|
Penulis adalah peneliti di The Coommunity Development Institute (CDI) dan kandidat doktor IPB Senin, 22 Oktober 2007 Meski pemilu masih dua tahun lagi, tetapi aroma persaingan calon presiden sudah mulai terasa. Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PDIP pekan lalu di Jakarta, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyatakan bersedia dicalonkan sebagai presiden pada Pilpres 2009.
Perhitungan politik menunjukkan bahwa sampai saat ini calon presiden yang dinilai kuat untuk berhadapan dengan SBY adalah Megawati. Calon-calon lain seperti Wiranto, Amien Rais, Akbar Tandjung, Jusuf kalla dan lain-lain belum termasuk calon yang mampu menyaingi Megawati. Tanpa memperhitungkan kekuatan politik posisi orang nomor dua (RI 2), saat ini baru terdapat dua calon yang dinilai sangat tangguh, yaitu SBY dan Megawati. Peluang Megawati untuk kembali ke singgasana RI 1 hanya pada Pemilu 2009 yang akan datang, setelah itu PDIP harus melakukan kaderisasi politik dengan mencalonkan alternatif lain. Peluang SBY juga hanya ada di Pilpres 2009, karena konstitusi membatasi hanya untuk dua periode saja. Melihat peta politik saat ini yang baru menampilkan sosok Megawati dan SBY sebagai calon RI 1, pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kinerja SBY-Kalla. Sebuah tesis yang sangat lazim dalam politik menyebutkan bahwa keberhasilan seorang calon presiden sangat ditentukan oleh sejauh mana kinerja calon tersebut ketika ia diberi kesempatan untuk memegang kekuasaan. Ketika seorang calon presiden pernah diberikan kesempatan untuk memegang kekuasaan, namun ternyata tidak mampu memberikan perbaikan bagi rakyatnya, maka rakyat akan mencari alternatif lain sebagai "vonis" atas ketidakberhasilannya. Bagi Megawati, pengalaman memimpin negeri ini mulai tahun 2001 sampai 2004 yang lalu menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk bertarung kembali pada Pilpres 2009 yang akan datang. Kegagalan dalam Pemilu 2004 yang lalu memberikan pelajaran politik. Sedangkan bagi SBY yang sekarang sedang memegang tampuk kekuasaan, akan dinilai sejauh mana SBY memberikan kesejahteraan. Bila gagal, publik cenderung mencari alternatif lain dengan alasan penyegaran politik. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam memetakan peluang, baik Mega maupun SBY, adalah fenomena munculnya sejumlah kecenderungan baru dalam peta politik, baik nasional maupun tingkat lokal. Secara nasional, menurut sejumlah survei yang dilakukan beberapa lembaga survei independen, sedang tumbuh keinginan akan munculnya figur-figur sebagai calon pemimpin alternatif pada Pilpres 2009, menggantikan calon-calon yang selama ini tampil, terutama tokoh-tokoh yang bukan berasal dari partai politik. Mengapa keinginan itu muncul? Hal ini disebabkan tingkat kepercayaan rakyat terhadap partai politik tengah berada pada titik nadir. Dengan demikian, calon yang berasal dari partai politik terkena dampak politik untuk tidak dipercaya oleh rakyat. Selain itu, rakyat sudah pandai menilai sejauh mana kualitas dan kemampuan para pemimpinnya, terutama yang pernah dan tengah berkuasa. Citra buruk yang selama ini ditampilkan oleh elite politik, khususnya yang berasal dari parpol, ternyata menyulutkan asa politik rakyat untuk mengalihkan aspirasinya kepada calon alternatif. Apabila rakyat tetap menginginkan pilihannya kepada calon dari partai politik, pilihannya kepada calon-calon baru yang memiliki tingkat kontaminasi politik dengan rezim sebelumnya. Hasil beberapa survei juga menegaskan bahwa sebagian rakyat menginginkan tampilnya calon alternatif, khususnya melalui pintu calon independen. Meskipun penilaian rakyat tersebut masih terkesan emosional, namun pilihan tersebut perlu diwaspadai oleh partai politik, terutama parpol yang akan mengusung calonnya dari kalangan dan kader partai. Rakyat saat ini sudah semakin "melek politik" dan tak bisa lagi dikibuli dengan janji-janji "angin surga". Adanya transparansi di segala bidang kehidupan berdampak sangat positif terhadap pendidikan dan pembelajaran politik rakyat. Penguasa atau mantan penguasa saat ini tidak bisa lagi menyembunyikan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa politik yang pernah dilakukan kepada rakyatnya. Ketika sebuah kebijakan tidak mampu menyentuh dan mengangkat taraf kehidupan rakyat, maka harapan untuk kembali berkuasa akan semakin tipis. Khusus bagi Megawati dan SBY, track record selama memimpin akan menjadi catatan politik rakyat dalam menentukan pilihannya di Pilpres 2009. Selain adanya kecenderungan mencari alternatif baru tokoh yang akan memenangkan persaingan dalam Pilpres 2009, salah satu faktor akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan calon presiden adalah faktor calon pendamping (wakil presiden). Calon wapres bisa menjadi daya tarik dan daya jual untuk mendongkrak capres, terutama capres yang masuk dalam kategori "stok lama". Bagi SBY dan Megawati, faktor pendamping sangat penting agar berbagai kelemahan dan kekurangan dapat diimbangi oleh ketokohan calon pendampingnya. Karena itu, calon pendamping juga menyaratkan kriteria yang relatif sama. Kredibilitas dan akseptabilitas calon wapres menjadi faktor yang signifikan. Beberapa calon pendamping yang saat ini beredar di bursa Pilpres 2009, antara lain Hidayat Nur Wahid, Jimly Ashiddiqie, Soetrisno Bachir, Din Syamsuddin, Surya Paloh, Sultan Hamangku Buwono X dan beberapa calon "kuda hitam" lainnya. Akhirnya kembali kepada calon presiden untuk memilih yang terbaik dari beberapa calon tersebut. Beberapa hipotesis di atas menunjukkan bahwa jalan panjang yang sangat terjal bagi siapa pun yang akan bersaing untuk menduduki kursi presiden 2009-2014. Oleh karena itu masih ada waktu untuk mempersiapkan pertarungan tersebut.***
|