|
Penulis Direktur Program MLC
Kishore Mahbubani mengemukakan tiga alasan untuk jawaban “bisa” atas pertanyaan “bisakah orang asia berpikir ?”. Pertama, prestasi ekonomi masyarakat asia timur yang luar biasa dalam beberapa dekade belakangan ini. Hal ini ditunjukkan oleh Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura serta Malaysia dan Thailand yang sedang mengambil ancang-ancang. Kedua, adanya perubahan cara berpikir orang asia, yaitu tidak lagi menjiplak atau mem-bebek pada barat, melainkan mencari jalan-jalan alternatif diluar jalur yang dilalui masyarakat barat. Ketiga, adanya kesadaran bahwa asia memiliki warisan filsafat, budaya dan sosial yang kaya yang bisa dijadikan sandaran dan digunakan untuk mengembangkan masyarakat modern dan berkembang (hal. 11-16). Alasan yang diajukan Mahbubani berdasar pada berbagai fakta yang muncul di kawasan asia yang mengindikasikan kebangkitan, kemajuan dan kejayaan asia di masa mendatang serta bila menoleh sejarah peradaban besar yang pernah ada dan sedang berlangsung saat ini di kawasan asia, maka perkiraan Mahbubani memiliki pondasi rujukan yang kuat. Dalam buku Bisakan Orang Asia Berpikir ? yang diterbitkan Teraju Mizan, Mahbubani tidak hanya mengemukakan jawaban “bisa” (yang diperjelas dengan tiga argumen diatas) terhadap pertanyaan “bisakan orang asia berpikir ?”, tapi juga menyampaikan jawaban “tidak” dan “mungkin”. Namun demikian, meskipun jawaban yang muncul bisa bermacam-macam, bahkan memilih selain “bisa”, tetap saja mayoritas penduduk asia akan menempatkan “bisa” sebagai jawaban tertinggi. Mengapa ?, mudah saja, sebab “bisa” mencerminkan optimisme dan keinginan untuk menyamai bahkan melampaui prestasi barat, sedangkan jawaban lainnya lebih kepada pesimisme dan terlalu mengagung-agungkan barat sebagai yang paling unggul dan brilian dalam segala hal. Bahkan untuk mereka yang sangat memuja barat sekalipun jawaban “bisa” tetap akan menjadi choice yang dominan. Barat yang dimaksud bukan hanya letak geografisnya, namun juga kemajuan dan kemampuannya, hingga menjadi negara kuat dengan dukungan ekonomi dan finansial yang hebat, dan hingga kini belum tertandingi dalam banyak hal. Meskipun pertanyaan yang dikemukakan Mahbubani sederhana, namun tersirat makna yang luas, bahkan dalam situasi dan kondisi tertentu pertanyaan tersebut bisa menyulut sentimen dan dianggap penghinaan. Dawam Rahardjo sendiri dalam pengantar buku menyebutnya sebagai pertanyaan yang provokatif. Oleh karena itu, merujuk pada kompleksitas situasi saat ini, rasanya tidak mudah memberi jawaban terhadap pertanyaan tersebut, sebab butuh studi mendalam untuk berpendapat yang tepat. Kajian-kajiannya terutama terkait dengan berbagai faktor dan aspek, seperti sejarah, sosiologi, antropologi, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Demikian pula jika pertanyaan Mahbubani diajukan kepada masyarakat Indonesia, maka dipastikan akan muncul beragam reaksi, dengan sudut pandang jawaban yang berbeda-beda pula. Namun jawaban yang muncul tetap didominasi “bisa”. Bukan karena masyarakat Indonesia sudah pandai dan cerdas, namun lebih pada semangat dan optimisme masyarakat Indonesia terhadap situasi krisis yang akan segera berakhir serta berganti dengan kondisi yang lebih baik. Tentu saja jawabannya “bisa” jika krisis menjadi pijakannya. Namun akan muncul jawaban berbeda jika tolak ukurnya berbeda pula. Perlu diingat bahwa krisis multi dimensi yang menimpa Indonesia sejak 1997 yang berujung dengan jatuhnya rezim orde baru pada mei 1998 merupakan pelajaran berharga dan penting bagi masyarakat Indonesia, betapa kehidupan politik yang disertai praktek-praktek manipulasi dan perilaku bisnis yang dilakukan dengan cara “culas” serta penuh tipu muslihat tidak akan pernah langgeng dan abadi. Akan selalu muncul perlawanan didalamnya dan serta merta luluh lantak bersama kepongahan dan kesombongannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kekuasaan orde baru saat itu kuat dan tidak ada satupun yang berani ber-taruh jika rezim orde baru dengan segala kedigdayaannya akan tumbang dengan cara yang mudah. Namun kenyataan menunjukkah bahwa orde baru telah berganti dan kini era baru menyongsong untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya, agar tidak terulang kembali. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya jika pertanyaan Mahbubani terhadap orang asia, perlu ditanyakan kepada orang Indonesia, “bisakah orang Indonesia berpikir ?”. Pertanyaan ini sekaligus untuk menguji adrenalin orang Indonesia seberapa kuat dan hebatnya dengan pertanyaan sederhana yang menginyinggung ini. Sebab sesungguhnya pertanyaan ini berupaya menemukan pertautan, pertalian dan singkronisasi antara perencanaan, kerja serta hasil yang telah dicapai oleh masyarakat Indonesia dalam membangun negaranya. Karenanya, jangan terburu-buru memberi jawaban, ada baiknya memahami apa yang dimaksud dengan berpikir. Lalu, apakah cukup kuat argumen yang diajukan untuk menjawab “bisa”, “tidak” atau “mungkin”. Jika jawaban yang dikemukakan sekena-nya, jangan-jangan orang Indonesia memang tidak bisa berpikir. Berpikir merupakan kerja otak yang memproduksi cara pandang terhadap sesuatu berdasar pada hayalan, imajinasi atau tangkapan indera terhadap obyek yang sedang disaksikan. Untuk berpikir membutuhkan aksi imajinasi atau obyek yang dilihat, tanpa itu tidak akan ada pikiran dan tentu saja tidak ada aktifitas berpikir. Jadi berpikir merupakan respon dari hayalan atau reaksi dari aktifitas yang dilakukan.
|