|
Peran Publik Ibu kaba dusanak edisi 4 Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2010, segerah mengingatkan kita akan takaran kebundaan seorang wanita yang dengan totalitas kelembutan dan kasih sayang membesut satu mata rantai generasi sejak tercipta kehidupan. Disitulah peran publik seorang Ibu. Selama ini, kita terkanal oleh frame domestifikasi peran publik seorang Ibu. Peran Ibu selalu mengalami penyempitan ruang makna. Tragis kaum ibu identik dengan fungsinya di dapur, sumur dan kasur. Galibnya peran perempuan yang terdistorsikan. Padahal, tanpa disadari, kekuatan peran kebundaan seorang Ibu turut berandil dalam kesuksesan seorang anak kelak. Banyak orang-orang sukses yang dibesarkan dengan tangan dingin seorang Ibu, setelah ditinggal mati atau cerai oleh sang ayah. Hal ini bukan berarti peran sosok ayah tak begitu penting. Namun karena dengan segala peminggiran dan distorsi pengertian atas peran seorang Ibu, maka hal-hal berkait fungsi besar seorang ibu patut diangkat kepermukaan dan menjadi telaahan yang layak disimak. Resiko kaum Ibu Tanpa kita sadari, dewasa ini peran seorang Ibu tak sebegitu penting dalam perilaku sosial masyarakat. Kita bisa melihatnya pada fakta yang berderet panjang. Ada anak yang tega membunuh ibunya hanya karena sakit hati akibat permintaanya tak dipenuhi. Ada juga anak yang tegak memperkosa Ibunya, dan berbagai penistaan terhadap sang Ibu yang tak lagi menjadi rahasia umum. Disaat yang sama pula, negara tak begitu serius memperlihatkan perhatianya terhadap nasib para Ibu. Setiap tahun resiko Ibu yang meninggal dunia saat melahirkan cukup tinggi. Dan konon hal ini menjadi alat ukur pertumbuhan kesejahteraan masyarakat Indonesia di forum Millenium Development Goal’s (MDGS) 2010. Kepala Bappenas Armida Alisjahbana menegaskan pembangunan milenium atau MDGs berpotensi gagal dicapai pada tahun 2015. Kemungkinan tidak tercapainya tujuan itu ditunjukkan oleh indikator angka kematian ibu melahirkan yang masih tinggi. Di Indonesia, khususnya di kawasan daerah-daerah terluar, resiko kematian Ibu saat melahirkan cukup tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya perluasan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Terutama Ibu hamil. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor : Pertama, kurangnya perhatian pemerintah dalam memberikan pelayanan darurat (emergency) terhadap ibu hamil atau yang hendak melahirkan. Kedua, paradigma masyarakat yang masih tercekoki dengan aspek budaya dan mistisisme tradisional. Kalau dilihat secara kasat mata, hampir rata-rata kaum ibu di pedesaan memilih melahirkan di tangan dukun ketimbang dokter. Hal ini dilakukan karena selain faktor cultural intrest, juga akibat mahalnya biaya rumah sakit dan tak tersedianya infrastruktur layanan kesehatan. Di tengah realitas yang demikian, negara yang berkonsen pada peningkatan kulaitas manusia, mestinya memulai dari gerakan penyehatan reproduksi kaum Ibu. Karena suatu generasi yang normal, sangat bergantung normalitas reproduksi kaum Ibu. Jika kita bertanya mengapa harus demikian? Tentu jawabannya adalah terganggu atau kelainan massif reproduksi seorang ibu, sangat mempengaruhi normal tidaknya anak yang dilahirkan. Dengan artian, hanya seorang ibu yang sehat-lahir batin yang dapat melahirkan anak yang sehat dan cerdas kelak. Kita bisa membayangkan, bagaimana jika seorang ibu yang tinggal di seberang pulau dengan resiko kehamilan yang cukup riskan, tapi tidak tersedia sarana pelayanan kesehatan menjelang melahirkan. Yang terbayang dibenak kita adalah resiko yang berhujung pada kematian. Dan hal semacam inilah yang menghantui sejumlah kaum Ibu yang ada di daerah-daerah terluar di republik ini. Dengan kondisi yang sedemikian mengancam, dalam pribadi seorang ibu secara personal adalah setumpuk rasa cinta pada anaknya yang tak bisa dinominalissaikannya dengan apapun. Ia rela dan ikhlas ditelan kematian disaat ia melahirkan anaknya sekalipun. Dalam berbagai hikayat diceritakan, bahwa seorang ibu disaat melahirkan, yang terfikirkan dalam benaknya adalah keselamatan anak. Hanya itu. Hal demikian terjadi karena dalam hakekatnya, seorang ibu memiliki takaran kerahiman yang lebih. Dalam teologi penciptaan, rahim sebagai tempat manusia berdiam disaat masih berbentuk janin bukan lah rahim dalam pengertian fisik an sich, tapi rahim yang dimaksudkan adalah nilai-nilai kecintaan yang transendental yang terpatri dalam batin seorang ibu. Disinilah manusia memiliki karunia kecintaan yang dijembatani oleh kemulian hati seorang Ibu. Maka tak salah lagi, dalam doktrin normatif agama disebutkan bahwa “Surga berada di bawa telapak kaki ibu”. Artinya bahwa, pada sosok ibu yang baiklah bersemayam rasa cinta, kasih dan kelembutan. Iklim surgawi inilah yang coba diskripturalisasikan agama dengan kata “surga”. Menyelami momentum Yang dapat kita selami dari makna hari ibu adalah untaian hikmah di balik kecintaan seorang Ibu. Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2010 ini, adalah momentum pelembagaan rasa cinta dan kasih sayang. Vibrasi ataupun pantulan kecintaan seorang ibu dapat memantik kesadaran berbagai pihak agar hidup dalam relasi kecintaan, saling asah, asih dan asuh. Di tengah keruhnya situasi politik, dan buramnya wajah hukum di negeri ini, keteladanan seorang Ibu patut diperlebar dalam relung kehidupan setiap elemen negeri ini. Baik politisi, ekonomi, aparat penegak hukum masyarakat civil socaety. Keteladanan, kecintaan sekaligus ketegasan seorang ibu patut juga dijiwai, bahwa negeri ini butuh sentuhan demikian. Penuh kasih dan tegas dalam soal-soal ideal dan kebenaran. Selayknya seorang Ibu yang tengah membimbing anaknya. Kekisruhan politik yang selama ini terjadi, karena raibnya sentuhan nilai-nilai kelembutan dalam berpolitik. Akibatnya konflik politik selalu dibumbuhi aksi saling gesek dan menelikung sesama. Demikian pun di ranah negara lainnya, acap kali kita menyaksikan begitu frontalnya orang saling berebut kekuasaan, tak peduli lagi sahabat dan handi –tolan semua yang menghalangi keinginan langsung terdepak dengan kasar. Begitulah realitas politik hari ini. Sepertinya, teologi kerahiman seorang ibu patut menjadi elan kesadaran berbagai realitas bangsa. Demikian hikmah hari ibu yang dapat kita petik saat ini. Semoga. []
|