Firefox 3