Menjadi Kunang-kunang
Ditulis Oleh Mohammad Ichlas El Qudsi   
Saturday, 20 March 2010
Image"Menjadi kunang-kunang yang bersinar dimalam hari adalah ibarat menjadikan diri penuh cahaya untuk pedoman bagi yang membutuhkan...sekalipun tidak seberapa artinya bila dibandingkan cahaya yang paling terang"
(Mohammad Ichlas El Qudsi)

Sebaik-baiknya manusia, adalah yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain, mungkin pengertian ini yang dapat kita tangkap sekaligus menghikmahi hidup kita. Dari sekelumit kata-kata bijak yang terefleksi dari kemurnian batin. Jika kita bercermin pada kenyataan hidup saat ini, maka kesalingmanfaatan antara manusia yang satu dengan yang lainnya begitu sulit kita temukan dalam ruang kehidupan moderen. Jalin-jemalin hubungan saat ini, hanya berpijak pada asumsi, relasi ekonomi, relasi status kelas sosial serta hubungan simbiosis-mutalisme lainnya. Betapa hidup terkonstruksi begitu ekonomis. Hingga menyempitkan ruang persaudaraan (ukhuwah) pada kesalingmanfaatan manusia yang sangat rigid.

Kehidupan moderen saat ini, mengandaikan semua manusia seperti hubungan transaksional di pasar (hubungan pembeli dan penjual) relasi anda hanya ada bila memiliki hubungan kausal (membeli dan mengambil barang belian). Setelah itu hubungan anda terputus begitu saja hingga hubungan transaksional itu terjalin lagi. Oleh Max Weber (sosiolog), menegaskan hal ini sebagai gejala ketidak warasan manusia moderen. Hubungan masyarakat moderen, adalah hubungan yang dideterminasi oleh hubungan kausal materi, semisal
1. Hubungan karyawan-bos
2. Hubungan pembantu majikan
3. Hubungan pebisnis-relasi bisnis
4. Hubungan buruh-pemilik modal
5. Hubungan yang berkuasa-dan yang dikuasai
6. Hubungan penjual-pembeli. dan seterusnya.
7. Hubungan rakyat jelata-dan tuan tanah

Dibalik semua ketimpangan relasi manusia di atas. Saya mengajak kita untuk coba memahami hakekat "hewani" dibalik cahaya kunang-kunang. Bahwa betapa adaptasi fisiologis kunang-kunang itu menyimpan mutiara hikmah yang teramat dalam. Kunang-kunang, mampu memberikan cahaya ditenga kegelapan malam.

Meski untuk cahaya itu ia mesti melepaskan sejumlah energi dari dalam tubuhnya. Jika kita hikmahi, maka makna ini mengandaikan jika Kita manusia, mampu memberikan arti kemanfaatan bagi orang lain, meski arti kemanfatan yang kita berikan itu kecil tapi jika diberikan dengan hati yang ikhlas, maka pemberian rasa manfaat tersebut akan mampu menerangi hati dan jiwa kita.

Hubungan relasi manusia secara hakiki adalah hubungan "keibadahan" maka setiap manusia harus mampu memberikan kemuliaan kepada yang lainnya. Tanpa harus diiming-imingi dengan "imbalan atau sejenisnya. Hubungan yang berpijak pada nilai-nilai transendensi keibadahan inilah, yang mampu membuat manusia bisa tercerahkan(enlightened). Antara satu dengan lainnya.(*)