|
Opini Derik News.com Jum’at 15 Agustus 2010 Dari Negeri Belanda Hingga Indomie Oleh : Mohammad Iclas El Qudsi, S.Si. M.Si Anggota DPR-RI Komisi XI Fraksi PAN Razia Indomie di Taiwan, memantik perhatian Menteri kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih. Meski kandungan kadar pengawet indomie telah memenuhi standar yang berlaku secara internasional, yakni kandungan bahan pengawet 250 mg per kg, Menteri Kesehatan tetap melarang memakan indomie secara berlebihan. “Kita cari jalan aman saja” demikian kata Menkes yang dilansir detik news.com, Selasa (12/10). Hal serupa juga dihimbau oleh Yayasan Konsumen Indonesia (YLKI) agar masyarakat mengurangi konsumsi Indomie secara berlebihan. Bulan oktober ibarat “bulan razia” bagi masyarakat Indonesia. Mulai dari presiden yang terancam dirazia di negeri Belanda oleh RMS, razia nelayan Indonesia di perairan kepulauan Riau, hingga razia produk makanan instan favorit masyarakat Indonesia (Indomie). Namun dibulan oktober juga, memberkahi tumbuhnya rasa nasionalisme di bailik masalah demi masalah yang kita hadapi. Makanan Politik Indomie memang makanan politik. Disaat musim kompanye pilpres 2009, produk makanan yang bernaung di bawa PT Indofood Sukses Makmur TBK ini, mengeluarkan iklan kontroversial di televisi dengan icon “SBY Presiden Ku,...”. Konon atas iklan tersebut, banyak Short Message Service (SMS) yang bertebaran, agar bagi pendukung JK-Wiranto (JK-WIN) tidak mengonsumsi Indomie. Karena produk makanan itu mendukung Capres SBY-Budiono. Tapi cerita ini sebatas selintingan yang tak jelas juntrungan dan sumbernya. Kali ini, makanan yang dimerekkan dengan nama depan “Indo” ini, menohok nasionalisme sebahagian rakyat Indonesia. Selain karena indomie menjadi makanan favorit, nama depan “Indo” pada kata Indomie, memiliki tarikan psikologis yang luar biasa bagi semangat nasionalisme. Pada hari Selasa (12/10) pukul 08:45 WIB, sebuah page dengan judul Indomie Instant Noodles, tercatat ada sekitar 45.741 pengguna Facebook yang mengklik “Like” untuk halaman ini. Razia indomie di Taiwan, telah memantik semangat nasionalisme masyarakat Indonesia. Dan politifikasi atasnya adalah, dengan mempublikasikan dukungan lewat media facebook kepada indomie. Di lain kasus, produk indomie juga dinilai sebagai makanan warisan Orde Baru (warisan Soeharto). Hal ini diperlihatkan oleh LSM Bandera dalam memperingati 1000 hari meninggalnya mantan Presiden Soeharto. Aksi peringatan 1000 hari meinggalnya Soherto itu, dibumbuhi pembakaran produk Indomie sebagai wujud penolakan terhadap Soeharto dan Idomie. Walhasil, bukan hanya kadungan zat pengawetnya yang ditolak, politisasi terhadap produk indomi pun tak terhindarkan. Nasionalisme Mungkin separuh orang bertanya, apa korelasinya indomie dengan nasionalisme? Apa pada kata “Indo” yang tergelat di depan sebelum kata “food?” Bisa ya bisa tidak. Kata Indo, pada Indomie, memiliki dua muatan makna. Pertama, untuk mengindonesiakan produk milik Sudomo Salim. Hal ini serupa dengan Indonesianisasi nama asli Sudomo Salim yakni Liem Sioe Liong. Kedua, entalah, apakah politik penamaan itu terdorong oleh semangat keindonesiaan, namun, sejak berdirinya pada tahun 1972, PT Indofood Sukses Makmur TBK sedikit banyak memberikan sumbangsi terhadap bangsa dan rakyat Indonesia. Karena sejak 38 tahun berdirinya, PT Indofood Sukses Makmur TBK menyerap tenaga kerja yang tak sedikit jumlahnya. Disinilah letak nasionalitas PT Indofood, meski memiliki sejumlah catatan hitam dimasa orde baru. Bila isu razia produk indomie di Taiwan menganggu siklus pemasaran indomie, maka hal tersebut akan menganggu stabilitas ekonomi. Pengangguran akibat PHK pun tak dapat dihindari. Lagi pula, cita rasa indomie secita rasa keberadaan Indonesia di luar negeri. Karena produk makanan instan itu identik dengan Indonesia Meski indomie dan Liem Sioe Liong memiliki jejak hubungan di masa orde baru yang tak sesedap cita rasa indomie, ponolakan pemerintah Taiwan atas indomie mesti ditelisik. Apa motifnya? Apakah murni persoalan kandungan zat pengawet, atau perang usaha? Indikasi perang usaha ini, diungkap oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Industri Pangan Indonesia Boediyanto kepada Tempo, Rabu (12/10). Larangan penjualan Indomie di Taiwan diduga berlatar belakang persaingan usaha. Uni-President yang merupakan produsen makanan terbesar di Taiwan yang terusik dengan kehadiran Indomie dan mencari celah untuk meredam laju produk pabrikan Jakarta itu. Hal inilah yang membuat Menteri Koordinator Ekonomi Hatta Rajasa berang dan akan mengajukan protes, bila razia indomie di Taiwan semata dipicu perang usaha. VIVA news, Selasa (12/10). Tanpa disadari, penolakan Indomie di Taiwan, telah memprovokasi rasa nasionalisme kita. Semua orang angkat bicara. Dari facebooker hingga menteri dan anggota DPR. Bulan oktober memang bulan penuh cita rasa nasionalisme. Mulai dari pembatalan Presiden ke Belanda demi harga diri bangsa dan nasionalisme, hingga mendukung produk indomie demi eksistensi cita rasa Indonesia. Semoga demikian. ****
|