|
Tradisi lebaran tidak semata identik dengan pakaian baru, ketupat dan opor ayam. Atau tidak saja bermudik ria ke kampung halaman. Tradisi lebaran juga dipenuhsesaki bermacam tindak kejahatan (kriminal) dengan beragam motif. Baik di terminal bis, stasiun kareta api, hingga di perumahan-perumahan yang tak jarang disatroni maling menjelang hari raya lebaran. Ini penyakit sosial musiman. Bentuk kejahatan pun bermacam rupa. Mulai dari perampokan, arisan menjelang lebaran, uang palsu, hipnotis hingga menjambret di tengah himpitan pemudik dan di sentra-sentra tempat perbelanjaan. Menurut kriminolog Universitas Indonesia (UI) Profesor Adrianus Meliala, SH, PhD, berbagai fenomena kriminalitas sering terjadi menjelang lebaran. Keterdesakan uang pun menurutnya sebagai pemicu perilaku kejahatan (merampok). Alhasil, ternyata untuk sebahagian orang, puasa tidak mampu menurunkan potensi kejahatan yang bergelayut dalam dirinya. Dorongan kebutuhan hidup, termasuk memenuhi kebutuhan keluarga menjelang lebaran pun, terkadang bisa merecoki keimanan seseorang. Meski selama sebulan penuh di bulan ramadan, ia terlatih memenej kalbunya dari beragam kehendak berbuat jahat. Spiritualitas yang terbangun selama ramadan itu, getas dan terberangus oleh tuntutan-tuntutan hidup sehari-hari, terutama menjelang lebaran. Antisipasi Meski kejahatan tidak bisa ditoleril, namun ciri sosial suatu masyaakat adalah efek dari kebangunan masyarakat tersebut yang dipengaruhi beragam faktor. Dalam hubungannya dengan kriminalitas misalnya, diantara sekian orang yang merampok, menjambret atau mencopet, bisa saja merupakan orang-orang yang kehilangan pekerjaannya. Suatu struksur sosial yang tidak adilpun, bisa memicu meningkatnya kriminalitas. Mereka di PHK, atau bisa juga bangkrut dalam suatu usaha kerena tidak memiliki sokongan modal pemerintah. Tuntutan keluarga dan depresi, mengakibatkan jalan pintas menyambung hidup dilakukan dengan cara-cara yang tidak halal. Termasuk dimomen-momen lebaran seperti saat ini, menjadi lahan empuk merengkuh keuntungan dengan cara-cara haram. Kita bersyukur, selama ini polisi dan pemerintah khususnya, berperan penting memberikan jaminan keamanan kepada para pemudik. Jaminan kemanan secara temporal yang biasa kita kenal dengan sebuatan “operasi ketupat” yang biasanya dilakukan satu atau dua hari menjelang lebaran. Yang menjadi soal saat ini adalah, minimalisasi kejahatan hanya dilakukan secara temporal atau jangka pendek. Menuurt hemat penulis, mestinya, penurunan angka kriminalitas dilakukan secara terprogram dan jangka panjang. Aparat pemerintah mesti mengidentifikasi titik-titik krtis suatu masyarakat yang berpotensi kriminal. Mereka diwadahi, diberdayakan, dicari titik soal mengapa berpotensi melakukan kejahatan. Idealnya, setiap masalah bisa diselesaikan. Termasuk penyakit sosial kejahatan yang marak menjelang lebaran. Tanpa kriminal Terleps dari soal memenej penyakit sosial kejahatan di atas, mestinya bagi mereka yang berpuasa, proses pembiasaan diri dari kejahatan selama sebulan penuh dengan berpuasa, bisa melacut kesadaran batin untuk memberi jeda bagi kesempatan berbuat baik. Puasa sejatinya adalah sebuah pelatihan batin bagi manusia untuk berkecenderungan pada hal-hal baik selepas bulan ramadan. Termasuk cara memenuhi kebutuhan jasad dengan jalan yang halal lagi baik. Kemenangan yang dimaksudkan dalam Al Aqur’an Al Baqarah : 183 adalah kemengan kebaikan (ketakwaan). Bukan kemenangan kemewahan, atau kemenangan pemenuhan materi lainnya. Jika kesadaran semacam ini yang terbangun, maka kita bisa berlebaran tanpa kriminal, tanpa copet, tanpa jambret dan laku jahat lainnya. **** Penulis adalah Anggota DPR-RI Fraksi PAN
|