|
Hari kemerdekaan sudah berlalu dan sebagaimana biasanya perhelatan ini dirayakan dengan berbagai pagelaran, perlombaan, festival dan sebagainya. Nampaknya tidak ada yang baru, kecuali rutinitas yang berulang-ulang setiap bulan agustus tiba.. Mestinya agustus-an bukan sekedar ritual tahunan semata, melainkan momentum mewujudkan cita-cita founding fathers, yaitu dengan merefleksikan sejarah panjang perjalanan bangsa berikut berbagai model dan bentuk perjuangannya ke dalam wadah yang lebih aktual, konkret dan nyata. Banyak aspek dan dimensi yang harus diingat serta ditata kembali guna mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang hakiki, yaitu lepas dan bebas dari segala belenggu penjajahan baik yang berwujud aneksasi maupun protektorat. Penjajahan melalui pengendalian kebijakan oleh asing merupakan trand baru negara adidaya dalam menguasai negara-negara lemah lainnya dan ini terjadi hampir di seluruh pelosok dunia. Oleh karena itu, perjuangan mengusir penjajahan oleh para pejuang dulu, harus diikuti dengan penolakan terhadap berbagai bentuk penjajahan baru. Perlawanan ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan berwibawa serta tidak mudah terkecoh dan tergoda, yaitu kepemimpinan yang memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengarahkan bangsa Indonesia menjadi makmur, adil dan sejahtera. Pemimpin dengan kepemimpinan yang tidak bermutu, hanya akan memupus harapan rakyat untuk bersaing dengan bangsa lain. Maka tidak keliru jika penjajahan baru menyeruak ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat dengan mudah dan leluasanya. Kini saatnya untuk introspeksi diri, yaitu dengan memahami kembali makna dan arti penting dari kepemimpinan, disertai dengan upaya konstruktif guna mewujudkan kepemimpinan yang lebih baik dimasa mendatang. Kepemimpinan sering juga disebut dengan Leadership, yang berasal dari pokok kata leader atau pemimpin, yang mengandung pengertian gabungan dari dua unsur, yaitu pertama, unsur orang seorang : si-pemimpin, kedua, unsur pedoman dan cara memimpin atau pola kepemimpinan (A.Dahlan R : hal. 8). Jadi kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengatur, menata, membentuk dan menciptakan sesuatu menurut pedoman serta polanya sendiri berdasar pada naluri si pemimpin atau tata aturan yang ada, sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam kalimat lainnya kepemimpinan dapat dimaknai sebagai kemampuan menemukan cara atau solusi yang tepat guna memecahkan berbagai masalah, persoalan atau peristiwa yang terjadi dengan resiko sekecil-kecilnya guna mencapai tujuan kepemimpinan. Kesuksesan dan keberhasilan suatu kepemimpinan tergantung pada pola, metode, pendekatan atau teori yang digunakan oleh si pemimpin, yang ditunjang dengan ketajaman naluri si pemimpin. Pengetahuan seorang pemimpin terhadap berbagai teori belum menjamin kesuksesan bagi suatu kepemimpinan, sebab metode teks yang diaplikasikan dapat menjadi format yang bertolak belakang dengan kondisi atau situasi lapangan. Oleh karena itu ketajaman naluri si pemimpin mutlak diperlukan. Ketajaman ini tidak hanya diperoleh secara alami sebagai naluri bawaan sejak lahir, akan tetapi bisa juga diasah melalui pelatihan atau pengetahuan yang luas dan mendalam. Oleh karena itu menjadi pemimpin tidak semata bakat alami, namun perlu pengalaman empirik yang dirasakan langsung efeknya baik bagi si pemimpin, maupun orang yang dipimpin.Menjadi penentu dalam suatu kebijakan tidak semata dapat dilakukan oleh seorang pemimpin, namun dapat pula ditentukan oleh orang yang berada dibelakang si pemimpin (“belakang layar”), meskipun secara kasat mata kebijakan tersebut dikeluarkan secara resmi atas nama atau institusi tempat si pemimpin bekerja. Proses semacam ini dapat dijadikan sebagai pengalaman dalam upaya menjadi pemimpin yang sesungguhnya. Pada umumnya kepemimpinan selalu diidentikkan dengan posisi atau jabatan tertentu, padahal jabatan tidak menjamin seseorang menjadi pemimpin, meskipun jabatan itu sendiri dapat digunakan untuk mengukur kemampuan seorang pemimpin dalam menjalankan dan menyelesaikan persoalan pada masa menjabat. Jabatan yang dimaksud dalam kepemimpinan adalah jabatan yang dapat melakukan perubahan melalui berbagai terobosan-terobosan baru yang diciptakannya sendiri oleh seorang pejabat serta memberi keuntungan dan manfaat yang sangat berarti bagi komunitas atau lembaga yang dipimpinnya. Karenanya harus dibedakan secara jelas dan konkret antara pemimpin dan pejabat. Kepemimpinan selalu berorientasi perubahan, sebab inovasi yang dilakukan oleh seorang pemimpin dapat mendorong terbentuknya solusi baru yang lebih baik dan nyata. Meskipun demikian seorang pemimpin tidak boleh mengambil keputusan yang tergesa-gesa, sebab setiap keputusan akan dipertanggungjawabkan. Ketegasan dalam sebuah kepemimpinan diperlukan, dengan tujuan menimbulkan efek jera bagi siapapun yang tidak patuh pada pemimpin. Karakteristik ini sangat tepat pada daerah atau wilayah yang memiliki banyak masalah. Dengan ketegasan tersebut perubahan dapat segera terwujud, tentu dengan sistem yang tepat pula. Sebab ketegasan tanpa keteraturan hanya akan memunculkan anarki dan otoritarian. Seorang perwira militer yang menduduki jabatan tertentu bukanlah seorang pemimpin, melainkan seorang pejabat militer biasa, sebab yang ia lakukan tidak lebih dari rutinitas. Lain halnya dengan seorang komandan tempur, ia dapat dikategorikan sebagai pemimpin, sebab dengan kemampuannya dilapangan ia dapat mengalahkan kekuatan musuh, meskipun hal tersebut belum dapat dikatakan sebagai sesuatu yang hebat. Disamping kualitas dalam kepemimpinan, juga patut diperhatikan model rekruitmen untuk menjadi seorang pemimpin, sebab rekruitmen yang keliru dapat menghasilkan kepemimpinan yang salah
|